/ default

Publikasi Ilmiah
Gerakan Literasi Sekolah


Observasi alam di Gua Belanda dan Gua Jepang Taman Hutan Raya Ir.H.Djuanda (Dago Pakar)
| 492 views


Edisi; Petualangan di alam, Mencari pembelajaran yang berkarakter

  NAPAK TILAS KE  GUA PENINGGALAN PENJAJAH ROMUSHA JEPANG DAN SATELIT PERANG DUNIA II PENJAJAH BELANDA

(Gua Jepang dan Gua Belanda Di Dago Pakar)

 

           Alam yang penuh tantangan mampu mengajarkan siswa hidup nyata yang sesungguhnya dengan kegembiraan tanpa paksaan namun menghasilkan pembelajaran sikap, keterampilan untuk mencapai siswa berkarakter positif

           Kegiatan  observasi alam dengan hiking, mengunjungi Dago Pakar merupakan kegiatan rutin setiap akhir semerter Ektrakurikuler Science Club SMP Negeri 3 Padalarang Kab. Bandung Barat. Dengan personal sekitar  70  anggota ditambah 5 orang guru pembimbing kami menuju kawasan Dago Pakar dengan menggunakan kendaraan umum dari Padalarang sekitar satu jam.   Lokasi yang kami kunjungi adalah Taman Hutan Raya (Tahura) Ir.H.Juanda

          Dari parkir Tahura, semua anggota berlajan sekitar 50 meter menuju Tugu Ir.H.Juanda. suasana hutan lindung sudah mulai terasa sejuk dan dingin karena pohon yang menaungi sangat rimbun dan tinggi. Sampai di tugu yang disampingnya terdapat panggung atraksi,  Ibu Mardiah sebagai pembimbing eskul mengumpulkan semua anggota untuk istirahat sejenak. Di sekitar tugu ini, para siswa mengamati tumbuhan yang ada disekeliling dengan melihat sistimatika yang ditempel di batang pohon.  Dari pengamatan  semakin jelas kalau pohon yang sangat tinggi dan diameternya cukup besar itu, ternyata umurnya ratusan tahun dan didatangkan dari seluruh penjuru dunia seperti Meksiko dan Afrika

               Untuk mengenal lebih jauh Tahura maka kami mengunjungi Museum mini yang berada dekat tugu. Dari sini kami mendapat penjelasan mengapa Hutan lindung ini diberi nama Ir.H.Djuanda. Karena Ir.H.Juanda  adalah sang Perdana Menteri Pertama Republik Indonesia sehingga  namanya diabadikan sebagai nama Taman Hutan Raya di kawasan Dago Pakar ini. Di dalam museum ini juga terdapat  foto-fotonya dan beberapa peninggalan penghargaan dan mendali milik beliau.  

             Mengapa anggota Science Club SMP Negeri 3 Padalarang sering mengunjungi Tahura IR.H.Djuanda? Ibu Rini Wulan sebagai salah satu pembina menjelaskan bahwa Tahura merupakan daerah yang dikondisikan sebagai tempat konservasi alam yang terhampar mulai dago pakar, Lembang dan Maribaya. Disini siswa dapat belajar  langsung dengan mengamati berbagai tanaman pohon lindung yang   Kenakeragaman tumbuhan sangat bervariasi karena  didatangkan dari seluruh daerah di belahan bumi ini. Dan  tempat ini bisa dijadikan lokasi hiking yang cukup panjang dengan menyusuri trak Dago Pakar, Lembang dan maribaya  melalui jalan setapak. Selain udaranya sejuk juga pemandangan alamnya yang sangat indah.

                Dengan berjalan sekitar sepuluh menit dari museum mini, kami akan melewati dua buah gua bersejarah yaitu Gua Jepang dan Gua Belanda. Didepan gua para penyewa lampu senter sudah siap memberikan pinjaman seharga Rp.3000,- untuk penerang masuk gua  yang sempit, panjang dan banyak cabangnya sehingga masuknya pun harus berpegangan.

             Heryadi sebagai pembimbing yang mengajar  IPS,  menjelaskan   tentang bukti sejarah ini. Goa Jepang yang didirikan pada tahun 1942  dibangun oleh orang-orang Indonesia yang menjadi romusha Jepang. Goa sepanjang ± 70 meter ini difungsikan sebagai tempat perlindungan sekaligus pusat pertahanan Jepang di Bandung utara. Di dalamnya, terdapat empat buah kamar yang dulunya dipakai istirahat panglima tentara Jepang.   Sedangkan Gua Belanda dibangun pada 1941 ini dulu digunakan sebagai terowongan PLTA Bengkok. Kawasan Dago Pakar dianggap sangat menarik, karena selain kawasannya yang terlindung, tempat ini juga dekat dengan pusat Kota Bandung. Makanya, pada awal perang dunia II tahun 1941, Militer Hindia Belanda membangun stasiun radio telekomunikasi. Bangunan itu berupa jaringan goa di dalam perbukitan batu pasir . Saat perang memuncak, goa ini berfungsi sebagai pusat komunikasi rahasia tentara Belanda, sedangkan pada masa kemerdekaan dimanfaatkan sebagai gudang mesiu.

.            Setelah kami menyusuri kedua gua yang berdekatan dengan penuh kegembiran namun banyak tantangan, kami melanjutkan perjalanan dengan jogging track  berjalan kaki santai menyusuri jalan yang beralas plafing blok dan dikanan kiri ditumbuhi tanaman lindung untuk menuju air terjun, curug Omas da curug Lalay.

                Pejalanan kami sekitar 3 jam jalan santai yang diselingi istirahat. Udara yang sejuk dan pemandangan yang sangat indah  bisa menghilangkan   rasa lelah dan letih walau banyak jalan mendaki.  Kebersamaan dengan canda dan tawa membuat suasana menjadi  lebih  gembira.

            Kadang hujan turun deras melengkapi perjalanan kami. Inilah pembelajaran mental, sikap dan emosi kejiwaan yang sempurna. Alam yang penuh tantangan  telah mengajarkan siswa untuk tidak cepat mengeluh, tidak takut kotor, tidak takut basah kehujanan. Kuat dan tangguh menghadapi jalan yang naik dan turun. Alam mengajarkan siswa penuh persahabatan tanpa paksaan karena semua dilalui dengan rasa gembira dan bahagia. Alam yang penuh tantangan mengajarkan siswa arti kebersamaan, saling berbagi makanan, dan saling tolong menolong disaat ada teman yang sakit. Sehingga Alamlah sebagai guru yang profesional dan  sangat jujur mengajarkan banyak karakter.  Dan  kami pembimbing siswa    hanya sebagai fasilitator dan mediator saja, demikianlah bu Mardiah pembina eskul selama sepuluh tahun mengajak siswa untuk menyatu dengan alam.

            Ujung perjalanan hiking, berakhir dengan  jembatan yang dibawahnya mengalir ke sungai Cikapundung. Dilanjutkan    menyusuri jalan setapak sekitar lima menit sampailah di Curug Lalay dan curug Omas. Diatas curug melintang  jembatan sekitar 30 meter yang terbuat dari kayu dan berayun. Di bawahnya  ada air terjun yang cukup dalam, terjal dan lebar. Maka kami harus bergantian dan  hati-hati melewatinya karena cukup berbahaya. Di Ujung jembatan terbentang  tanah lapang cukup luas yang  sekitarnya  ditumbuhi tanaman pinus dan banyak kera yang bergelantungan. Beberapa kerapun akan menghampiri kami untuk meminta makanan.  Disinilah kami beristirahat cukup lama karena inilah akhir perjalanan kami, yaitu Maribaya.

                Di Tanah luas ini  kami bisa menikmati keindahan alam sekeliling dengan  santai sambil istirahat, makan dan duduk di atas tikar sewaan .  Di sebelah atas banyak warung  dan sebelah bawah terdapat mushala.

               Setelah rasa lelah hilang,  tibalah giliran ketua Science Club Agus Maulana dibantu Mahmud seksi acara, memimpin permainan alam outbont. Permainan kelompok ini mengajarkan kekompakan dan kebersamaan dalam suasana ceria, akrab dan gembira. Juga bisa mengeluarkan emosi dan kejiwaan  siswa untuk menemukan kepuasaan dan percaya diri yang tinggi.

             Sekitar dua jam berada di lokasi ini, kami meninggalkan Maribaya dengan melewati kolam air panas. Karena hujan cukup deras membuat dingin, maka kamipun masuk  ke kolam air air panas bersama dengan baju yang menempel di badan. Membuat semua merasa senang dan gembira sambil menghangat badan.

                  Hanya sekitar satu jam bermain air panas, kamipun pulang dengan baju basah tidak diganti berjalan menuju kendaraan yang menunggu  di tempat parkir. Perjalanan pulang  melewati pasar Lembang menuju Koperasi Susu Bandung Utara untuk membeli susu murni yang harganya sangat murah Rp. 5.000 satu liter. Youghurt yang asli, krupuk susu, permen susu. Semuanya  menjadi oleh-oleh untuk dibawa pulang.

                 Inilah perjalanan alam yang banyak memberikan pembinaan  sikap, mental dan karakter yang kuat dan  tangguh juga  membuat siswa bahagia dan menyenangkan.Hal ini terbukti dengan  Media sosial facebook akan rame dengan status yang menceritakan kepuasaan dan kebahagian perjalanan.

             Alam diciptakan oleh sang Maha untuk dinikmati bukan dibiarkan karena alam sumber belajar yang sangat sempurna untuk membentuk manusia seutuhnya.


Salam Berpetualang.

Science Club

Cinta Alam Cinta Allah

 

( April 2015. Mardiah Alkaff)

 

 

 

 

 




sumber : Mardiah Alkaff