/ default

Publikasi Ilmiah
Gerakan Literasi Sekolah


SCIENCE CLUB SMPN 3 PADALARANG HIKING NAPAK TILAS SEJARAH DANAU BANDUNG PURBA DAN FOSIL MANUSIA DI GUA PAWON KAB.BANDUNG BARAT
| 365 views


Edisi : Mencari Sumber belajar yang berkarakter

           SCIENCE CLUB SMPN 3 PADALARANG  HIKING   NAPAK TILAS  SEJARAH DANAU         BANDUNG PURBA DAN FOSIL MANUSIA   DI GUA PAWON KAB.BANDUNG BARAT

          Ektrakurikuler Science Club  SMP Negeri  3 Padalarang secara rutin dua atau tiga kali dalam satu semester melaksanakan observasi alam di tempat yang terjangkau dari lokasi sekolah. Mengunjungi situs manusia Purba yang ada di Gua Pawon Padalarang bukan hal yang baru, tapi merupakan observasi wajib bagi anggota baru eskul SC.  Selain lokasi yang dekat sekolah juga di  Gua Pawon terdapat situs manusia Purba nenek moyang orang Sunda yang hidup ribuan tahun yang lalu. , demikian menurut Mardiah sebagai pembina Eskul Science Club SMP Negeri 3 Padalarang yang sudah mengajak siswa ke alam sejak 2005.

          Hiking dan Observasi alam bagi siswa banyak sekali manfaatnya. Saat perjalanan banyak karakter siswa yang dapat terbentuk oleh alam. Sikap sabar, tidak cepat mengeluh karena panas dan hujan, kotor, jalan terjal, Jelas hal ini merupakan satu usaha untuk merubah karakter siswa. Disamping itu, sikap sosial mudah terbentuk seperti  setia kawan, toleransi, saling berbagi pasti akan terbentuk dengan sendirinya karena pengaruh tantangan dan rintangan yang ada di alam, demikian dijelaskan oleh pembina Eskul Science Club, Mardiah, S.Pd.

         Saat hiking bersama anggota yang berjumlah sekitar 100 siswa tentu memerlukan Team pembina yang kompak dan suka berpetualangan di alam. Team Guru SMP Negeri 3 Padalarang yang selalu mendampingi ke alam adalah  Bu Mardiah, Spd, bu Rini Wulan, SPd, B Nining Pudjiastuti, SPd, Heryadi Spd, Yanti Muhara, Sanny Oktaviani, dan didampingi pula oleh team pelatih di alam   yaitu Deny Rimba, dan kang Budi yang asli orang Citatah dengan memiliki keahlian panjang tebing (rock climbing).

           Saat menuju mulut gua Pawon, anggota SC  menutup hidung karena disambut dengan bau tak sedap kotoran kelelawar yang mengelilingi tengah gua yang menyerupai cerobong asap. Inilah yang menyebabkan gua purbakala yang didalamnya dtemukan fosil manusia purba disebut gua Pawon. Pawon yang dalam bahasa sunda disebut dapur.

            Gua pawon merupakan bukti sejarah kalau 6000 tahun yanga lalu disini pernah tinggal nenek moyang orang sunda yang jumlahnya diperkirakan hanya sekitar 25 sampai 30 rumah.  Mereka tinggal di lubang-lubang kecil di dalam   Gua Pawon ini, buktinya disini ditemukan tulang belulang manusia purba, perkakas yang semuanya dibuat dari batu yang saat ini sudah dipindahkan ke Museum Sri Baduga Jawa Barat dan Museum Geologi Bandung.

            Gua Pawon  memiliki 3 ruangan besar, yang ketiganya dipenuhi dengan stalagtit dan stalagmit yang terbentuk dari batuan kapur. Sejak ditemukannya fosil manusia purba oleh Tim Peneliti dari  ITB yang diketuai oleh Budi Bramantio bersama Badan Arkeologi Bandung. Demikian Guru sejarah Pak Heryadi menjelaskan kepada seluruh anggota eskul petualang sesaat sebelum semua memasuki ruang utama Gua.

             Saat ini, Gua Pawon dan sekitarnya telah dikelola oleh Pemerintah Daerah sehingga pelataran sebelum Gua telah dibangun Gazebo, saung besar yang bisa memuat 100 orang, agak ke bawah tersedia Masjid dan toilet untuk dipergunakan oleh para pengujung. Hal ini sangat berbeda dengan 5 tahun yang lalu yang belum mendapat perawatan. Disekitarnya juga telah diresmikan pembangunan Museum Gua Pawon bersama penanaman bambu hitan sebanyak 2800 pohon pada tanggal 23 Desember 2014 yang merupakan kerjasama antara PemKab Bandung Barat, dompet dhu`afa dan saung angklung Mang Ujo, salah satu penduduk yang sempat kami wawanca menjelaskan.

             Di Ruang ketiga Gua Pawon , semua aggota SC baru  bisa bernafas agak lega tanpa bau kotoran kelelawar karena atap gua sudah terbuka sehingga banyak udara segar dan juga banyak ditumbuhi pohon yang dihuni oleh puluhan kera yang bergelantungan mengikuti kami. Di tempat ini anggota SC  baru bisa duduk santai, beristirahat sambil mendengarkan penjelasan dari pembinanya.

            Bapak Heryadi menjelaskan  bahwa Jutaan tahun yang lalu Bandung merupakan dasar lautan, sedikit demi sedikit airnya menyusut maka danau Bandung terbetuk oleh letusan Gunung Tangkuban perahu kedua sekitar 6000 tahun yang lalu. Namun air danau mulai menyusut sekitar 3.000 tahun yang lalu secara perlahan-lahan akibat penetrasi di Sanghyang Tikoro Rajamandala yang menyebabkan terbentuk sungai bawah tanah yang mengalirkan air ke Sungai Citarum sampai sekarang.

           Setelah bersantai dan berfoto di ruang ketiga gua yang pemandangannya sangat menakjubkan. Ketua umum Science Club SMP Negeri 3 Angkatan ke 8,  Agus Maulana mengajak teman-temannya untuk keluar gua sambil  mengungkapkan bahwa hiking dan  Observasi alam sangat memberikan kepuasan, bisa menjalin persaudaraan dengan teman, penuh tantangan saat mendaki bukit dan sangat menyenangkan disaat hujan. Sejak  menjadi anggota Science Club kami sudah sering melakukan hiking ke berbagai tempat di Bandung Barat dan B andung Utara, seperti Gua Belanda dan Gua Jepang di Dago pakar, Maribaya, Jayagiri, Gunung Tangkuban Perahu, Sanghyang Poek, dan  Stone Garden.

             Setelah sekitar satu jam rombongan anggota Science Club berada di dalam gua,  dengan rasa puas dan kagum. Di luar gua anggota Sc bisa istirahat, shalat dan berfoto-foto. Lokasi kedua yang menjadi tujuan adalah melakukan pendakian  bukit Gunung Masigit yang cukup curam, terjal dan panjang. Akhir bukit yang dituju adalah   Stone Garden yang merupakan puncak yang dipenuhi bebatuan kapur yang cukup tinggi sehingga pemandangannya sangat indah

           Jika sudah sampai di sekolah, anggota Science Club selalu akan mengungkapkan bahwa perjalan hiking dan observasi alam sangat memberikan kepuasaan dan biasanya mereka mengajak untuk melakukan perjalan kembali ke alam. Hal ini membuktikan bahwa alam telah  memberikan kebahagiaan dan kebebasan belajar dengan penuh ekspresi karena bisa menumpahkan semua emosi yang terpendam. Apalagi observasi dan hiking ke tempat yang penuh sejarah seperti Gua Pawon ini,  jelas akan memberikan manfaat bagi penambahan wawasan, pengatahuan disamping sikap dan keterampilan. Alam telah berperan sebagai tempat yang memberikan banyak inspirasi positif dan telah membentuk berbagai pembiasaan dan karakter  bagi siswa dan bagi semua pengunjungnya

 

(Mardiah Alkaff. maret 2015)
 




sumber : Mardiah alkaff

Antalya rus escort