/ default

Publikasi Ilmiah
Gerakan Literasi Sekolah


Pemertahanan kebudayaan masyarakat adat Cireundeu melalui off record strategies
| 433 views


1. Pendahuluan

Pada hakikatnya, bahasa yang dimiliki dan digunakan oleh manusia tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk. Seandainya ada bahasa yang sudah mampu mengungkapkan sebagian besar pikiran dan perasaan lebih dari bahasa yang lain, bukan karena bahasa itu lebih baik tetapi karena pemilik dan pemakai bahasa sudah mampu menggali potensi bahasa itu lebih dari yang lain. Jadi yang lebih baik bukan bahasanya tetapi kemampuan manusianya. Dalam berkomunikasi, norma-norma itu tampak dari perilaku verbal maupun perilaku nonverbalnya. Perilaku verbal dalam fungsi imperatif misalnya, terlihat pada bagaimana penutur mengungkapkan perintah, keharusan, atau larangan melakukan sesuatu kepada mitra tutur.

Kesantunan dalam berbahasa merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan oleh setiap masyarakat saat berkomunikasi. Dalam berkomunikasi, norma-norma itu tampak dari perilaku verbal maupun perilaku nonverbalnya. Perilaku verbal dalam fungsi imperatif misalnya, terlihat pada bagaimana penutur mengungkapkan perintah, keharusan, atau larangan melakukan sesuatu kepada mitra tutur. Sedangkan perilaku nonverbal tampak dari bentuk mimik, gerak gerik tubuh, sikap atau perilaku yang mendukung pengungkapan kepribadian seseorang.

Bhineka Tunggal Ika adalah semboyan Indonesia yang artinya berbeda-beda tetapi satu jua, berangkat dari istilah tersebut Negara kita memiliki banyak bahasa, budaya dan adat. Salah satu yang akan di angkat dalam penelitian ini adalah budaya. Budaya yang memang sering menjadi pergunjingan di antara masing-masing kelompok itu menjadi hal yang menarik untuk diteliti, banyak sekali masalah yang memang terjadi di kehidupan sehari-hari mereka. Contohnya yang paling menonjol di kampung adat Cireundeu ini adalah tentang bahan pokok mereka yaitu singkong, adanya upacara di 1 suro, kemudian kebanyakan dari penduduk asli Cireundeu masih memegang kepercayaan. Berangkat dari fenomena yang penulis temukan terdapat masalah kesantunan dalam berbahasa. Berbekal ilmu yang telah penulis peroleh dari perkuliahan yang dalam hal ini merupakan perkuliahan matakuliah Pragmatik yang diampu oleh Dosen Andika Dutha Bachari penulis telah menentukan untuk meneliti tentang Kesantunan berbahasa studi kasus pada masyarakat adat Cireundeu.

 

2. Bahan dan Metode

Bahan

Data penelitian ini berupa data kebahasaan lisan yang direkam. Wujud data yang diperoleh dalam penelitian ini merupakan wujud verbal atau bentuk bahasa yang digunakan dalam peristiwa tutur kehidupan sehari hari yang ada di kampung adat Cireundeu. Data-data tersebut diperoleh dari percakapan ketika di rumah warga dan ketika berada di Bale antara objek penelitian dan Masyarakat adat Cireundeu, serta penulis sendiri yang merekam dan dilengkapi dengan catatan lapangan.

Metode

Sebagai upaya mencapai tujuan penelitian, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan menerapkan metode deskriptif. Dalam kajiannnya, metode deskriptif menjelaskan data atau objek secara natural, objektif, dan faktual (apa adanya). Metode deskriptif ini digunakan untuk menggambarkan apa adanya hasil dari pengumpulan data yang telah dilakukan oleh penulis. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer, yaitu data yang secara langsung berkaitan atau berkenaan dengan masalah yang diteliti dan secara langsung dari sumber. Dalam penelitian ini, metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode simak dan metode cakap. Metode cakap itu ketika kita menanyakan masalah yang kompleks yang ada di kampung adat Cireundeu dengan cara berdialog dan adanya tanya jawab dengan penduduk masyarakat Cireundeu, metode simak itu ketika peniliti berbicara dengan narasumber kemudian peniliti merekam perbincangan setelah itu disimak dengan teliti.

 

3. Hasil Penelitian

Langkah yang dilakukan merupakan data yang berupa rekaman ditranskripsikan ke dalam bentuk tulisan. Masalah yang terdapat dalam perbincangan adalah masalah dalam kesantunan berbahasa, peniliti mengangkat masalah tentang ancaman wajah negatif dan off record (strategi tak langsung)

Berikut beberapa transkripsi dialog Mahasiswa/i dengan para pejabat kampung adat Cireundeu :

No

Pertanyaan dan Jawaban

1.

Sampurasun. Nami sim kuring Mala kumalasari upami aya anu ti awal nga-emam singkong nuang singkong upami emam sangu teh kedah aya upacara sareng slametan namina teh bukakan? upami misalkan nya aya pernikahan campurnya upami urang cireundeu nikah sareng nu di luar cireundeu itu kan ti aalitna teh murangkalih nga-emamna teu sapotong upami nganjang ka nini anu sanes urang cireundeu kan nga emam beas kitunya sangu nah eta kumaha kitu kan upami anu khusus urang dieu mah kan kumaha kitu hukumna.?

 

Jawaban

upami sebuah pangan itu hanya beras padahal masyarakat Indonesia ti baheula ge sebenerna mah makanan pokoknya bukan beras, contoh kecil papua, madura mungkin kalau baca buku sejarah Madura terkenal dengan jagung sebenernya mah masyarakat Cireundeu bukan makanan pokoknya beras tapi jaman makin maju jaman kepemimpinan mohon maaf barangkali takut saya salah bukan mau ungkit-ungkit orangnya tapi keduniaannya pada saat itu orang indonesia takut dibilang miskin makanya dari sabang sampai merauke harus makan beras. Kebetulan Cireudeu dari dulu belum lama dari 1918 makan singkong mereka baru mengatakan salut ternyata tidak kekurangan apa-apa yang dikatakan saya tadi tentang beras singkong kenapa orang lain takut kalau tidak ada beras? Ada hal gesekan kami pernah mengalami itu tapi sudah hal yang biasa buat kami tidak ada yang harus dikomentari karena mereka ya, jadi teu kedah dikomentar tos we kedah jadi catetan ka diri masing-masing. Saya dan kang jajang yang mengalami atau murangkalih Orang disini orangnya lempeng (lurus) wae nu penting sakola beres tapi kedah sehat salah satunya itu. secara rasionilnya Bah Widi biasa makan singkong tiba-tiba ke beras perutnya kan harus adaptasi ya? kata orang tua teh istilahnya “mipit apit ngala bebeja” jadi apapun yang kita yakini kita hanya sebagai pengolah sumber kekuatan itu bukan dari kita mungkin dari sang pencipta mungkin kita harus bersyukur ilustrasinya pasti harus bersyukur. Ari syukuran itu jangan sampe ngalawahrakeun cek basa sunda mah janteun papadi kita ketemu kamu masa ngga dianggap pa baed-baed jadinya gimana. Contoh yang gampang seperti itu hukumannya antara  lebih ke hukumana batin lebih ke hubungan dalem jadi gabisa diceritakan seperti kita apa ya, yang berwujud seperti ini ditarekahan kalau bahasa yang lain mah. Jadi Bah Widi tadinya makan singkong mau pindah masa ngga pamitan dulu sama leluhur yang menciptakan singkongnya yang menciptakan singkong dan leluhur yang mencoba supaya ini singkong melestarikan jadi sumber pangan disini berarti kan boleh dikatakan ya tidak baguslah contohnya seperti itu . Misalkan kami disini deketin orang luar contoh nyatanya saya punya istri orang Jawa makannya beras ketan begitu anak lahir makannya masa saya larang. Bu jangan dikasih beras itu harus makan beras singkong apa yang terjadi pasti kenapa ? ini kan anak saya misalkan pasti seperti itu kalau tidak akan seperti itu tidak akan lahir kan nanti timbul konflik ya? Benerkan ?nah kita ke tanah sosial didukung denga hasil padi kita juga ke anak dikenalkan bahwa kamu makan jangan beras mulu makan beras singkong pun iya lebih ke apa ya pengetahuan pangan jadi kami juga tidak bisa melarang istri saya datang kesini di Cireundeu ga boleh makan beras harus makan beras singkong ngga bisa karena itu akan sakit ngga bisa dipaksakan kita bagaimana mengkonsumsi kedua-duanya disiapin contohnya saja di rumah saya ini kisah nyata bukan bohong boleh di cek jadi di rumah saya ada 2 nasi yaitu nasi singkong dan nasi putih, istri saya mau makan nasi singkong ga jadi masalah suka-suka beliau tapi saya ngga bisa mungkin ceritanya panjang yang jelas itu contoh nyatanya

 

 

 

 

 

 

4. Pembahasan

Dari data di atas dapat dianalisis bahwa dialog antara mahasiswi yang bernama Mala dengan masyarakat Cireundeu  terdapat masalah kesantunan bahasa strategi kesantunan yaitu adanya ancaman wajah negatif yang berhubungan Off-record Politeness Strategy. Pada teorinya Brown dan Levinson ( dalam buku Abdul Chaer : 2010) mengidentifikasi empat strategi kesantunan yaitu :

a. Bald-on Record Strategy (tanpa strategi)

       Dengan strategi ini penutur tidak melakukan usaha apapun untuk meminimalisir ancaman bagi muka lawan tutur atau untuk mengurangi akibat dari tindakan yang mengancam muka.

b. Positive Politeness Strategy (strategi kesantunan positif/keakraban)

     Strategi ini digunakan untuk menunjukkan keakraban kepada lawan tutur yang bukan orang dekat penutur.

c. Negative Politeness Strategy (strategi kesantunan negatif/formalitas)

       Strategi kesantunan negatif adalah tindakan yang dilakukan untuk menebus muka negatif lawan tutur dan keinginan penutur untuk terbebas dari beban dengan maksud agar tindakan dan maksudnya tidak terganggu dan tidak terkendala.

d. Off-record Politeness Strategy (strategi tidak langsung atau tersamar)

       Strategi ini direalisasikan dengan cara tersamar dan tidak menggambarkan maksud komunikatif yang jelas.

(Dalam buku Abdul Chaer : 2010) Model Kesantunan yaitu Keinginan Wajah Dan Ancaman wajah. Berasumsi sebuah ‘Wajah Manusia’ dengan 2 jenis wajah yaitu wajah positif (Positive Face) dan wajah negatif (negative face)

  1. Wajah Positif adalah seseorang yang ingin dianggap positif, perwujudannya dapat mencakup keinginan untuk dikagumi, keinginan untuk diperlakukan sebagai orang kepercayaan.
  2. Ancaman untuk Wajah Positif Adalah ketika sebuah keluhan mengenai kualitas dari kerja seseorang.
  3. Wajah Negatif adalah harapan kita untuk tidak dipaksa oleh orang lain dan ingin segala urusan kita tidak dihambat dan memiliki hak akan kebebasan.
  4. Ancaman untuk Wajah Negatif Adalah ketika adanya penghambat dalam sebuah kegiatan.

          Dalam penelitian ini terdapat sebuah ketidak sempurnaan dalam percakapan tersebut. Penutur memberikan pertanyaan yang memang gampang dicerna oleh sebagian orang yaitu mempertanyakan jika seseorang yang telah lama makan nasi singkong ingin mencoba pindah ke nasi beras, kenapa harus ada syukuran terlebih dahulu? Pertanyaan selanjutnya jika terjadi adanya pernikahan campuran, otomatis seorang anak pasti makan nasi singkong dan nasi beras, apakah ada hukumnya jika ada hal seperti itu?. Penutur hanya sekedar menanyakan seperti itu tetapi mitra tutur menanggapinya dengan jawaban yang panjang lebar dan tidak ada titik jawaban seutuhnya yang dibutuhkan oleh penutur. Wajah merupakan wujud pribadi seseorang dalam masyarakat. Jika seseorang penutur menyatakan sesuatu yang mengandung suatu ancaman terhadap harapan-harapan individu lain berkenaan dengan nama baiknya sendiri, pernyataan ini dideskripsikan sebagai tindak ancaman wajah (Yule, 2006:104). Dalam percakapan di atas terdapat ancaman wajah negatif pada mitra tutur karena mitra tutur terlebih dahulu menjelaskan asal usul beras di Indonesia kemudian masalah kepemimpinan dan perbedaan makanan nasi singkong dan nasi beras itu.

          Kondisi ini sangat tidak relevan dengan apa yang ditanyakan oleh penutur dan maksud penutur seolah-olah tidak tersampaikan padahal mitra tutur mengetahui jawabannya namun tidak dijawab secara utuh. Alhasil ancaman wajah negatifnya muncul dengan memberikan jawaban "Saya dan Kang Jajang yang mengalami atau murangkalih orang disini orangnya lempeng (lurus) wae nu penting sakola beres tapi kedah sehat salah satunya itu”. Peneliti kerap sekali menemukan hal yang seperti ini namun ini adalah salah satu ancaman wajah negatif mitra tutur menjelaskan masalah pendidikan yang memang tidak ada hambatan ketika seseorang atau khususnya orang Cireundeu memakan singkong dan juga membandingkan orang yang makan singkong dan makan nasi selain itu strata Pendidikannya bisa diuji karena di kampung adat tersebut atau sesepuh yang ada  disana telah memiliki gelar sarjana matematika. Selain mengunggulkan makanan singkong peniliti meraba perkataan yang dilontarkan oleh mitra tutur bahwa mitra tutur tidak ingin dipaksa oleh penutur dan menurut mitara tutur mereka memiliki hak akan kebebasan dan akhirnya menjelaskan terlebih dahulu keunggulan singkong yang ada di Cireundeu tersebut.

          Dalam setiap tindak tutur selalu memiliki banyak ekspresi tuturan. Teori Brown and Levinson (dalam buku Abdul Chaer, 2010) menyarankan beberapa superstrategies bagi pengguna bahasa untuk bisa berkomunikasi dengan cara yang sopan (Yule, 2006). Selain ancaman wajah negatif yang ditemukan oleh peneliti. Off record menjadi alasan pilihan ke dua mengangakat masalah kesantunan bahasa.

  • Tidak ada yang harus dikomentari karena mereka ya. Jadi teu kedah dikomentar tos we kedah jadi catetan ka diri masing-masing.
  • Jadi gabisa diceritakan seperti kita apa ya
  • Saya ngga bisa mungkin ceritanya panjang yang jelas itu contoh nyatanya

Seseorang sering menggunakan ungkapan tak langsung ketika berkomunikasi dengan bahasa. Ungkapan tak langsung tersebut sering dipilih seseorang karena dia hendak mengupayakan solidaritas atau kesantunan. Berdasarkan temuan dari setiap pembicaraan mitra tutur memang benar penduduk asli Cireundeu sangat berhati-hati dalam berbicara, mungkin faktor yang membuat mereka tidak menjelaskan secara rinci itu karena ada beberapa alasan yaitu penduduk kampung adat Cireundeu masih memegang kepercayaan pada jaman dahulu yang memang hingga sekarang masih di “mumule” oleh penduduk disana masalah bahan pokok itu bukan nasi beras tapi nasi singkong, disini uniknya adat Cireundeu itu ketika penutur menanyakan hal yang lebih dalam mengenai sejarah nasi singkong mitra tutur mengalihkan pertanyaannya dengan berbagai jawaban yang tidak langsung pada inti dari pertanyaan tersebut. Mengalihkan pembicaraan tepatnya dengan cara menceritakan dahulu sejarah nasi singkong, kemudian memberikan beberapa pepatah “mipit apit ngala bebeja” apapun yang kita yakini yang memberikan sumber kekuatan itu hanya sang pencipta. kemudian tuturan seperti ini “jadi teu kedah dikomentar tos we kedah jadi catetan ka diri masing-masing” memberikan satu sentuhan bahwa memang mitra tutur, bagi masyarakat disana sangat riskan ketika menjelaskan asal muasal nasi singkong, kepercayaan, upacara adat, pernikahan campuran dan masih banyak lagi. Cukup mereka saja yang mengetahui seluk beluk kampung adat Cireundeu .Kita sebagi pendatang hanya dibekali ilmu yang singkat saja. Sangat erat kaitannya bahwa kampung adat Cireundeu ini mempertahankan budayanya dengan kesantunan berbahasa.

5. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian di atas Kesantunan dalam berbahasa sangatlah penting dalam hal berdialog dalam kondisi dan situasi apapun. Masyarakat penutur Bahasa Indonesia adalah masyarakat yang sangat berbhineka dilihat dari berbagai aspeknya. Kebhinekaan itu, misalnya, dapat ditemukan dalam keragaman bahasa yang dipakai dalam komunikasi sehari-hari. Keragaman realisasi pertuturan menolak dan implikasi kesantunannya seperti yang ditunjukkan oleh para responden ternyata sangat dipengaruhi oleh persepsi mereka terhadap pola dan nilai kesantunan budaya mereka. Ada responden yang menilai hal itu sebagai salah satu strategi dan merupakan wujud kesantunan Akan tetapi, bagaimanapun, keragaman seperti itu semakin mengentalkan keyakinan kita bahwa di antara sifat-sifat ke-universalan strategi kesantunan dalam bertutur kata tersimpan keunikan-keunikan. Sebuah transaksi komunikasi akan dinyatakan berhasil (dalam hal ini “santun”) manakala para penutur memahami benar keunikan-keunikan itu.

 




sumber : Sherly Prilideniya P

Antalya rus escort