/ default

Publikasi Ilmiah
Gerakan Literasi Sekolah


PELESTARIAN DAN PEMANFAATAN TUMBUHAN BUAH LANGKA (KAWISTA/ Limonia acidissima) DI DAERAH LINGKUNGAN PESISIR PANTAI UTARA KARAWANG
| 3009 views


 BAB I

PENDAHULUAN

 

Latar Belakang

Keanekaragaman jenis hewan dan tumbuhan memiliki variasi hewan dan tumbuhan yang terdiri dari ribuan jenis anggotanya. Ekosistem yang sehat pada dasarnya bersifat stabil. Ekosistem tersebut mendukung kehidupan berbagai jenis tumbuhan (produsen), herbivora dan karnivora. Dengan demikian terdapat banyak lintasan alur materi dan energi. Apabila satu jenis tumbuhan (produsen) dalam ekosistem tersebut hilang, masih ada tumbuhan lain. Sebaliknya, ekosistem yang hanya dihuni beberapa jenis makhluk hidup bersifat kurang stabil.

Apabila satu atau dua jenis makhluk hidup punah, maka tidak akan terjadi lintasan alternatif untuk aliran materi dan energi. Jika terjadi perubahan lingkungan yang drastis, seluruh makhluk hidup tidak akan mampu bertahan hidup. Artinya, keanekaragaman makhluk hidup dapat mempertahankan kelestarian ekosistem.

Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya akan jenis-jenis hewan dan tumbuhan. Kekayaan ini tidak ternilai harganya. Jenis hewan dan tumbuhan terus berkembang biak. Hal ini menyebabkan tumbuhan dan hewan dapat dijadikan sebagai sumber daya alam yang potensial.

Berbagai jenis hewan dan tumbuhan tersebut dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan. Bagian-bagian tumbuhan dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan, obat-obatan, hiasan dan bahan bangunan. Hewan pun dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan, dimanfaatkan tenaganya dan diambil bagian-bagian tubuhnya sebagai bahan obat.

Begitu banyak manfaat yang didapatkan dari kekayaan hewan dan tumbuhan. Akan tetapi, karena pemanfaatannya yang kurang bijaksana dapat menyebabkan berkurangnya keanekaragaman makhluk hidup. Oleh karena itu, perlu adanya upaya-upaya pelestarian agar makhluk hidup tidak mengalami kepunahan.

Daerah pesisir pantai utara Karawang memiliki potensi tumbuhan sangat spesifik. Karawang sebagai kabupaten yang terkenal dengan sektor pertaniannya yaitu produksi padi. Setelah dilakukan survey dan berdasarkan hasil wawancara dengan ahli dibidang pertanian dan perkebunan kabupaten Karawang diperoleh fakta bahwa kabupaten Karawang memiliki potensi lingkungan daerah pesisir pantai yang dapat memberikan keanekaragaman jenis tumbuhan. Salah satu tumbuhan tersebut adalah tumbuhan kawista (Limonia acidissima). Tetapi tumbuhan ini termasuk dalam kategori langka. Berdasarkan struktur anatomi buah kawista (Limonia acidissima), sebagai hasil responnya/ adaptasi terhadap keadaan lingkungan dapat menyebabkan kepunahan bagi tanaman tersebut. Buah kawista (Limonia acidissima) memiliki biji yang sangat kecil. Bila buah dikonsumsi, maka artinya biji buah kawista (Limonia acidissima) akan habis termakan. Biji buah kawista (Limonia acidissima) sebagai sumber individu baru dikonsumsi sepenuhnya oleh manusia. Dan upaya untuk melestarikan kawista (Limonia acidissima) dengan cara semai biji tidak dapat dilakukan.

Upaya yang perlu dilakukan adalah melestarikan dan memanfaatkan tumbuhan kawista (Limonia acidissima)  tersebut agar dapat lestari. Upaya nyata yang dapat diimplementasikan dibidang pendidikan adalah dengan program Pendidikan Lingkungan Hidup yang secara nyata belum dilaksanakan sepenuhnya di sekolah-sekolah khususnya di beberapa satuan pendidikan tingkat SMP. Pendidikan lingkungan hanya terintegrasi dalam kurikulum mata pelajaran IPA dan Geografi. Padahal secara nasional, pemerintah telah memberi keleluasaan untuk menyusun kurikulum berbasis potensi lokalnya masing-masing. Dengan ditentukannya program pendidikan lingkungan untuk setiap provinsi yang berbeda. Dan ini belum dimanfaatkan sepenuhnya.

Kurikulum dan silabus yang disusun pemerintah merupakan standar minimal yang harus disampaikan kepada siswa-siswa. Sedangkan untuk pengembangan proses pembelajarannya, diserahkah kepada masing-masing pelaksana disesuaikan dengan potensi, daya dukung dan intake siswa yang terdapat di tingkat satuan pendidikan tersebut. Makalah ini memberikan alternatif rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) Pendidikan Lingkungan ditingkat satuan pendidikan SMP berdasarkan fenomena yang terdapat pada kelangkaan tumbuhan kawista (Limonia acidissima) di daerah kabupaten Karawang.

Satu Standar Kompetensi  (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) dalam silabus Pendidikan Lingkungan untuk tingkat satuan pendidikan SMP adalah SK 3. Membiasakan diri dalam pelestarian dan pemanfaatan sumber daya alam dan pada Kompetensi Dasar 3.3 Melakukan upaya pelestarian tumbuh-tumbuhan langka di lingkungan sekitar sesuai untuk dijadikan dasar penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran terkait fenomena kelangkaan pada tumbuhan kawista di daerah kabupaten Karawang.

 

Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penulisan makalah ini adalah bagaimanakah rencana pelaksanaan pembelajaran pendidikan lingkungan di tingkat satuan pendidikan SMP kelas VII semester 1 berdasarkan fenomena  yang terdapat pada kelangkaan tumbuhan kawista di daerah kabupaten Karawang?

 

Tujuan

Tujuan penulisan penyusunan makalah ini adalah untuk mengetahui rencana pelaksanaan pembelajaran pendidikan lingkungan di tingkat satuan pendidikan SMP kelas VII semester 1 berdasarkan fenomenayang terdapat pada kelangkaan tumbuhan kawista di daerah kabupaten Karawang.

 

Definisi Operasional

Definisi operasional pada makalah ini adalah sebagai berikut:

  1. Pelestarian adalah upaya yang dilakukan dalam RPP untuk melestarikan tumbuhan buah kawista di lingkungan daerah pesisir pantai utara Karawang
  2. Pemanfaatan adalah upaya yang dilakukan dalam RPP memanfaatkan bagian-bagian tumbuhan buah kawista untuk memenuhi kebutuhan hidup
  3. Tumbuhan Buah Langka adalah tumbuhan yang termasuk dalam kategori langka berdasarkan tingkat kelangkaan tumbuhan menurut Komite Pelestarian Plasma Nutfah Badan Penelitian, yaitu : punah, genting, rawan, jarang dan terkikis.
  4. Pesisir Pantai Utara Karawang adalah letak geografis termasuk daerah dataran yang relatif rendah. Ketinggian yang relatif rendah (25m dpl) terletak  pada bagian utara mencakup kecamatan Pakisjaya, Batujaya, Tirtajaya, Pedes, Rengasdengklok, Kutawaluya, Tempuran, Cilamaya dan Rawamerta, Telagasari, Lemahabang, Jatisari, Klari, Karawang dan Tirtamulya. Dataran rendah yang sebagian berupa pasir.

 

 

BAB II

 

KAJIAN TEORI DAN PENERAPAN FENOMENA KELANGKAAN TUMBUHAN KAWISTA DALAM RPP PENDIDIKAN LINGKUNGAN DI SMP

 

  1. Sumber Daya Alam

Alam menyimpan kekayaan tumbuhan dan hewan yang beraneka ragam. Lingkungan alam yang beraneka ragam tersebut juga memiliki keserasian dan keseimbangan. Oleh karena itu, alam memerlukan perlindungan dan pengawetan secara terus-menerus tidak henti, sehingga keserasian dan keseimbangan dapat dipertahankan untuk waktu yang tidak terbatas.

Sumber daya alam (SDA) ialah semua benda di bumi, baik benda hidup maupun benda tidak hidup yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan manusia dan kesejahteraan manusia. Contohnya adalah tumbuhan, hewan, udara, air, tanah, bahan tambang, angin, dan cahaya matahari (Rudi Hartono, 2009: 18).

Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya akan jenis-jenis hewan dan tumbuhan. Kekayaan ini tidak ternilai harganya. Jenis hewan dan tumbuhan terus berkembang biak. Hal ini menyebabkan tumbuhan dan hewan dapat dijadikan sebagai sumber daya alam yang potensial.

Berbagai jenis hewan dan tumbuhan tersebut dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan. Bagian-bagian tumbuhan dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan, obat-obatan, hiasan dan bahan bangunan. Hewan pun dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan, dimanfaatkan tenaganya dan diambil bagian-bagian tubuhnya sebagai bahan obat.

Begitu banyak manfaat yang didapatkan dari kekayaan hewan dan tumbuhan. Akan tetapi, karena pemanfaatannya yang kurang bijaksana dapat menyebabkan berkurangnya keanekaragaman makhluk hidup. Oleh karena itu, perlu adanya upaya-upaya pelestarian agar makhluk hidup tidak mengalami kepunahan.

Penyebab berkurangnya keanekaragaman makhluk hidup termasuk tumbuhan buah kawista (Limonia acidissima) dari kasus yang dikemukakan pada pendahuluan telah diketahui. Atau karena kasus-kasus yang terjadi di beberapa daerah telah diketahui pula. Adalah sangat memprihatinkan bila melihat kondisi alam beserta flora dan fauna yang ada di Indonesia. Mereka terancam keberadaannya karena lingkungan yang sudah tidak sesuai dengan kehidupannya, misalnya. Punah atau terancam punahnya merupakan kategori kelangkaan tertinggi menurut Komite Pelestarian Plasma Nutfah. Punah yaitu telah musnah sama sekali dari muka bumi. (Sri Lestari, 2006: 127). Kepunahan yang umum terjadi di Indonesia disebabkan oleh bencana alam dan perbuatan manusia.

Tingkat kelangkaan tumbuhan menurut Komite Pelestarian Plasma Nutfah Badan Penelitian menetapkan 5 (lima) macam tingkat kelangkaan tumbuhan sebagai berikut:

  1. Punah: telah musnah sama sekali dari bumi
  2. Genting: terancam punah jika tanpa perlindungan
  3. Rawan: kurang terancam punah walau jumlahnya yang sedikit dan eksploitasinya terus berjalan
  4. Jarang: jenis dan populasinya besar, daerah penyebaran luas tetapi jarang dijumpai.
  5. Terkikis: jenis yang mengalami proses pelangkaan, tetapi informasinya belum mencukupi.

Tumbuhan kawista dalam tingkat kelangkaan termasuk dalam kategori “terkikis” yaitu jenis tumbuhan yang mengalami proses pelangkaan, tetapi informasinya belum mencukupi.

 

Kebijakan Pemerintah dalam Pengendalian Sumber Daya Alam

Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 antara lain menggariskan agar Pemerintah Negara Republik Indonesia melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan untuk melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Selain itu pasal 33 ayat (3) Undang-undang Dasar 1945 menggariskan bahwa Bumi dan air dan kekayaan yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Salah satu asas penting dalam pemanfaatan kekayaan alam dalam pembangunan Indonesia adalah pengutamaan pengelolaan sumberdaya alam yang dapat diperbarui.

Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia No. II/MPR/1993 tentang GBHN khususnya tentang lingkungan hidup umumnya dan keanekaragaman hayati pada khusunya antara lain menegaskan sebagai berikut:

  1. Pembangunan lingkungan hidup yang merupakan bagian penting dari ekosistem yang berfungsi sebagai penyangga kehidupan seluruh makhluk hidup di muka bumi diarahkan pada terwujudnya kelestarian fungsi lingkungan hidup dalam keseimbangan dan keserasian yang dinamis dengan perkembangan kependudukan agar dapat menjamin pembangunan nasional yang berkelanjutan. Pembangunan lingkungan hidup bertujuan meningkatkan mutu, memanfaatkan sumber daya alam secara berkelanjutan, merehabilitasi kerusakan lingkungan, mengendalikan pencemaran, dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup.
  2. Sumber daya alam di darat, di laut maupun di udara dikelola dan dimanfaatkan dengan memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup agar dapat mengembangkan daya dukung dan daya tampung lingkungan yang memadai untuk memberikan manfaat bagi besarnya kemakmuran rakyat, baik bagi generasi masa kini maupun bagi generasi masa depan.
  3. Konservasi kawasan hutan nasional termasuk flora dan faunanya serta keunikan alam terus ditingkatkan untuk melindungi keanekaragaman plasma nutfah, jenis spesies, dan ekosistem.
  4. Kerjasama regional dan internasional mengenai pemeliharaan dan perlindungan lingkungan hidup dan peran serta dalam pengembangan kebijaksanaan internasional serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tentang lingkungan perlu terus ditingkatkan bagi kepentingan pembangunan berkelanjutan.

Selain itu Indonesia telah memiliki peraturan perundang-undangan yang berkaitan dan mendukung upaya pengelolaan kekayaan hayati dan lingkungan. Adapun peraturan perundang-undangan yang berlaku antara lain: Undang-Undang No 5 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kehutanan, Undang-Undang No 9 Tahun 1985 tentang Perikanan dan Undang-Undang No 23 Tahun 1997 tentang pengelolaan Lingkungan Hidup.

 

Analisis Kompetensi Dasar Pendidikan Lingkungan terkait Fenomena Kelangkaan Tumbuhan Kawista

Fenomena kelangkaan tumbuhan buah kawista untuk materi pendidikan lingkungan hidup di SMP sangat nyata dan dekat dengan kehidupan siswa di daerah pesisir pantai utara Karawang. Sehingga fenomena ini sangat kontekstual untuk disampaikan kepada siswa SMP. Artinya siswa SMP dapat dengan mudah menemukan fenomena ini.

Fenomena kelangkaan tumbuhan kawista di daerah pesisir pantai utara Karawang, bila akan dijadikan sumber belajar siswa pada KTSP Pendidikan Lingkungan terdapat dalam Kompetensi Dasar (KD) 3.3 yang berbunyi Melakukan upaya pelestarian tumbuh-tumbuhan langka di lingkungan sekitar. Pada KD tersebut siswa dilatihkan untuk melakukan upaya pelestarian tumbuh-tumbuhan langka di lingkungan sekitar. Analisis terhadap kompetensi dasar dapat dilakukan dengan mengacu pada jenis pengetahuan yang tersirat dalam KD 3.3 tersebut.

Secara umum terdapat empat (4) dimensi jenis pengetahuan, antara lain jenis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural dan metakognitif. Pengetahuan faktual adalah pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri tersendiri, dan memberi sedikit informasi. Pengetahuan konseptual pengetahuan yang lebih rumit dalam bentuk pengetahuan yang tersusun, meliputi pengetahuan mengklasifikasikan kategori, struktur dan prinsip-prinsip. Pengetahuan prosedural adalah pengetahuan bagaimana melakukan sesuatu, meliputi pengetahuan keterampilan dan metode-metode. Dan pengetahuan metakognitif adalah pengetahuan tentang strategi.

Dalam KD 3.3 yaitu Melakukan upaya pelestarian tumbuh-tumbuhan langka di lingkungan sekitar termasuk ke dalam dimensi jenis pengetahuan faktual, konseptual dan prosedural. Kemampuan melakukan upaya pelestarian dalam taksonomi Bloom termasuk dalam dimensi proses kognitif C3 (menerapkan). Artinya kemampuan minimal yang harus dimiliki sebelum melakukan upaya pelestarian tumbuhan tersebut, diharapkan siswa telah memiliki kemampuan kogitif C1 sampai C2  (kemudian melakukan tindakan inovasi dan kreatif juga inovatif untuk melakukan upaya pelestarian tumbuhan langka tersebut berdasarkan pemahamannya terhadap mengapa upaya pelestarian itu dilakukan. Berdasarkan usia pada siswa SMP yang mengarah pada operasional formal maka guru dapat merancang pembelajaran yang sesuai perkembangan kognitifnya. Menurut Piaget (Dahar, 1996: 152), usia siswa SMP termasuk ke dalam tahapan perkembangan kognitif operasional formal. Pada tahapan perkembangan kognitif operasional formal artinya siswa pada usia SMP tidak perlu berpikir dengan pertolongan benda-benda atau peristiwa konkret, karena siswa usia SMP telah memiliki kemampuan berpikir yang abstrak.

Menurut Flavel dalam (Dahar, 1996: 155) tipe berpikir operasional formal memiliki ciri-ciri :

  1. Hipotestis-deduktif:  siswa dapat merumuskan setiap hipotesis dalam menanggapi masalah dan mencek data terhadap setiap hipotesis untuk membuat keputusan yang layak, tetapi belum mempunyai kemampuan untuk menerima atau menolak hipotesis.
  2. Berpikir proposisional: siswa dapat menangani pernyataan-pernyataan atau proposisi-proposisi yang memberikan data konkret
  3. Berpikir kombinatorial: berpikir meliputi semua kombinasi benda, gagasan atau proposisi-proposisi yang dapat membantu membuat kesimpulan. membutuhkan alat benda

Dengan kemampuan perkembangan operasional formal tersebut, maka untuk membelajarkan siswa agar dapat melakukan upaya pelestarian tumbuhan langka di lingkungan sekitar diperlukan rancangan pembelajaran. Rancangan pembelajaran yang disusun dapat mengarahkan siswa berinteraksi dengan pengalaman belajar. Dan dengan didukung oleh model pembelajaran yang untuk mengkontruksi kognitif siswa melakukan upaya pelestarian tumbuhan kawista tersebut.

 

Inovasi Pembelajaran untuk Kompetensi Dasar Pendidikan Lingkungan terkait Fenomena Kelangkaan Tumbuhan Kawista

Berdasarkan hasil analisis KD yang mangacu pada jenis pengetahuan dan kemampuan minimal yang telah dijelaskan pada pararaf sebelumnya, guru dapat merancang pembelajaran pendidikan lingkungan yang akan dilakukan. Sehingga pertanyaan model pembelajaran apa yang pas untuk KD 3.3 ini dapat terjawab. Sedangkan tujuan pembelajarannya adalah siswa dapat melakukan upaya pelestarian tumbuh-tumbuhan langka pada kerja proyek menanam tumbuhan kawista di lingkungan sekitar melalui laporan hasil kerja proyek. Indikator yang akan dicapai, meliputi siswa dapat:

  1. Mengidentifikasi ciri- ciri  tumbuh-tumbuhan langka di lingkungan sekitar
  2. Membedakan tanaman langka dengan tanamanan tidak langka  di lingkungan sekitar
  3. Menyebutkan nama-nama tanaman langka yanga ada di lingkungan  sekitar
  4. Menanam tumbuhan langka yang ada di lingkungan sekitar
  5. Memelihara tanaman langka yang ada di lingkungan sekitar

Dalam tujuan pembelajaran dan indikator terdapat faktor ABCD (Audiens, Behaviour, Condition dan Degree). Pendengar  (Audiens)  yaitu subyek belajar adalah siswa, Perilaku yang diukur (Behaviour) yaitu kemampuan melakukan upaya pelestarian tumbuh-tumbuhan langka dan dalam kondisi (Condition) kemampuan tersebut diukur yaitu kondisi kerja proyek menanam tumbuhan langka dengan berbagai cara semai, okulasi (budding dan grafting) dan prestasi (Degree) yaitu hal yang akan diukur melalui laporan hasil kerja proyek.

Pendekatan yang dilakukan oleh guru adalah student center dan kontekstual. Student center karena dari kompetensi dasar tersirat, siswa harus terjun langsung kerja proyek menanam tumbuhan langka dengan berbagai cara semai, okulasi (budding dan grafting). Sedangkan kontekstual menunjukan bahwa fenomena yang akan diamati tersebut dekat dengan kehidupan siswa tetapi terabaikan untuk diamati dan dipelajari. Artinya kegiatan pembelajaran dirancang untuk mendukung keberhasilan kerja proyek tersebut. Pengalaman belajarnya, meliputi:

  1. Mengidentifikasi ciri-ciri  tumbuh-tumbuhan langka (kawista)
  2. Mendeskripsikan tanaman langka (kawista)
  3. Melakukan praktek penanaman  tumbuhan langka (kawista)
  4. Melakukan pemeliharaan tanaman langka (kawista)

Strategi pembelajaran yang digunakan adalah inkuiri terbimbing, yaitu pembelajaran yang mengarahkan siswa untuk dapat melakukan upaya pelestarian tumbuhan langka melalui kerja proyek menanam tumbuhan kawista. Pembelajaran berbasis strategi inkuiri dapat menciptakan suasana belajar yang menuntut siswa menemukan pengetahuan dengan pemahaman mereka sendiri dengan bermodalkan rasa ingin tahu. Dengan pembelajaran inkuiri siswa dituntut untuk menemukan jawaban-jawaban yang ilmiah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari rasa ingin tahu mereka. Model pembelajaran yang dipilih adalah modifikasi antara cooperative learning (pembelajaran secara berkelompok) berbasis kontektual karena jenis pengetahuan yang tersirat dalam KD adalah jenis pengetahuan faktual, konseptual dan prosedural. Kajian model contextual teaching learning sebagai berikut: Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan suatu konsepsi yang membantu guru mengaitkan konten mata pelajaran dengan situasi dunia nyata dan memotivasi siswa membuat hubungan antara pengetahuan dan penerapannya dalam kehidupan mereka.

CTL menekankan pada berpikir tingkat tinggi, transfer pengetahuan lintas akademik, dan pengumpulan, penganalisisan, pensintesisan informasi dan data dari berbagai sumber. Pembelajaran kontekstual merupakan pembelajaran yang terkait erat dengan pengalaman nyata. Pada pembelajaran kontekstual, peserta didik benar-benar diawali dengan pengetahuan, pengalaman, dan konteks keseharian yang mereka miliki yang dikaitkan dengan konsep mata pelajaran yang dipelajari di kelas, dan selanjutnya diimplementasikan dalam kehidupan keseharian mereka.

CTL adalah sebuah sistem yang menyeluruh. CTL terdiri dari bagian yang saling terhubung. Jika bagian-bagian ini terjalin satu sama lain, maka akan dihasilkan pengaruh yang melebihi hasil yang diberikan bagian-bagiannya secara terpisah. Tujuan utama CTL adalah membantu para siswa dengan cara yang tepat untuk mengaitkan makna pada pelajaran-pelajaran akademik mereka. Ketika para siswa menemukan makna di dalam pelajaran mereka, mereka akan belajar dan ingat apa yang mereka pelajari. CTL membuat siswa mampu menghubungkan isi dari subjek-subjek akademik dengan konteks kehidupan keseharian mereka untuk menemukan makna.

Landasan filosofis CTL adalah konstruktivisme yaitu filosofi belajar yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekadar menghafal, tetapi merekonstruksikan atau membangun pengetahuan dan keterampilan baru melalui fakta-fakta atau proposisi yang mereka alami dalam kehidupannya. Pendekatan ini selaras dengan konsep kurikulum berbasis kompetensi yang diberlakukan saat ini dan secara operasional tertuang pada KTSP. Kehadiran kurikulum berbasis kompetensi juga dilandasi oleh pemikiran bahwa berbagai kompetensi akan terbangun secara mantap dan maksimal apabila pembelajaran dilakukan secara kontekstual.

Dan model project based learning (PjBL). Mengapa PjBL karena diawali dari permasalahan yang muncul berdasarkan fenomena kelangkaan tumbuhan kawista di lingkungan daerah pesisir pantai utara Karawang dan karena pola konsumsi biji buah yang mudah dikonsumsi sehingga mempercepat proses kelangkaan tumbuhan kawista itu. Dengan mengangkat fenomena kelangkaan tumbuhan kawista dalam pendidikan lingkungan, diharapkan tumbuhan kawista tetap lestari. Artinya terdapat produk individu tumbuhan kawista dari kerja proyek tersebut dengan variasi gen yang lebih menguntungkan. Sedangkan sintaks PjBL meliputi:

1. Pembelajaran diawali dengan pertanyaan yang krusial (start with the essencial crucial question),

2. Perancangan rencana pembelajaran proyek (design a plan for the project)

3. Penentuan jadwal (create schedulle)

4. Proses memonitor kegiatan proses melaksanakan dan ketercapaian proyek yang dilakukan oleh siswa (monitor the student on the progress of the project)

5. Mengases hasil dan evaluasi pengalaman yang telah diperoleh oleh siswa (assest the outcome dan evaluate the experience). Sumber: kuliah Pengajaran Biologi.

Pemilihan PjBL didasari oleh sebagai berikut: Project Based Learning (PjBL) adalah salah satu model dalam pembelajaran. PjBL juga dikenal sebagai pembelajaran berbasis proyek dan Project Based Instruction (PBI). Model ini merupakan salah satu pengembangan teori belajar konstruktivisme yang mengemukakan bahwa manusia sebagai manusia pembelajar harus membangun pengetahuannya sendiri. Siswa masuk ke dalam kelas dianggap tidak dalam keadaan kosong, melainkan sudah membawa pengetahuan yang diperoleh dan dibangun secara tidak formal dari segala hal yang terjadi di sekitarnya. Pembelajaran sains menekankan pemberian pengalaman secara langsung melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah. Pembelajaran pendidikan lingkungan juga harus menghasilkan produk yang meliputi fakta, konsep, prinsip, dan prosedur. Metode investigasi yang merupakan ciri khusus pembelajaran yang memberikan solusi pembelajaran melalui inkuiri dan dapat memberikan kontribusi kepada pengembangan kemampuan menganalisis dan berpikir kritis. Pendidikan lingkungan sebagai salah satu ilmu hendaknya dipelajari secara menyeluruh untuk mempersiapkan struktur pengembangan kemampuan berpikir, tingkah laku dan individu yang mandiri serta menciptakan suatu pembelajaran seumur hidup.

PjBL merupakan model pembelajaran yang menekankan pada pengajaran yang berpusat pada siswa dengan memberikan penugasan, memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerja membentuk pengetahuannya sendiri pada situasi nyata, dan menghasilkan produk (Project-Based Learning, 2012). Keberagaman definisi PjBL dihubungkan dengan tidak adanya model dan teori yang diterima secara universal yang muncul dalam berbagai variasi penelitian PjBL dan pengembangannya (Thomas, 2000). Hal yang lebih penting dan mengacu pada tepatnya definisi PjBL adalah bagaimana cara mengefektifkan PjBL dalam pembelajaran. Terlepas dari beragamnya definisi PjBL, model ini didukung oleh teori belajar konstruktivisme yang menyatakan bahwa struktur dasar suatu kegiatan terdiri atas tujuan yang hendak dicapai merupakan subjek yang berada dalam konteks suatu masyarakat di mana pekerjaan itu dilakukan dengan perantara alat-alat, peraturan kerja, pembagian tugas yang bertumpu pada kegiatan aktif dalam bentuk melakukan sesuatu (learning by doing).

Thomas dalam Wena 2010 mengemukakan bahwa PjBL sebagai salah satu model pembelajaran mempunyai prinsip-prinsip tertentu, yaitu.

  1. Prinsip sentralis (centrality) menegaskan bahwa PjBL harus merupakan esensi dari kurikulum, dilakukan sebagai kegiatan utama dalam pembelajaran, bukan hanya sebagai kegiatan pendamping atau praktik tambahan untuk memahami konsep yang sedang dipelajari.
  2. Prinsip pertanyaan pendorong atau penuntun (driving question) berarti kerja proyek yang dilakukan harus mendorong siswa memperoleh konsep dan prinsip suatu bidang tertentu.
  3. Prinsip investigasi konstruktif (constructive investigation) merupakan proses yang mengarah pada pencapaian tujuan yang mengandung kegiatan inkuiri, pembangunan konsep, dan resolusi. PjBL juga harus mencakup proses transformasi dan konstruksi pengetahuan (Bereiter&Scardamalia dalam Wena 2010)
  4. Prinsip otonomi (autonomy) memberikan kebebasan pada siswa untuk menentukan sendiri pilihan dan bertanggungjawab atas proyek yang dilakukannya. Guru hanya berperan sebagai fasilitator dan motivator dalam pelaksanaan proyek siswa. Oleh karena itulah, lembar kerja siswa dan petunjuk praktikum bukan merupakan instrumen PjBL.
  5. Prisip realistis (realism) mengandung arti bahwa proyek yang dilakukan oleh siswa merupakan sesuatu yang nyata terjadi di masyarakat bukan merupakan sebuah simulasi yang dibuat-buat. Dengan cara ini diharapkan siswa dapat belajar pada dunia kerja sesungguhnya.

PjBL mempunyai keunggulan dan memberikan keuntungan dalam kegiatan belajar mengajar. Beberapa keuntungan PjBL menurut Moursund dalam Wena 2010 antara lain:

  1. Increased motivation. PjBL terbukti meningkatkan motivasi belajar siswa melalui keterlibatan mereka dalam proyek yang mereka pilih sendiri.
  2. Increased problem-solving ability. PjBL dapat meningkatkan kemampuan memecahkan masalah yang bersifat kompleks dan membuat siswa lebih aktif.
  3. Improved library research skills. PjBL mempersyaratkan siswa untuk dapat secara cepat memperoleh informasi, sehingga meningkatkan kemampuan siswa dalam mencari dan mendapatkan informasi.
  4. Increased collaboration. PjBL memerlukan kerja kelompok dalam pelaksanaan proyeknya. Kerja kelompok sangat membutuhkan komunikasi, pertukaran informasi, evaluasi dan kerja sama yang baik, sehingga PjBL akan meningkatkan kemampuan kerja kelompok siswa.
  5. Increased resource-management skills. Hal ini berkaitan dengan prinsip otonomi dari PjBL. Siswa harus merancang dan menyusun proyek yang mereka pilih sesuai dengan alokasi waktu yang telah ditentukan. Oleh karena itulah, kemampuan manajemen siswa akan semakin terasah melalui PjBL.

Sedangkan metode yang digunakan adalah multi metoda. Multi metoda ini memvariasikan beberapa metode pembelajaran dalam satu pertemuan proses pembelajaran. Karena masing-masing metode memiliki keunggulan dan kekurangan jadi akan lebih saling melengkapi bila pengunaannya divariasikan dalam satu proses pembelajaran. Sebagai sumberbelajar dalam pembelajaran dapat digunakan buku Panduan Guru, buku Panduan Siswadan Lembar Kerja Siswa.

Langkah pembelajaran secara umum diawali dengan pendahuluan yaitu apersepsi melalui pertanyaan dan memberikanmotivasi pertanyaan “Bagaimana Selanjutnya pada kegiatan inti; guru menjelaskan tingkat kelangkaan tumbuhan kawista, guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok, guru mengarahkan setiap kelompok siswa untuk melakukan kerja proyek menanam tumbuhan kawista melaui semai biji, dan okulasi (budding dan grafting) dan dilaporkan dalam bentuk laporan hasil kerja proyek. Selanjutnya pada kegiatan akhir, guru mengarahkan dan memberi penguatan kepada siswa untuk melakukan kerja proyek pelestarian tumbuhan kawista.

Penilaian yang dapat dilakukan guru meliputi: penilaian tertulis berupa tes pengetahuan konsep dan tes uji proyek hasil kerja proyek penanaman tumbuhan kawista.

 

Profil Buah Langka Tumbuhan Kawista

Menurut Murdijati (2011) Indonesia memiliki profil buah langka yang beranekaragam. Saat ini, lahan yang tersedia untuk kebun buah semakin sempit. Kebun yang dulu menghasilkan beranekaragam buah telah berganti menjadi  gedung-gedung tinggi serta berbagai bangunan lainnya. Selain lahan yang menyempit, para petani buah masih saja mengelola dan merawat tumbuhannya secara tradisional. Mereka cenderung menanam dan mengandalkan jatuhnya hujan tanpa menyiram dan memupuk sehingga hasilnya pun tidak merata: besar, kecil, manis, asam dan sebagainya.

Melihat ketidakseragaman kualitas buah-buahan (ukuran dan rasa misalnya)  tersebut tidak mengherankan apabila jenis buah-buahan lokal semakin sulit diperoleh di pasaran serta kalah dengan aneka jenis buah lokal lainnya yang ditanam dengan teknologi mutakhir. Selain itu, masyarakat lebih memilih buah-buahan impor. Padahal rasa, aroma dan keunikan, serta manfaat buah-buahan lokal yang mulai langka itu tak kalah nilainya.

Penentuan suatu jenis buah  sebagai buah langka menurut Murdijati (2011) secara umum dilihat dari tingkat kesulitan dalam mendapatkan buah tersebut di pasar-pasar buah. Selain itu, dapat pula dilihat dari banyak sedikitnya masyarakat yang memiliki atau membudidayakan tanaman tersebut. Sementara itu Pemerintah DKI Jakarta telah mengeluarkan Surat Keputusan Gubenur DKI Jakarta Nomor 2359/1987 yang memuat 26 jenis tumbuhan buah langka menurut Pemerintah DKI Jakarta. Diantaranya: bisbol, buni, duku condet, durian cipaku, durian sitokong, gandaria, gowok, duwet/jamblang, kawista, kemang, kepel/burahol, kweni, lobi-lobi, leci, sawo kecik, srikaya/buah  nona dan lain-lain. Dalam Surat Keputusan tersebut buah kawista termasuk merupakan salah satu  buah langka yang harus dilestarikan (www.jakarta.go.id/distan)

Kawista (Limonia acidissima L) merupakan kerabat dekat maja dan termasuk suku jeruk-jerukan (Rutaceae). Tumbuhan ini tumbuh alami di daerah kering di India, Sri Lanka, Myanmar, Indocina, Malaysia, dan Indonesia. Di Indonesia, kawista tumbuh di daerah pantai di Sumatera, Jawa, Madura, Bali, dan Nusa Tenggara Barat menurut Jones dalam Irwanto Adhi Nugroho.

Kawista termasuk tumbuhan buah langka yang jarang dikenal orang. Kawista lebih cocok tumbuh di daerah yang beriklim monsun atau tropik kering pada ketinggian sampai 450 mdpl. Tumbuhan ini banyak tumbuh di daerah pantai dan toleran terhadap kekeringan serta telah beradaptasi baikpada tanah yang kurang subur. Sifat toleran kering dari tumbuhan ini menyebabkan bagian batang tumbuhan dapat digunakan sebagai batang bawah tumbuhan jeruk, sehingga dapat menyebabkan jeruk dapat berbunga lebih awal dan terus menerus.

Profil kawista menurut Murdijati (2011), adalah sebagai berikut: pohon kawista berperawakan kecil dengan tinggi mencapai 12 meter, bercabang banyak dan ramping, serta berduri tajam dan lurus yang panjang durinya 4 cm. Pohon tumbuh lamat dan tidak akan menghasilkan buah samapi berumur 15 tahun atau lebih. Buahnya bertipe buah buni, berkulit keras dan berdiameter kurang lebih 10 cm. Permukaan  kulit bersisik, terlepas-lepas, berwarna keputih-putihan. Daging buah berbau harum. Biji berjumlah banyak, berbulu, berlendir dan berukuran 5-6 mm. Keping biji tebal dan berwarna hijau.

Daging buah kira-kita sepertiga dari keseluruhan buah. Dalam setiap 100 gram bagian yang dapat dimakan terkandung 74 gr air, 8 gr protein, 1,5 gr lemak, 7,5 gr karbohidrat, dan 5 gr abu. Sementara, dalam 100 gr bagian biji yang dapat dimakan terkandung air 4 gr air, 26 gr protein, 27 gr lemak, 35 gr karbohidrat, dan 5 gr abu. Kandungan pektin dalam buah segar adalah 3-5%. Pada daging uah kering terjkandung 15% asam sitrat dan sejumlah kecil asam-asam lainnya seperti kalium, kalsium dan zat besi.

Daging buah kawista yang telah matang dapat dimakan beserta bijinya dengan dicampur gula. Cara lain, biji-bijinya dibuang dan daging buah diolah menjadi semacam cemilan. Di Srilanka, daging buah kawista diolah menjadi krim kawista, sedangkan di India buah kawista umumnya dimanfaatkan dengan dicampur  buah lain. Buah kawista memiliki khasiat tonikum, yakni untuk menurunkan panas, dan juga digunakan sebaai obat sakit perut.

Untuk menyikapi fenomena tersebut,  seorang petani buah kawista yang bernama Bapak Wawan di Karawang telah mengupayakan budidaya kawista dan didukung oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Karawang merancang program untuk menjadikan buah kawista sebagai “ikon” kabupaten Karawang, tetapi masih belum mendapat dukungan dari masyarakat akademisi tentang biologi  dan kimiawi kawista serta manfaatnya dalam kehidupan manusia melalui pendidikan lingkungan. Sedangkan dukungan dari pihak bisnis yang dinaungi oleh majalah Trubus dan Flona, hampir tiap bulan memantau perkembangan tumbuhan kawista untuk disosialisasikan sebagai obyek yang memiliki daya jual yang bagi pencinta tumbuhan langka.

Masyarakat kabupaten Karawang belum banyak mengetahui manfaatnya secara menyeluruh dari tumbuhan kawista ini, karena kurangnya informasi untuk mengembangkannya. Padahal sesuai dengan UUD 1945, masyarakat Indonesia dapat memanfaatkan tumbuhan ini. Dukungan muncul dari berdasarkan fakta-fakta buah kawista (Limonia acidissima) banyak terdapat di Karawang sejak dulu. Tetapi karena pengetahuan dan sosisalisasi tidak maksimal, maka pengelolaan untuk melestarikannya sangat minimal.

Pada beberapa  jurnal yang berasal dari Thailand, dalam jurnal tersebut telah mengobservasi komponen bioaktif dan komponen volatil buah kawista sebagai bumbu bahan makanan. Kemudian dalam jurnal Farmasi dan biosains di India telah  mengevaluasi psikokimia dan farmakologi yang terkandung dalam kulit batang kawista. Selanjutnya dalam jurnal Bionano Frontier India juga, telah mengkaji aspek fitokimia, antibakteria dan antioksidan yang terdapat pada tumbuhan kawista. Ada pula jurnal pengelolaan teknologi pangan yang terbit di Amerika, telah mengkaji bagaimana pengelolaan pasca panen buah kaiwsta. Selain jurnal dari luar negeri, jurnal dari Indonesia yang mengkaji kawista ini ada, tetapi masih sedikit. Diantaranya, jurnal teknologi dan industri pangan IPB Bogor telah mengidentifikasi characteristic odorant impact pada buah kawista, kemudian ada pula skripsi dari IPB yang mengkaji keragaman morfologi dan anatomi kawista (limonia acidissima l.) di kabupaten Rembang, selanjutnya masih dari IPB terdapat skripsi yang mengkaji  bioaktivitas buah kawista (limonia acidissima) Bima dan penentuan sidik jarinya menggunakan kromatografi lapis tipis. Adapula jurnal yang menkaji kawista dalam judul biodiversitas yang terdapat di Srilanka. Bahkan terdapat tesis yang mengkaji prospek fitokimia dan farmakologi dari daging buah kawista tetapi berasal dari negara India, dan tesis selanjutnya masih dari India mengkaji studi perkembangbiakan vegetatif pada kawista.

Berdasarkan kajian jurnal tentang kawista ini, membuktikan bahwa di Indonesia masih sedikit masyarakat akademisi yang mengkaji secara mendalam untuk memanfaatkan kawista. Artinya masih terdapat peluang yang luas bagi peneliti-peneliti Indonesia untuk lebih terisnpirasi mengkaji kawista ini.

Pemanfaatan kawista di Indonesia telah dilakukan di beberapa daerah, tetapi masih sedikit. Antara lain: buah kawista telah banyak dimanfaatkan oleh warga Kabupaten Karawang. Buahnya dapat dimakan langsung. Buahnya dapat pula diolah menjadi sirup dan minuman penyegar. Hal menarik tentang minuman kawista ini ialah adanya sensasi rasa manis, asam dan aroma khasnya yang cukup menyengat serta bersoda alami seperti cola sehingga masyarakat menyebutnya dengan kola jawa. Bila minuman coca cola berasal dari buah Cola nitida, sedangkan Sirup kawis atau Cola van Java ini berasal dari buah kawista. Sirup kawisa atau Cola van Java mulai diproduksi massal oleh masyarakat selain di Karawang adalah di daerah kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

Di belahan bumi lain seperti di Indocina, duri dan kulit batang kawista digunakan dalam pengobatan khususnya pada perlakuan menstruasi, gangguan hati, gigitan dan sengatan serta mabuk laut. Kayunya dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan rumah dan peralatan pertanian. Gum yang berasal dari kulit batangnya dapat digunakan sebagai pengganti gum arab.

Kawista termasuk tanaman yang tumbuhnya lambat. Tanaman yang berasal dari biji memerlukan waktu hingga 15 tahun untuk berbuah. Buahnya dibutuhkan untuk industri rumah tangga. Sedangkan jumlah pohon semakin berkurang. Selain itu, tanaman ini juga masih jarang diteliti.

Berdasarkan hasil wawancara dengan narasumber di Karawang yang menghadiri dan menjadi peserta Pameran Pangan Nasional Jakarta pada Food Security Summit 2012, para pengunjung yang mampir ke stand Kabupaten Karawang tampak heran dan bertanya-tanya ketika melihat aneka bibit tanaman buah-buahan yang ada di stand Karawang. Terutama buah kawista. Banyak yang belum mengenal jenis buah ini. Banyak yang belum tahu, bahwa di Karawang terdapat banyak tanaman dan buah-buahan yang khas dan langka.

 

BAB III

IMPLEMENTASI DALAM PEMBELAJARAN

 

Rencana pelaksanaan pembelajaran pendidikan lingkungan di tingkat satuan pendidikan SMP kelas VII semester 1 berdasarkan fenomena  yang terdapat pada kelangkaan tumbuhan kawista di daerah kabupaten Karawang adalah sebagi berikut:

 

 

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

 

Sekolah                                  : SMP

Kelas/semester                      : VII/1

Alokasi waktu                         : 2 jp

 

Standar Kompetensi           

3. Membiasakan diri dalam pelestarian dan pemanfaatan sumber daya alam

 

Kompetensi Dasar

3.3 Melakukan upaya pelestarian tumbuh-tumbuhan langka di lingkungan sekitar

 

Indikator                            :

  1. Mengidentifikasi ciri- ciri  tumbuh-tumbuhan langka di lingkungan sekitar
  2. Dapat membedakan tumbuhan langka dengan tumbuhan tidak langka  dilingkungan sekitar
  3. Menyebutkan nama-nama tanaman langka yang ada di lingkungan  sekitar
  4. menanam tumbuhan langka yang ada di lingkungan sekitar
  5. Memelihara tumbuhan langka yang ada di lingkungan sekitar

 

Pendekatan :

student center dan kontekstual

 

Model Pembelajaran :

Cooperative Learning (CTL) dan  Project Based Learning

 

Metode Pembelajaran : Multimetode

Alat dan Bahan/Media Pembelajaran :

  1. Lingkungan
  2. Buah Kawista Matang
  3. Bibit dan Benih Tumbuhan Kawista

 

Sumber Pembelajaran :

  1. Buku Teks yang relevan
  2. Lembar kerja siswa
  3. Media Massa

 

Langkah-langkah Pembelajaran :

1. Kegiatan awal :

    a. Prasayarat pengetahuan lingkungan hidup

    b. Motivasi : Sumber daya alam tumbuhan yang hampir langka !

2. Kegiatan inti :

    a.  Guru membagi kelas menjadi beberapa kelompok terdiri dari 5-6 orang.

    b.  Guru dan Siswa  berdiskusi tentang SDA dan Pelestariannya

    c.  Guru dan siswa merancang kerja proyek menanam tumbuhan kawista yang diawali dengan identifiaksi ciri, pemahaman perbedaan tumbuhan langka dan tidak langka.

    d.  Siswa melakukan kerja proyek dipandu oleh guru, selama dua bulan.

3. Kegiatan akhir :

    a.  Guru menyimpukan rencana kerja proyek

    b.  Guru menanyakan kesulitan kerja proyek

    c.  Guru menganjurkan siswa untuk melakukan kerja proyek menanam tumbuhan kawista sehari-hari.

 

Penilaian :

TehnikPenilaian :     1.  Pencil and paper test dan  2.  Kinerja proyek

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Abas, M. Endang Haris. Zaenal Aripin, (2002), Pendidikan lingkungan hidup untuk SMP/MTs Kelas VII. Penerbit Erlangga Jakarta

Anang Saepuloh, (2011), Penuntun Pembelajaran Lingkungan Hidup SMP/Mts Kelas VII, Kurikulum PLH Peraturan Gubenur Jabar No. 25 Tahun 2007

Anton Apriyantono dan Bakti Kumara (2004),  Identifikasi Character Impact Odorants Buah Kawista (Feronia limonia), Jurnal Teknologi dan Industri Pangan Vol XV. No 1 Th 2004, IPB Bogor

Bhupendra Kumar Kumawat, Tara Chand, Yogendra Singh, (2012),   Pharmacognostical and Physicochemical Evaluation on Stem Bark of Limonia Acidissima Linn, Int J Pharm Bio Sci 2012 July; 3(3): (P) 198 – 209, This Article Can Be Downloaded From Www.Ijpbs.Net P – 198 Research Article Pharmacognosy International Journal Of Pharma And Bio Sciences Issn 0975-6299

Charoensiddhi, S. And *Anprung, P. (2008), Bioactive Compounds And Volatile Compounds of Thai Bael Fruit (Aegle Marmelos (L.) Correa) As A Valuable Source for Functional Food Ingredients, International Food Research Journal 15(3): 287-295 (2008), Department of Food Technology, Faculty of Science, Chulalongkorn University, Bangkok 10330, Thailand

Chitra, V, (2010), A Prospective Phytochemical And Pharmacological Screening of Fruit Pulp of Limonia Acidissima Linn, A Thesis, SRM College Of Pharmacy Faculty of Medical and Health Sciences SRM University Kattankulathur - 603 203

Dewi, Resvina (2013), Bioaktivitas Buah Kawista (Limonia Acidissima) Bima Dan Penentuan Sidik Jarinya Menggunakan Kromatografi Lapis Tipis, Skripsi,  Departemen Kimia  Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam  Institut Pertanian Bogor, Bogor

Irwanto Adhi Nugroho, (2012), Keragaman Morfologi dan Anatomi Kawista (Limonia Acidissima L.) di Kabupaten Rembang,  Skripsi,  Departemen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor, Bogor

Nimal Gunatilleke, Rohan Pethiyagoda and Savitri Gunatilleke, (2008), Biodiversity of Sri Lanka, J.Natn.Sci.Foundation Sri Lanka 2008 36 Special Issue 25-62

Patil S.P, Kalkar S.A, Kulkarni A.S, (2008), Phytochemical Screening, Antibacterial and Antioxidant Activity of Limonia Acidissima (L) Art's,Commerce & Science College Koradi. Dist.Nagpur. *Institute of Science, Nagpur. **Dharampeth, M.P.Deo Memorial Science College Nagpur.

R Vidhya and A Narain, (2011), Development of Preserved Prducts Using Exploited Fruit wood apple (Limonia acidissima), American journal of food technology6 (4): 279-288,:2011, ISSN 1557-4571 @2011 Academic Journals Inc.

Raghavendra V. Naik, (2008), Vegetative Propagation Studies In Woodapple (Feronia Limonia L.), Thesis,  Department of Horticulture College of Agriculture, Dharwad University of Agricultural Sciences, Dharwad - 580 005

Tatik Wijayati, dkk. (2010) Buku Panduan Pendidikan Lingkungan Hidup Kelas VII SMP/MTs, berdasarkan Peraturan Gubenur Jawa Barat Nomor 25 Tahun 2007, Prisma Esta Utama, Bandung

Thomas JW.  (2000).  A Review of Research on Project – Based Learning. California

Wena M. 2010. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer (Suatu Tinjauan Konseptual Operasional. Jakarta: Bumi Aksara.

 




sumber : Dewi Fitrianti, S. Pd, Si

Antalya rus escort