/ default

Publikasi Ilmiah
Gerakan Literasi Sekolah


Pengembangan Kesadaran Berkonstitusi melalui Model Pembelajaran Berbasis Proyek pada materi Kepatuhan terhadap Hukum,
| 1162 views


ABSTRAK

Pengembangan Kesadaran Berkonstitusi melalui Model  Pembelajaran Berbasis Proyek pada materi Kepatuhan terhadap Hukum, Ai Tin Sumartini, M.Pd, SMPN 5 Tasikmalaya.

Pendidikan Kewarganegaraan sebagai mata pelajaran yang mempunyai misi mewujudkan warga negara yang baik dan cerdas dengan mengembangkan kompetensi peserta didik secara terintegrasi baik pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Sehingga proses pembelajaran harus dirancang suatu model pembelajaran yang mampu mengembangkan seluruh potensi siswa agar dapat mengembangkan kesadaran berkonstitusi dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui implementasi pembelajaran PKn berbasis proyek dalam mengembangkan kesadaran berkonstitusi  bagi peserta didik kelas IX -K SMP Negeri 5 Tasikmalaya tahun pelajaran 2015-2016 pada materi Kepatuhan terhadap Hukum. Pelaksanaan pembelajaran berbasis proyek didasarkan pada langkah-langkah berpikir iliah dari John Dewey, yaitu mengidentifikasi masalah, memilih masalah, mengumpulkan informasi, mengolah informasi, menyampaikan informasi dan refleksi pengalaman belajar. Berdasarkan hasil implementasi pembelajaran PKn berbasis proyek  yang telah dilakukan terbukti dapat mengembangkan kesadaran berkonstitusi pada peserta didik yang meliputi pengetahuan berkonstitusi, pemahaman berkonstitusi, sikap dan perilaku  peserta didik yangv sesuai dengan nilai-nilai konstitusional. Dengan pembelajaran berbasis proyek siswa tidak hanya menerima materi pelajaran dari guru saja, tetapi dari berbagai sumber dengan berbagai pengalaman belajar. Siswa mencari sumber belajar sendiri dari buku-buku, koran, majalah, internet, televisi, nara sumber yang diwawancara atau pun melakukan observasi, sehingga pengetahuan siswa bertambah banyak dengan kemampuan mengingat lebih lama karena mereka yang mencari sendiri dan mengalami sendiri proses pembelajaran (learning experience). Siswa belajar melalui pengalamannya sendiri  karena mereka terlibat secara langsung dalam masalah atau isu yang sedang mereka pelajari sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna (meaningfull learning) . Dengan demikian maka proses pembelajaran berbasis proyek sebagai instructional treatment yang berbasis masalah untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, sikap serta perilaku kewarganegaraan yang berdasarkan konstitusi dan peraturan perundang-undangan yang berlaku di masyarakat.

 

Kata Kunci : kesadaran berkonstitusi, pembelajaran berbasis proyek

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran  yang memiliki fokus pembelajaran pada pembekalan pengetahuan, pembinaan sikap, perilaku dan pelatihan keterampilan sebagai warganegara yang demokratis, taat hukum dalam kehidupan bermasyarakat, mengacu pada kompetensi kewarganegaraan. Sehingga memfokuskan pada pembentukan warganegara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajiban untuk menjadi warganegara Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945.

Pendidikan Kewarganegaraan sebagai mata pelajaran yang mempunyai misi mewujudkan warga negara yang baik dan cerdas dengan mengembangkan kompetensi peserta didik secara terintegrasi baik pengetahuan, sikap, dan keterampilan.

Proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan saat ini lebih menekankan pada aspek kognitif dibandingkan dengan aspek afektif dan psikomotor. Pembelajaran lebih fokus kepada hasil belajar dari pada proses belajar, sehingga berdampaknya terhadap dilakukannya berbagai cara untuk memperoleh nilai tinggi secara kuantitatif, dibandingkan dengan proses pembelajaran yang lebih menekankan pada kualitas. Masih banyaknya perilaku peserta didik yang menunjukkan ketidakdisiplinan terhadap tata tertib sekolah, kurangnya mengindahkan tata krama dan sopan santun, menyontek saat  ulangan harian, ulangan akhir semester, maupun ulangan kenaikan kelas, mengerjakan tugas atau PR tidak tepat waktu bahkan yang lebih luas lagi makin maraknya perilaku kriminal yang dilakukan oleh anak usia sekolah.  

Kondisi yang terjadi  dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara tersebut  perlu disikapi dengan bijak, terutama dalam pembinaan generasi muda di lingkungan persekolahan, termasuk dalam pembelajaran PPKn dengan penggunaan metode atau model pembelajaran dalam menyampaikan materi pelajaran  yang mengandung muatan tatanan nilai  sehingga dapat diinternalisasikan pada diri peserta didik serta mengimplementasikan hakekat pendidikan nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Seiring dengan pemberlakuan kurikulum 2013 di SMP Negeri 5 Tasikmalaya sejak tahun 2013, maka muatan materi pembelajaran PPKn mengalami perubahan baik dari segi alokasi waktu maupun substansi kompetensi yang harus dimiliki peserta didik yang meliputi kompetensi inti aspek sikap spiritual, sikap sosial, pengetahuan dan keterampilan. Begitu juga dengan pendekatan yang dikembangkan dalam kurikulum 2013 ini adalah pendekatan saintific atau pendekatan ilmiah, dengan metode berbasis masalah (problem based learning), metode berbasis proyek  (project based learning) dan metode penemuan (discovery learning).

Proses pembelajaran PPKn harus dirancang suatu model pembelajaran yang mampu mengembangkan seluruh potensi peserta didik agar menjadi warganegara yang berakhlak mulia, cerdas, partisipatif, demokratis dan bertanggung jawab, yang dapat mengembangkan suasana belajar mengajar kekeluargaan, hangat dan terbuka.

Guru memiliki peran  untuk membantu tercapainya tujuan pembelajaran serta tersedianya media, sarana, dan prasarana pembelajaran. Pembelajaran harus mampu merencanakan dan melaksanakan program pembelajaran yang tepat, yang mencakup aspek tujuan, proses pembelajaran, materi, metode dan alat evaluasi atau penilaian. Oleh karena itu guru PPKn harus profesional dalam memilih metode yang bervariasi dalam penyelenggaraan pembelajaran yang inovatif, mulai dari persiapan dan perencanaan pembelajaran, bahan ajar, media pembelajaran, pendekatan dan model pembelajaran sampai pada tahap evaluasi, yang semuanya tentunya mengarah pada situasi dan kondisi pembelajaran yang demokratis, sehingga dapat mengembangkan kesadaran berkonstitusi di lingkungan sekolah. Anggapan peserta didik yang selama ini pelajaran PPKn yang tidak menarik dan membosankan sedikit demi sedikit menjadi berkurang.

Berdasarkan pemikiran diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan sebuah penelitian mengenai pengembangan kesadaran berkonstitusi melalui model pembelajaran berbasis proyek pada materi kepatuhan terhadap hukum di kelas IX-K SMP Negeri 5 Tasikmalaya tahun pelajaran 2015-2016.

B. Ruang Lingkup

Adapun ruang lingkup dalam penulisan ini adalah menjelaskan implementasi  dan hasil yang diperoleh melalui pembelajaran PPKn  berbasis proyek dalam mengembangkan kesadaran berkonstitusi pada siswa kelas IX K SMP Negeri 5 Tasikmalaya tahun pelajaran 2015-2016 dengan materi Kepatuhan terhadap Hukum. Sedangkan batasan masalahnya adalah :

  1. Apakah terdapat dampak yang positif bagi pengetahuan siswa terhadap kontitusi dalam  pelaksanaan pembelajaran PPKn berbasis proyek.
  2.  Apakah terdapat dampak yang positif bagi pemahaman siswa terhadap kontitusi dalam  pelaksanaan pembelajaran PPKn berbasis proyek
  3. Apakah terdapat dampak yang positif bagi sikap siswa terhadap kontitusi dalam  pelaksanaan pembelajaran PPKn berbasis proyek
  4. Apakah terdapat dampak yang positif bagi perilaku siswa terhadap kontitusi dalam  pelaksanaan pembelajaran PPKn berbasis proyek.

C.Tujuan dan Manfaat

Tujuan penulisan  ini adalah untuk mengetahui implementasi  pembelajaran PPKn berbasis proyek dalam mengembangkan kesadaran berkonstitusi pada siswa kelas IX K SMP Negeri 5 Tasikmalaya tahun pelajaran 2015-2016 dengan materi Kepatuhan terhadap Hukum..

Adapun manfaat secara teoritis dari penulisan ini adalah untuk memberikan sumbangan pemikiran atau bahan kajian dalam pendidikan terutama mengenai pembelajaran PPKn berbasis proyek dalam mengembangkan kesadaran berkonstitusi pada peserta didik.  Sedangkan secara praktis  manfaat yang dapat diperoleh adalah :

  1. Mengembangkan kesadaran siswa untuk berpartisipasi secara aktif, kreatif dan inovatif  dalam proses pembelajaran
  2. Membangun kesadaran siswa untuk bekerjasama dalam memecahkan permasalahan bersama
  3. Membangun kesadaran siswa untuk berperan serta dalam menyampaikan ide, saran, pemikiran yang konstruktif terhadap kebijakan publik  dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara
  4. Kesadaran berkonstitusi

D.Sajian Definisi

1. Kesadaran berkonstitusi

Kesadaran berkonstitusi merupakan kesadaran untuk melaksanakan ketentuan-ketentuan konstitusi secara murni dan konsekuen. Lebih lanjut Asshiddiqie (2008:12) menyatakan bahwa dalam kesadaran berkonstitusi juga terkandung maksud ketaatan kepada aturan hukum sebagai aturan main (rule of the game) dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.  Winataputra  (2007:39) mengemukakan bahwa kesadaran berkonstitusi menunjukkan kualitas pribadi seseorang yang memancarkan wawasan, sikap, dan perilaku yang bermuatan cita-cita dan komitmen luhur kebangsaan dan kebernegaraan Indonesia.

Soerjono Soekanto dalam Lubis (2009) menjelaskan bahwa  tingkat kesadaran berkonstitusi warga negara dapat dilihat aspek: 1) pengetahuan warga negara akan subtansi konstitusi; 2) pemahaman warga negara akan subtansi konstitusi; 3) sikap warga negara terhadap ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam konstitusi; dan 4) perilaku yang ditampilkan warga negara dalam kehidupan sehari yang selalu diliputi oleh nilai-nilai konstitusi. Dengan melihat empat indikator tersebut tingkat kesadaran warga negara dapat diukur dapat dilihat.

Warga negara yang memiliki kesadaran berkonstitusi merupakan warga negara yang memiliki kemelekkan terhadap konstitusi (constitutional literacy). Berkaitan dengan hal tersebut, Toni Massaro (Thomas,1996:637) menyatakan bahwa kemelekkan terhadap konstitusi akan mengarahkan warga negara untuk berpartisipasi melaksanakan kewajibannya sebagai warga negara.

2. Pembelajaran PKn

Pembelajaran PKn merupakan proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar pada mata pelajaran PKn yang membekali siswa dengan pengetahuan dan keterampilan intelektual yang memadai serta pengalaman praktis agar memiliki kompetensi dan efektivitas  untuk  berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Winataputra (2007:70) mengartikan Pendidikan Kewarganegaraan sebagai citizenship education, di mana menurut beliau bahwa Pendidikan Kewarganegaraan secara substantif dan pedagogis adalah didesain untuk mengembangkan warganegara yang cerdas dan baik untuk seluruh jalur dan jenjang pendidikan.  Dijelaskan lebih lanjut oleh Winataputra, (2007) yang mengistilahkan pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan sebagai laboratorium demokrasi di mana, semangat kewarganegaraan yang memancar dari cita-cita dan nilai demokrasi diterapkan secara interaktif

3. Pembelajaran berbasis proyek

Pembelajaran berbasis proyek (project-based learning) adalah sebuah model atau pendekatan pembelajaran yang inovatif, yang menekankan belajar kontekstual melalui kegiatan-kegiatan yang kompleks.

Pembelajaran Berbasis Proyek (Project-based Learning/PjBL) adalah metoda pembelajaran yang menggunakan proyek/kegiatan sebagai media. Peserta didik melakukan eksplorasi, penilaian, interpretasi, sintesis, dan informasi untuk menghasilkan berbagai bentuk hasil belajar. Pembelajaran Berbasis Proyek merupakan metode belajar yang menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya dalam beraktifitas secara nyata (Pedoman PPKn, 2016).

Project-Based Learning merupakan model pembelajaran yang berfokus pada konsep-konsep dan prinsip-prinsip utama dari suatu disiplin, melibatkan siswa dalam kegiatan pemecahan masalah dan tugas-tugas bermakna lainya, memberi peluang siswa bekerja secara otonom mengkonstruk belajar mereka sendiri, dan puncaknya menghasilkan produk karya siswa bernilai, dan realistic. Berbeda dengan model-model pembelajaran tradisional yang umumnya bercirikan praktik kelas yang berdurasi pendek, terisolasi/lepas-lepas, dan aktivitas pembelajaran berpusat pada guru; model Project-Based Learning menekankan kegiatan belajar yang relatif berdurasi panjang, holistik-interdisipliner, perpusat pada siswa, dan terintegrasi dengan praktik dan isu-isu dunia nyata.

Pembelajaran berbasis proyek  pada mata pelajaran PPKn dikembangkan sebagai satu instructional treatment  yang berbasis masalah untuk mengembangkan pengetahuan, kecakapan dan watak kewarganegaraan demokratis yang memungkinkan dan mendorong keikutsertaan dalam pemerintahan dan masyarakat sipil (civil society). Program tersebut mendorong  para siswa untuk terlibat  secara aktif  dengan organisasi pemerintah dan masyarakat sipil untuk memecahkan satu persoalan di sekolah  atau di masyarakat dan untuk mengasah kecerdasan sosial dan intelektual  yang penting bagi kewarganegaraan demokratis yang bertanggung jawab. Jadi tujuan pembelajaran berbasis proyek pada mata pelajaran PPKn adalah untuk memotivasi dan memberdayakan peserta didik dalam menggunakan hak dan tanggung jawab kewarganegaraan yang demokratis melalui penelitian yang intensif mengenai masalah kebijakan publik di sekolah atau di masyarakat.

PEMBAHASAN

Pembelajaran berbasis proyek  yang telah dilakukan terbukti memberikan dampak terhadap kompetensi siswa dalam membangun kesadaran kerkonstitusi baik dari aspek pengetahuan, pemahaman, sikap dan perilaku siswa terhadap konstitusi yang berkaitan dengan bahan kajian kelompok.

1.Pengetahuan terhadap konstitusi melalui pembelajaran berbasis proyek.

Berdasarkan data yang diperoleh dari aspek pengetahuan siswa terhadap konstitusi melalui pembelajaran berbasis proyek ini, maka dapat diketahui bahwa sebagian besar siswa (93%) mengetahui terhadap UUD 1945 yang berkaitan dengan bahan kajian kelompok, 90% mengetahui peraturan perundangan lainnya dan 83% yang mengetahui norma agama dan budaya yang berkaitan dengan bahan kajian kelompok.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa  pembelajaran berbasis proyek ini  dapat mengembangkan kompetensi pengetahuan siswa terhadap konstitusi karena pembelajaran ini sebagai perwujudan dari teori pembelajaran  konstruktivisme yang berpendapat bahwa belajar merupakan proses mandiri peserta didik secara aktif untuk membangun gagasan baru atau konsep baru berdasarkan pengetahuan yang dimilikinya sekarang, proses belajar harus berbasis paradigma belajar “berpusat pada siswa” (student centered). Siswa tidak hanya menerima materi pelajaran dari guru saja, tetapi dari berbagai sumber dengan berbagai pengalaman belajar. Siswa mencari sumber belajar sendiri dari buku-buku, koran, majalah, internet, televisi, nara sumber yang diwawancara atau pun melakukan observasi, sehingga pengetahuan siswa bertambah banyak dengan kemampuan mengingat lebih lama karena mereka yang mencari sendiri dan mengalami sendiri proses pembelajaran (learning experience). Siswa belajar melalui pengalamannya sendiri  karena mereka terlibat secara langsung dalam masalah atau isu yang sedang mereka pelajari sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna (meaningfull learning) karena konsep-konsep baru yang mereka temukan dari berbagai informasi tersebut dikaitkan dengan konsep-konsep yang telah ada dalam struktur kognitif siswa,  dengan demikian siswa mengkonstruksi sendiri pengetahuannya melalui pengalamannya. Dengan pembelajaran berbasis proyek ini maka siswa dapat mengetahui landasan konstitusi dalam UUD 1945 dan peraturan perundangan lainnya serta dalam aturan agama maupun norma budaya.

2.Pemahaman terhadap konstitusi melalui pembelajaran berbasis proyek

Berdasarkan data yang diperoleh dari aspek pemahaman  siswa terhadap konstitusi melalui pembelajaran berbasis proyek ini menunjukkan bahwa  pembelajaran berbasis proyek ini  dapat mengembangkan kompetensi pemahaman siswa terhadap konstitusi karena pembelajaran ini  bersifat aktif dan bermakna, melalui pembelajaran ini siswa terlibat secara utuh baik kognitif, afektif dan psikomotor.  Pembelajaran ini melatih dan membiasakan siswa untuk mahir memecahkan masalah dengan pelaksanaan dan langkah-langkah yang sistematis. Lingkungan belajar siswa merupakan fenomena yang menarik untuk menimbulkan rasa ingin tahu yang tinggi sehingga mendorong mereka untuk bertanya dan mencari jawabannya. Pembelajaran ini juga bersifat komprehensif dan utuh, karena bahan dasar dan kegiatan belajar bersifat multidimensional yang utuh. Dimensi keilmuan dipadukan dengan dimensi kehidupan nyata.

Dengan pembelajaran berbasis proyek ini maka siswa dapat memahami pentingnya landasan konstitusional dalam UUD 1945 dan peraturan perundangan lainnya yang berkaitan dengan tema bahan kajian kelompok  bagi warga negara,  memahami manfaat pelaksanaan konstitusi dan peraturan perundangan lainnya serta memahami akibat pelanggaran terhadap konstitusi dan peraturan perundangan lainnya.  Karena hal ini nampak dalam aktivitas pembelajaran siswa sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran berbasis proyek terutama ketika mereka menjelaskan produknya dalam portofolio tayangan.

3.Sikap terhadap konstitusi melalui pembelajaran berbasis proyek

Data yang diperoleh dari aspek sikap  siswa terhadap konstitusi melalui pembelajaran berbasis proyek ini, menunjukkan bahwa  pembelajaran berbasis proyek ini  dapat mengembangkan kompetensi sikap dan watak  siswa terhadap konstitusi karena pembelajaran ini untuk membantu para siswa  memahami masalah-masalah kebijakan publik yang penting di masyarakat, membantu perkembangan berbagai kecakapan warganegara yang penting bagi warganegara demokrasi, memiliki kesempatan untuk  mengembangkan berbagai watak warganegara dari kewarganegaraan demokratis serta mendorong partisipasi yang bertanggung jawab dan efektif oleh warganegara dalam demokrasi yang dijalankan. Salah satu kemampuan dasar untuk PPKn itu adalah aspek sikap atau attitude, adapun nilai-nilai  kemampuan dasar yang sesuai dengan penulisan ini adalah dalam hal perhatian siswa terhadap persoalan sosial dan politik, pengembangan terhadap nilai-nilai identitas nasional, menghormati demokrasi, pengembangan sikap menuju warganegara yang demokratis, disiplin pribadi, loyalitas, toleransi dan mengenali prasangka sendiri, menghormati orang lain, menghargai peradaban bangsa, serta pengembangan nilai-nilai perjuangan bangsa.

4.Perilaku terhadap konstitusi melalui pembelajaran berbasis proyek

Data yang diperoleh dari aspek perilaku  siswa dalam lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat  terhadap konstitusi melalui pembelajaran berbasis proyek ini, menunjukkan bahwa dengan kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan melalui pembelajaran berbasis proyek  telah memberikan pengaruh terhadap perilaku siswa yang sesuai dengan konstitusi yang berlaku termasuk konstitusi di lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat.

Salah satu kemampuan dasar untuk PPKn itu adalah pengembangan keterampilan intelektual dan keterampilan partisipatif. Adapun pengembangan keterampilan intelektual warganegara yang sesuai dengan penulisan ini adalah kemampuan untuk mengumpulkan dan menyerap informasi politik dan sosial melalui beragam media terutama berkaitan dengan bahan kajian kelas, pendekatan kritis terhadap informasi, kebijakan, dan berita; keterampilan berkomunikasi (dapat mengemukakan alasan, argumen, dan mengemukakan pandangan), menjelaskan proses, institusi, fungsi, tujuan, mengambil jalan penyelesaian konflik tanpa kekerasan; mengambil tanggung jawab; kecakapan menilai; membuat pilihan, serta mengambil posisi.

Sedangkan pengembangan keterampilan berpartisipasi (partisipatory skills) adalah kemampuan untuk mempengaruhi kebijakan dan keputusan (membuat petisi dan lobi), membangun koalisi dan bekerajsama dengan organisasi (dalam penelitian ini adalah OSIS) ; serta ambil bagian dalam diskusi .

Selanjutnya pengembangan aspek perilaku siswa dalam pembelajaran berbasis proyek iniadalah keterampilan berpartisipasi dalam melaksanakan segala tata tertib dan ketentuan yang berlaku dalam kehidupan sekolah, keluarga dan masyarakat.

Dengan demikian maka proses pembelajaran berbasis proyek sebagai instructional treatment yang berbasis masalah untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, sikap serta perilaku kewarganegaraan demokratis yang memungkinkan dan mendorong keikutsertaan dalam pemerintahan dan masyarakat sipil (civil society). Selama kegiatan pembelajaran berbasis proyek ini telah untuk membantu siswa memahami konstitusi  dan isu-isu yang mengarahkan pula kepada tindakan sebagai warganegara .

Kesimpulan

Dengan merujuk pada ruang lingkup permasalahan, pelaksanaan  dan hasil pembelajaran  yang telah dilakukan, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa

  1. Terdapat dampak yang positif  bagi pengetahuan siswa terhadap kontitusi dalam  pelaksanaan pembelajaran PKn berbasis proyek, hal ini nampak dari hasil yang diperoleh yaitu sebagian besar siswa mengetahui terhadap UUD 1945, peraturan perundangan lainnya serta norma agama dan budaya yang berkaitan dengan bahan kajian kelompok.
  2. Terdapat dampak yang positif  bagi pemahaman siswa terhadap kontitusi dalam  pelaksanaan pembelajaran PKn berbasis proyek, karena siswa sebagian besar memahami pentingnya landasan konstitusional dalam UUD 1945 dan peraturan perundangan lainnya, memahami manfaat pelaksanaan konstitusi dan peraturan perundangan lainnya serta memahami akibat pelanggaran terhadap konstitusi dan peraturan perundangan lainnya yang berkaitan dengan bahan kajian kelompok.
  3. Terdapat dampak yang positif  bagi sikap siswa terhadap kontitusi dalam  pelaksanaan pembelajaran PKn berbasis proyek, karena sikap siswa sebagian besar menyatakan tidak setuju bahwa sekalipun kita memiliki hak-hak konstitusional namun bukan berarti kita bebas menggunakan hak itu sekehendak hati kita.  Siswa  berpendapat terhadap hak dan kewajiban menurut UUD 1945 harus dilaksanakan secara seimbang. Siswa menyatakan  bahwa memang benar masih ada penyelenggara negara yang melanggar konstitusi namun tidak semestinya kita pun sebagai warganegara melanggar konstitusi, justru harus dapat melaksanakannya dengan penuh tanggung jawab.
  4. Terdapat dampak yang positif  bagi perilaku siswa terhadap kontitusi dalam  pelaksanaan pembelajaran PKn berbasis proyek, hal ini nampak dari  rata-rata perilaku siswa yang  menunjukkan sesuai dengan konstitusi yang berlaku termasuk konstitusi di lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat

 

 

 




sumber : AI TIN SUMARTINI, M.Pd
asd r57 txt mavi yolculuk dizi izle Led Ekran izmir escort replika saat replika saat replika saat gümüş alyans film izle türkçe bahisnow en güvenilir bahis siteleri https://www.ankaradershaneleri.gen.tr/ instagram beğeni hilesi soyunma dolabı omegle random chat