/ default

Publikasi Ilmiah
Gerakan Literasi Sekolah


Sudut Pandang Bercerita
| 669 views


Hal yang sangat membedakan alur novel dengan cerpen adalah panjang masing-masing tahapan alur. Terjadi karena panjangnya pengisahan antara novel dan cerpen memang berbeda. Cerpen hanya mengambil bagian kecil dari sisi kehidupan manusia, sedangkan novel mengupas kehidupan manusia sampai bagian detail, bahkan sering diakhiri dengan kematian tokoh-tokohnya. Sementara itu, secara umum dapatlah dikatakan bahwa baik pada novel maupun cerpen, alur ceritanya mengikuti tahapan tertentu. Tahapan alur dalam cerita, termasuk novel dapat beraneka ragam. Montage dan Henshaw (dalam Aminuddin, 2011:84) misalnya, menjelaskan bahwa tahapan peristiwa dalam plot suatu cerita dapat tersusun dalam enam tahapan, yaitu:

  1. Exposition, yakni tahap awal yang berisi penjelasan tentang tempat terjadinya peristiwa serta perkenalan dari setiap pelaku yang mendukung cerita.
  2. Inciting force, yakni tahap ketika timbul kekuatan, kehendak, maupun perilaku yang bertentangan dari pelaku.
  3. Rising action, yakni situasi panas karena pelaku-pelaku dalam cerita mulai berkonflik.
  4. Crisis, yakni situasi semakin panas dan para pelaku sudah diberi gambaran nasib oleh pengarangnya.
  5. Climax, yakni situasi puncak ketika konflik berada dalam kadar yang paling tinggi hingga para pelaku itu mendapatkan kadar nasibnya sendiri-sendiri.
  6. Falling action, yakni kadar konflik sudah menurun sehingga ketegangan dalam cerita sudah mulai mereda sampai menuju conclution.
  7. Conslution adalah penyelesaian cerita.

                                                                                                          

1. Pembuka, Badan Tulisan, dan Penutup Novel Anak

Cerita anak umumnya berlangsung dalam alur berturut-turut: pembuka, badan tulisan, dan penutup. Bagian pembuka atau awal tulisan cerita anak hendaknya dibuat sangat menarik. Bagian itu dapat diibaratkan sebagai bagian muka dari rumah. Jika bagian rumah itu menarik, maka tamu akan berminat untuk masuk ke dalamnya. Jika tidak, sang tamu akan melihat sebentar, setelah itu melengos pergi.

Bagian pembuka diikuti oleh bagian tengah atau badan tulisan. Di sinilah sebagian besar isi cerita terdapat. Pada bagian ini harus terdapat konflik dan klimaks (klimaks one step before ending). Selanjutnya, cerita diakhiri dengan bagian penutup. Khusus untuk cerita anak, sebaiknya cerita ditutup secara happy ending, dibuat menyenangkan atau memuaskan.

2. Pembuka Cerita

Contoh bagian pembuka dalam cerita anak:

“Angin berhembus sepoi-sepoi. Semilirnya menggetarkan helai dedaunan. hembusan kesiurnya menggemulaikan tarian pucuk nyiur, pelepah bakau, dan tubuh rerumputan. Buana kelam mencekam. Suasana malam terasa dimana-mana. Bulan sabit berusaha menunjukkan kemampuannya. Sorotnya yang temaram berusaha menembus simpul kekelaman. Berupaya untuk menyinari jengkal-jengkal pelataran bumi.

Sesosok tubuh kecil berbaring di atas pesisir. Tubuhnya lemas tak berdaya. Diam, tidak bergerak-gerak. Hanya dadanya saja yang kembung-kempis, seirama dengan denyut jantungnya saat memompakan darah. Anak remaja berusia belasan tahun itu tengah tidur pulas. Seluruh pikirannya tengah berada dalam alam mimpinya. Dalam mimpinya, Arman merasa sedang tidur berduaan dengan sahabatnya, Roni. Mereka tidur berdampingan. Kesadaran keduanya terhanyut dalam mimpi masing-masing.

Ketika Arman tengah lelap, tiba-tiba Roni menjadi gelisah. Tubuhnya menggeliat-geliat seperti didorong oleh tenaga sangat besar yang berasal dari dalam jiwanya. Tak lama kemudian matanya terbuka. Wajah dan sikapnya aneh. Ia menatapi wajah sahabatnya dengan tatapan jalang. Mulutnya bergerak-gerak seperti tengah mengunyah suatu makanan. Giginya bergeretak-geretak seperti sedang mencabik dan melumat makanan yang liat. Sesekali ia menelan ludah. Pandangan matanya kepada Arman seperti tatapan mata macan pada hewan yang akan dimangsanya.

Roni bangkit dari duduknya dan berjalan setengah merangkak mendekati tubuh Arman. Begitu sampai, dengan bernafsu ia menindih tubuh temannya. Bersamaan dengan itu, kedua tangannya pun beraksi, mencekik leher tubuh sahabatnya yang masih tak bergerak.”

( “Belajar dari Suara-Suara Alam”, karya Witarsa)

 

3. Badan Cerita

Contoh badan cerita pada cerita anak:

“Mora menggigil ketakutan karena kebohongannya terbongkar oleh Lian. Ia merasa menyesal menjawab seperti tadi. Di samping itu, ia menyesali si Lian anak dongok itu. Mengapa ia mau mengaku kepada ayah? Mengapa ia berkata terus terang ketika ditanyai oleh Ayah?

Ayah memandangi Mora dengan pandangan gusar. Tiba-tiba Ayah menghardik, “Kau kira bisa membohongi aku!”

Mora makin menundukkan muka.

“Mengapa kau ajak anak orang lain main ke sana?”

Mora tetap membisu.

“Mengapa tidak kau sendiri? Jagoan apa itu mengajak-ajak anak orang lain!” sindir Ayah kasar. “Kalau betul kau jagoan pergilah sendiri. Jangan ajak orang lain supaya ditelan begu kau sendirian di sana!”

Mak diam saja sejak tadi. Ijah menekur sambil berurai air mata. Mereka tahu betul perangai Ayah kalau marah. Percuma dicegah karena kalau dicegah malah membuat Ayah menjadi naik pitam.

Tiba-tiba Ayah bertindak. Ia menyeret Mora ke dalam kamar. Di sana dihajar habis-habisan. ubuh Mora terpental ke sana ke mari. Ia tidak berani menangis.

Kemudian Ayah keluar dari kamar dengan mata bernyala-nyala. Mak berdiri. Tetapi tiba-tiba Ayah membentak, “Duduk kamu!”

Mak duduk kembali. Ayah duduk sambil mereguk sisa kopinya dari cangkir. Dipandanginya Mak dengan pandang berapi-api. Dipandanginya Ijah dengan geram.”

( “Tantangan”, karya Mansur Samin).

 

4. Penutup Cerita

Contoh penutup cerita pada cerita anak:

“Dengan perasaan bergelora, bersama seorang anak lain Jadil mengikatkan tali Merah Putih pada tali kerekan tiang. Dadanya bergetar. Bendera Merah Putih akan berkibar di angkasa sebentar lagi dan pengereknya adalah Jadil. Jadil! Tak sadar Jadil tersenyum sendiri.

Hari itu hari yang paling bersejarah bagi Jadil. Jadil orang pertama yang menaikkan bendera Merah Putih di sekolahnya, tanpa menyandingkannya dengan Hinomaru. Lagipula Merah Putih berkibar bukan pada tiang yang pendek.

Beberapa saatia menatap bendera itu. Jadil tidak perduli pada Guru Isa yang sedang memberi pelajaran. Jadil ingin memuaskan hatinya menatap bendera itu. Kini ia rela walau Guru Isa akan menghukumnya sekalipun. Jadil akan memberi hormat kepada Merah Putih walau harus sampai pingsan.

Jadil rela!”

( “Rindu” karya Dasriel Rasmala).

 

5. Sudut Pandang Bercerita

Sudut pandang yaitu cara pandang penulis menempatkan dirinya dalam cerita. Sudut pandang dalam karya fiksi mempersoalkan siapa saja yang menceritakan, atau dari posisi mana peristiwa itu dilihat. Sudut pandang adalah bagaimana cara penulis menampilkan para pelaku dalam karangan yang dipaparkannya.

Sudut pandang menurut Sumardjo dan Saini K.M dibagi menjadi empat macam, yaitu:

1. Sudut Penglihatan yang Berkuasa (Omniscient Point of View)

Di sini, penulis bertindak sebagai pencipta segala. Ia bisa menciptakan apa saja yang ia perlukan untuk melengkapi ceritanya, sehingga memeroleh efek cerita yang diinginkannya.

Cuplikan tulisan:

Terlambat. Dia tidak sempat berbuat sesuatu. Tubuhnya tercampak dan melayang. Dia merasakan tubuhnya terbanting-banting ke kiri dan ke kanan. Kemudian, dia terhempas ke atas sebuah benda keras ... bruk! Dia tidak ingat apa-apa lagi. Sementara itu, Cunding ternganga di tempatnya. Kejadian itu begitu cepat dan tiba-tiba. Suara pekik Suparta membuatnya tersadar, tetapi dia tidak bisa berbuat sesuatu untuk menolong sepupunya. Dia hanya sempat melihat tangan sepupunya menggapai-gapai di udara. Tangan itu lenyap seperti ditelan bumi.

Ditelan bumi? Suparta ditelan bumi? Ya, Allah! Apakah hutan di sini hutan ajaib? Apakah tanah ini tanah kutukan? Apakah tanah ini penuh misteri? Apakah pohon besar itu yang menelan Suparta? Tidak! Tidak mungkin! Akan tetapi, kenyataannya Suparta tenggelam lenyap jauh di sebelah sana. Ataukah Suparta ditelan ular besar?

Bulu tengkuk Cunding tiba-tiba bergidik. Dia teringat cerita omaknya tentang ular besar yang menghuni hutan-hutan lebat. Ular itu begitu besar sehingga tumbuh pohon-pohon besar di atasnya. Setiap saat mulut ular itu menganga karena dia tidak sanggup untuk mencari makan. Jika ada hewan atau makhluk hidup lain yang lewat di depan mulutnya, si ular langsung mengisapnya. Binatang dan daun kering yang ada di sekitarnya juga akan tersedot masuk ke dalam mulutnya. Itu sebabnya tanah di depan mulut si ular selalu tampak bersih. Tidak terlihat dedaunan kering yang berserakan.

(Raja Kate Dikepung Asap karya Abel Tasman)

 

2. Sudut Penglihatan yang Tidak Berkuasa (Objective Point of View)

Dalam teknik ini penulis bekerja seperti dalam teknik omniscient, hanya penulis tidak memberikan komentar apapun. Pembaca hanya disuguhi “pandang mata”. Penulis hanya menceritakan apa yang terjadi, seperti menonton pementasan sandiwara. Penulis sama sekali tidak masuk ke dalam pikiran para pelaku.

Contoh tulisan:

Iwan dan teman-temannya tinggal di sebuah desa yang bernama Desa Garagata. Desa Garagata merupakan sebuah desa yang penuh dengan ketentraman dan kedamaian serta jauh dari kebisingan kota yang selalu riuh dengan lalu lalang kendaraan. Desa Garagata dikelilingi gunung dan bukit yang selalu tampak menghijau karena penuh dengan pepohonan. Di sebelah tenggara desa, Pegunungan Meratus tampak berdiri tegak dengan permukaan yang hijau menampakkan kedamaian. Di sebelah barat tampak Gunung Bakumpai, yang lebih dikenal dengan nama Gunungliang, berdiri kokoh bagaikan pasak raksasa.

(Mutiara-Mutiara Hitam Bumi Saraba Kawa, karya Siswoyo)

 

3. Orang Pertama

Gaya ini bercerita dengan sudut pandang “aku”. Jadi, seperti orang yang sedang menceritakan pengalamannya sendiri. Biasanya penulis terlibat langsung ke dalam cerita. Dengan teknik ini, pembaca diajak ke pusat kejadian, melihat, dan merasakan melalui mata dan kesadaran orang yang langsung bersangkutan.

Cuplikan tulisan:

Aku merasa takjub dengan kepribadian Arai. Tatapanku menghujam bola matanya, menyusupi lensa, selaput jala, dan iris pupilnya, lalu tembus ke dalam lubuk hatinya, ingin kulihat dunia dari dalam jiwanya. Tiba-tiba aku merasa seakan berdiri di balik pintu, pada sebuah temaram dini hari, mengamati ayahku yang sedang duduk mendengarkan siaran radio BBC. Lalu lagu syahdu “What a Wonderful World” mengalir pelan. Seiring alunan lagu itu dari celah-celah peti kusaksikan pasar yang kumuh menjadi memesona. Anak-anak kecil Tionghoa yang membawa kado melompat-lompat harmonis bermain tali dikelilingi gelembung-gelembung busa. Lalu-lalang kendaraan adalah serpihan-serpihan cahaya yang melesat-lesat menembus fatamorgana aurora. Burung-burung camar mematuki cumi yang berjuntai di lubang-lubang peti, terbang labuh. Sayap-sayap kumbang berkilauan terbias warna-warni dedaunan maranta. Demikian indahkah hidup dilihat dari mata Arai? Beginikah seorang pemi,pi melihat dunia?

(Sang Pemimpi, karya Andrea Hirata)

 

4. Orang Ketiga

Dalam teknik ini penulis memilih salah satu tokohnya untuk bercerita. Seluruh kejadian cerita kita lalui bersama tokoh ini. Dalam sudut pandang ini, penulis tidak menggunakan tokoh orang kesatu (aku atau saya).

Cuplikan:

Mata Solimin bertambah liar dan bertambah gelisah. Ucapan Kaelani seperti tuntutan, terdengar dalam telinganya. Solimin masih tetap berdiri tidak beranjak selangkah jua dari tempatnya. Kedua kakinya terentang, kedua tangannya yang terlepas ke samping sedikit terangkat, seperti sikap yang siap menerjang.

Tidak seperti semula, suara Solimin menjadi rendah dengan nada setengah meminta dan kakinya yang mulai gemetar menjadi bertambah terasa berat.

“Ini bukan tuntutan, Solimin. Kami hanya minta penjelasan apa gunanya kaubunuh tahanan yang jujur itu.” Suara Kaelani bertambah keras dan tajam. “Jangan beranjak! Marno bisa tembak engkau dari sini!”

(Daerah Tidak Bertuan, karya Toha Mohtar)

5. Amanat/Pesan

Dalam sebuah cerita, penulis pasti ingin menyampaikan amanat kepada pembacanya. Amanat biasanya disampaikan penulis secara implisit (tersirat). Dalam Kamus Istilah Sastra, Zaidan (1991:06) menyatakan bahwa amanat adalah pesan penulis kepada pembaca baik yang tersurat, maupun tersirat yang disampaikan melalui karyanya. Pesan pada cerita terutama cerita anak amatlah penting. Remaja dan anak-anak perlulah mendapatkan pesan-pesan moral dari bacaan mereka.

Pesan moral dalam cerita boleh jadi turut mewarnai sikap dan perilaku orang-orang penting di negeri kita. Walaupun belum ada penelitian, boleh jadi sifat licik oknum petinggi negara saat ini diwarnai oleh pesan moral dalam cerita si Kancil yang menjadi bahan bacaan mereka di masa kanak-kanak. Kita tahu bahwa tokoh Kancil adalah tokoh yang cerdas tapi licik, penuh tipu, dan jahat. Ketika dia hendak menyelamatkan diri dari kelaparan di suatu hutan, maka ia menipu buaya untuk berjajar di sepanjang sungai. Ketika ia akan jatuh terperosok, maka ia akan mengajak binatang lain untuk masuk ke dalamnya.

Amanat/pesan moral dalam sebuah novel tidak terbatas pada satu saja, melainkan bisa dua atau bahkan banyak. Nurjaman (2012:69-72) menemukan sedikitnya lima amanat yang terkandung dalam novel Sang Pemimpi. Kelima amanat tersebut adalah: bersikap optimis menyongsong masa depan, tegar/tidak mudah putus asa dalam menghadapi masalah, bersedia berkorban tanpa pamrih, pengakuan terhadap pengorbanan orangtua yang tak terhingga kepada anaknya, dan ketegasan dalam menjalankan disiplin/kepatuhan terhadap peraturan.

Cuplikan amanat untuk bersedia berkorban tanpa pamrih dalam novel Sang Pemimpi:

Tubuhku yang tadi kaku karena tegang mengantisipasi rencana Arai kini pelan-pelan merosot sehingga aku terduduk di balik daun pintu. Aku menunduk dan memeluk lututku yang tertekuk. Aku merasa sangat malu pada diriku sendiri. Bibirku bergetar menahan rasa haru pada putihnya hati Arai. Air mataku mengalir pelan. Sungguh sedikit pun tak kuduga Arai merencanakan sesuatu yang sangat mulia untuk Mak Cik.

(Sang Pemimpi, Andrea Hirata, 2008:51)

 

Sementara itu Novel Daerah Tidak Bertuan karya Toha Mohtar, paling tidak mengandung sembilan amanat atau nilai-nilai pendidikan. Kesembilan butir amanat tersebut adalah: bijaksana dalam bertindak, berpikir matang, setiakawan, menghargai jasa orang lain, menerima penghargaan dengan rendah hati, rela berkorban, keagamaan, menaruh kepercayaan kepada orang lain, dan membangkitkan semangat hidup orang lain.

Cuplikan amanat berpikir matang dalam novel Daerah Tidak Bertuan:

“Tatap mataku. Engkau tahu, akulah yang menghalangi engkau buat melepaskan dendam. Aku mengerti. Kita telah belajar memberikan nilai persahabatan yang lain, seperti tak pernah kita kenal sebelumnya. Di sini, sahabat, di daerah, dimana kekhilafan seseorang akan bisa menyebabkan kematian sahabat yang lain. Dan semua sesal yang lahir di sini seperti bayang-bayang yang akan menuruti jejak kita sepanjang hidup. Oh, aku tahu sekarang, aku mengerti dan melihat seperti bisa kujamah dengan tangan telanjang ini, betapa rasa sahabat yang telah mengikat engkau dan Ganda. Tapi engkaupun mesti mengerti, bahwa keputusan demikian kuambil justru lantaran engkau sahabatku pula, sebab aku tak ingin engkau menyandang sesal yang lahir di sini.”

(Daerah Tidak Bertuan, Toha Mohtar: 67)

 

 




sumber : WITARSA.A.P.d
qwe