/ default

Publikasi Ilmiah
Gerakan Literasi Sekolah


MODEL MULTILITERASI INVESTIGASI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS LAPORAN PENGAMATAN
| 3063 views



ABSTRAK

 

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kemampuan siswa dalam menulis laporan pengamatan. Hal ini disebabkan oleh proses pembelajaran yang berlangsung tidak berbasis pada proses menulis yang sesungguhnya, kurang tepatnya penerapan model pembelajaran, dan bimbingan yang diberikan belum optimal, sehingga kegiatan pembelajaran belum sampai pada proses pembelajaran yang efektif dan bermakna. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui proses pembelajaran dan meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis laporan pengamatan dengan menggunakan model Multiliterasi Investigasi. Metode peneltian yang digunakan dalam penelitian ini yakni metode penelitian tindakan kelas dengan model John Elliot yang terdiri dari 3 siklus dan 3 tindakan pada masing-masing siklusnya. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu lembar observasi, lembar catatan lapangan, lembar penilaian proses, lembar penilaian hasil kemampuan menulis laporan pengamatan, lembar wawancara, dan kamera foto. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh peneliti, diperoleh beberapa hasil yaitu proses pembelajaran menulis laporan pengamatan menggunakan model multiliterasi investigasi berjalan dengan, baik, kondusif, menarik, dan bermakna. Hal tersebut ditunjukan oleh meningkatnya perolehan nilai proses dan hasil kemampuan menulis laporan pengamatan siswa. Perolehan nilai proses pada siklus I yaitu 64,4 dan perolehan nilai hasil kemampuan yaitu 62,7. Perolehan nilai proses pada siklus II yaitu 77,6 dan perolehan nilai hasil kemampuan yaitu 74,4. Perolehan nilai proses pada siklus III yaitu 86,9 dan perolehan nilai hasil kemampuan yaitu 86,5. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa model multiliterasi investigasi dapat meningkatkan kemampuan menulis laporan pengamatan pada siswa kelas V SD. Dengan keberhasilan model multiliterasi investigasi dalam meningkatkan proses pembelajaran dan hasil belajar siswa, maka model ini dianjurkan untuk diterapkan dalam pembelajaran menulis laporan pengamatan.

 

Kata Kunci: Model Multiliterasi Investigasi, Menulis Laporan Pengamatan

 

 

 

 

 

 

 

 

ABSTRACT

 

This study was motivated by the lack of observation report writing ability. This is caused by the process of learning that takes place is not based on the process of writing the actual, less precise application of learning models, and the guidance is not optimal, so the learning activity has not come to learning process effective and meaningful. The purpose of this study was to determine the learning process and improve the students' ability in writing reports observations using a model Multiliterasi Investigation. Other research methods were used in this study the research methods class action with John Elliot models that consisted of 3 cycles and 3 acts on each cycle. The instrument used in this study is the observation sheets, sheets of field notes, sheet assessment process, the assessment sheet results report writing ability of observation, interview sheets, and a photo camera. Based on research conducted by investigators, obtained some results, namely the learning process observation report writing using the model multiliterasi investigation goes, well, conducive, attractive, and meaningful. It is shown by the increasing value of the acquisition process and the results of observation reports students' writing ability. Acquisition value of the process in the first cycle is 64,4 and the acquisition value of the capability that is 62,7. Acquisition value of the process on the second cycle is 77,6 and the acquisition value of the capability that is 74,4. Acquisition value of the process in the third cycle is 86,9 and the acquisition value of the capability that is 86,5. Thus it can be concluded that the model multiliterasi investigation may improve the ability to write reports observations of elementary school’s fifth graders students. With the success of the model multiliterasi investigation in improving the learning process and student learning outcomes, then this model is recommended to apply in writing class observation reports.

 

Keywords: Investigations Multiliteracy Model, Observation Report Writing

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pendidikan merupakan suatu proses untuk mampu mengembangkan potensi diri manusia sehingga dapat membentuk kepribadian, keterampilan, dan perkembangan intelektual yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Oleh karena itu, tuntutan kompetensi pada tiap individu pasti akan terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman.

Kini kita sudah memasuki abad 21, setidaknya terdapat beberapa kompetensi yang harus dimiliki oleh generasi abad 21, yaitu: cara berpikir kreatif, kritis, pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan dalam pembelajaran, kemampuan dalam berkomunikasi dengan baik dan mampu berkolaborasi dan bekerja sama dengan individu maupun komunitas dan jaringan, dan harus memiliki serta menguasai alat untuk bekerja yakni Information and Communications Technology (ICT).

Dalam upaya memenuhi tuntutan abad 21, diperlukan pembelajaran yang mampu meningkatkan kemampuan berpikir salah satunya yaitu pembelajaran bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia memiliki peranan yang sangat penting dan wajib untuk diajarkan dan dipelajari, karena memiliki kedudukan dan fungsi sebagai bahasa nasional dan bahasa negara. Pada hakekatnya pembelajaran bahasa Indonesia bertujuan untuk meningkatkan keterampilan dalam berkomunikasi baik secara lisan atau tulisan dan juga untuk kepentingan penguasaan ilmu pengetahuan.

Pembelajaran bahasa Indonesia memuat beberapa keterampilan berbahasa yang diantaranya adalah keterampilan menulis. Lerner (dalam Panahandeh & Esfandiari, 2014) berasumsi bahwa menulis merupakan suatu pencapaian yang paling canggih dan menggunakan sistem bahasa yang kompleks. Laporan pengamatan merupakan suatu bentuk kegiatan menulis yang didalamnya memuat hasil pengamatan terhadap sebuah tempat, kejadian ataupun fenomena sosial.

Pembelajaran keterampilan menulis pengamatan di sekolah dasar memiliki peranan penting yakni untuk menambah wawasan para siswa dalam memahami suatu persoalan ataupun mengembangkan suatu objek tertentu yang disajikan melalui sajian data dan keadaan yang sesuai. Berdasarkan hasil pengamatan tersebut dapat diinformasikan kepada masyarakat secara luas. Jalannya proses pembelajaran akan lebih bermakna karena melibatkan siswa secara langsung.

Hal tersebut senada dengan yang dikemukakan Tripp (dalam Laire, Casteleyn, & Mottart, 2012) bahwa proses pembelajaran akan meningkat jika siswa dihadapkan dengan hal-hal yang otentik atau lingkungan yang realistis. Lingkungan sebagai "masyarakat dari praktek" dalam hal ini  siswa dapat memanfaatkan lingkungan sebagai sarana untuk berkolaborasi dengan para ahli atau dengan satu-sama lain dilingkungannya.

Namun, pada kenyataannya harapan dari tujuan menulis laporan pengamatan ini kurang memuaskan. Hal ini terlihat dari belum optimalnya kemampuan menulis siswa di sekolah dasar. Berdasarkan hasil observasi, faktor utama yang melatarbelakangi hal tersebut adalah karena proses pembelajaran yang berlangsung tidak berbasis pada proses menulis yang sesungguhnya atau dalam artian lain yakni kompleksitas proses menulis dilakukan secara instan. Oleh karena itu, sebagai kegiatan yang kompleks tak mengherankan jika siswa biasanya mengalami kesulitan dalam mengembangkan tulisan mereka (Evans, Hartshorn, McCollum, & Wolfersberger dalam Nosratinia & Adibifar, 2014).

Berkenaan dengan hal di atas, dibutuhkan perencanaan, pemilihan dan penerapan model pembelajaran yang tepat bagi siswa. Sejalan dengan penelitian Tok (2015) “Effects of creative writing activities on students’ achievement in writing, writing dispositions and attitude to English”menyimpulkan bahwa kunci utama dalam meningkatkan keterampilan menulis ada pada guru, yakni guru perlu menemukan cara untuk mengintegrasikan menulis dengan keterampilan dan kegiatan lainnya, sehingga mampu memberikan lebih relevansi dan pentingnya menulis serta membuatnya lebih menarik. Guru juga disarankan untuk menerapkan pemberian tugas menulis bermakna, realistis dan relevan, berdasarkan kebutuhan dan kepentingan siswa.

Penerapan model berbasis multiliterasi dirasa mampu dijadikan sebagai solusi yang dalam meningkatkan efektivitas siswa dalam menulis serta mampu menjawab tantangan abad ke 21 ini. Pembelajaran multiliterasi dirancang berdasarkan pada multikompetensi.Abidin (2014, hlm.187) mendefinisikan bahwa pembelajaran konsep multiliterasi merupakan perwujudan dari pembelajaran saintifik proses yang mengoptimalkan keterampilan-keterampilan dalam berliterasi yakni dalam literasi  membaca, menulis, berbicara, dan penguasaan media informasi dan komunikasi.

Hal tersebut diperluas oleh pendapat McKee dan Ogle (dalam Abidin, 2014, hlm. 187) melalui pembelajaran multiliterasi dapat meningkatkan kemampuan berpikir dalam mengkritisi, menganalisis, dan mengevaluasi informasi dari berbagai sumber dalam berbagai disiplin ilmu dan mampu mengkomunikasikan.

Salah satu model berbasis multiliterasi adalah model multiliterasi investigasi. Model ini pada dasarnya merupakan hasil dari pengembangan model Group Investigation (GI), kemudian diramu dengan menambahkan konsep multiliterasi dalam sintaksnya, diantaranya yakni pembelajaran berbasis pada pembuatan project dan melibatkan berbagai kompetensi yang dimiliki siswa, serta penilaian bersifat otentik (menyeluruh). Abidin (2015a) merumuskan sintaks dasar dalam model multiliterasi investigasi diantaranya yakni menetapkan fokus pencaharian, menetapkan lokasi pencaharian, merumuskan tujuan, melaksanakan pengumpulan data, mencatat data, menganalisis data, membuat kesimpulan dan memproduksi laporan.

Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti menerapkan model multiliterasi investigasi dengan tujuan mengatasi permasalahan rendahnya kemampuan menulis laporan pengamatan pada siswa SD. Oleh karena itu model multiliterasi investigasi ini diterapkan di dalam suatu penelitian tindakan kelas yang berjudul “Model Multiliterasi Investigasi untuk Meningkatkan Kemampuan Menulis Laporan Pengamatan”.

METODE

Metode penelitian yang digunakan adalah metode Penelitian Tindakan Kelas dengan menggunakan desain PTK model John Elliot yang terdiri dari 3 siklus dan 3 tindakan pada setiap siklusnya. Metode ini dipilih karena berdasarkan pada pelaksanaan pola yang ada. Hal tersebut, sejalan dengan pendapat Wardhani dan Wihardit (2008) yang menjelaskan bahwa dalam PTK terdapat siklus pelaksanaan berpola: perencanaan-pelaksanaan-observasi-refleksi- revisi (perencanaan ulang). Pada pelaksanaannya tindakan yang dilakukan dalam upaya perbaikan permasalahan dilakukan secara berulang-ulang sehingga tujuan untuk mendapatkan hasil yang terbaik akan mampu terwujud. Kunci utama dalam keberhasilan pelaksanaan PTK ini adalah adanya refleksi diri karena pada dasarnya masalah yang akan diselesaikan telah diamati sendiri oleh guru. Sehingga guru dapat menemukan kelemahan-kelemahan dan kekuatan dari tindakan yang dilakukan guru ketika mengajar. Oleh karena itu, guru dapat langsung memperbaiki kelemahan ataupun kekurangan yang ada dan menyempurnakan tindakan yang sudah baik.

Adapun langkah-langkah yang dilakukan peneliti dalam melaksanakan PTK ini disesuaikan dengan desain model Elliot yang digunakan yakni langkah pertama yaitu ide awal dimana peneliti menentukan metode penelitian dan objek penelitian yang akan digunakan. Setelah metode dan objek penelitian ditentukan maka peneliti akan menemukan dan menganalisis masalah yang ada berdasarkan objek penelitian tersebut. Tahap selanjutnya yang peneliti lakukan adalah tahap perencanaan umum pertama, dimana pada tahap ini peneliti membuat dan menyusun perencanaan mengenai tindakan yang akan dilaksanakan pada siklus satu. Kemudian setelah perencanaan dirasa matang, maka peneliti akan melaksanakan tindakan berupa pembelajaran pada siklus satu. Pada siklus satu ini pembelajaran yang dilaksanakan sesuai dengan masalah yang ada dan tentunya disesuaikan juga dengan perencanaan yang sudah dibuat.

Setelah melaksanakan tindakan-tindakan pada siklus satu, peneliti melakukan monitoring terhadap pelaksanaan siklus satu dan juga mengamati efek yang ada atau ditimbulkan di siklus satu. Dalam tahap ini  peneliti harus mampu mengidentifikasi hal-hal yang dirasa menjadi penghambat dalam proses pembelajaran sehingga nantinya dapat diketahui juga kegagalan-kegagalan yang ada di siklus satu. Kegagalan-kegagalan tersebut akan dijelaskan pada tahap berikutnya yaitu tahap penjelasan kegagalan implementasi. Kegagalan pada implementasi siklus satu ini dijadikan acuan untuk perbaikan di siklus selanjutnya.

Pada tindakan 1 kegiatan pembelajaran yang dilakukan siswa adalah menentukan fokus pengamatan dan judul laporan, merumuskan tujuan pengamatan, membuat kerangka laporan, dan pembekalan pengetahuan awal yang disesuaikan dengan tema yang dipilih sebelum melakukan pengamatan. pada tindakan 2 siswa mulai melakukan pengamatan, menulis hasil temuan, dan mengembangkan hasil temuan tersebut kedalam bentuk laporan pengamatan. Pada tindakan 3 siswa melakukan revisi dan pengeditan laporan, mempersiapkan laporan akhir, dan melaporkan hasil pengamatan secara lisan.

Penelitian ini akan dilaksanakan di SDN Cipamokolan 1 Kecamatan Rancasari Kota Bandung. Partisipan dalam penelitian ini adalah siswa kelas V yang berjumlah 34 orang siswa, yang terdiri dari 12 siswa laki-laki dan 22 siswa perempuan yang memiliki latar belakang dan kemampuan yang berbeda-beda.

Instrumen yang digunakan peneliti adalah penilaian yang terdiri dari penilaian proses dan penilaian hasil, lembar observasi, lembar wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi. Penilaian proses menggunakan skoring rubrik dengan skor 4, 3, 2, 1. Indikator yang digunakan pada penilaian proses adalah menentukan fokus pengamatan dan judul laporan, merumuskan tujuan, melakukan pengamatan dan menulis hasil temuan, mengembangkan hasil temuan, merevisi dan mengedit, dan melaporkan hasil pengamatan secara lisan. Adapun indikator yang digunakan dalam penilaian proses adalah isi laporan, sistematika laporan, bahasa dan penggunaan tanda baca, dan penyajian laporan.

Teknik analisis data yang digunakan peneliti adalah teknik kuantitatif, teknik kualitatif, dan teknik triangulasi. Data yang berupa deskripsi diperoleh dari teknik kualitatif, kemudian data yang berupa angka-angka diperoleh dari teknik kuantitatif, sedangkan teknik triangulasi data adalah penggabungan antara teknik kualitatif dan kuantitatif.

HASIL DAN PEMBAHASAN

            Berdasarkan hasil penelitian dalam pembelajaran menulis laporan pengamatan dengan menggunakan model multiliterasi investigasi di kelas V SDN Cipamokolan 1, peneliti menemukan beberapa temuan-temuan pada setiap siklusnya. Temuan yang didapatkan pada proses pembelajaran di siklus I yaitu dalam pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model multiliterasi investigasi mengalami beberapa kesulitan, hal ini terjadi karena pembelajaran dengan model multiliterasi investigasi merupakan model pembelajaran baru sehingga siswa merasa kesulitan dalam mengikuti langkah-langkah pembelajaran.

            Pada awal pertemuansikap berani dan percaya diri juga belum muncul pada diri siswa, sehingga sebagian besar siswa terlihat pasif dan kurang percaya diri dalam kegiatan tanya jawab terutama dalam menanggapi pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh guru. Adapun perbaikan yang dilakukan oleh guru yakni dengan mengajukan pertanyaan lanjutan. Hal tersebut efektif dalam mengatasi kepasifan siswa dalam mengutarakan pendapatnya, selaras dengan yang dikemukakan Tim FKIP (2008) bahwa pertanyaan lanjutan digunakan sebagai senjata ampuh dalam mengembangkan kemampuan berpikir siswa serta memperbesar keterlibatan siswa dalam pembelajaran.

            Pembelajaran kelompok pada siklus I tidak berjalan dengan efektif. Dikarenakan kurang efektifnya proses pembelajaran dalam kelompok besar dan belum terlihatnya sikap bekerjasama yang efektif, maka peneliti mengubah kelompok belajar siswa. Kelompok belajar dipecah menjadi kelompok kecil yakni ke dalam 8 kelompok yang dibagi dengan menggunakan teknik berhitung, agar kelompok yang dihasilkan terbentuk secara heterogen. Selanjutnya, dalam menambah semangat dan keuletan siswa dalam menulis serta membangun sikap bekerjasama antar anggota kelompok, perbaikan yang dilakukan adalah peneliti  mengubah proses pembelajaran menjadi bersifat turnamen pengamatan, yakni siswa yang mampu melakukan pengamatan dengan baik dan menyajikan hasil laporan dengan kompleks akan mendapatkan gelar “Pengamat Terbaik” dan mendapatkan hadiah (reward).

            Kemudian dalam mengatasi kesulitan siswa ketika mengikuti langkah-langkah pembelajaran, guru memberikan pemodelan menulis yakni guru memberikan contoh laporan yang telah jadi dalam rangka memberikan gambaran kepada siswa mengenai bentuk serta isi dari sebuah laporan pengamatan. pemodelan merupakan upaya paling konkret yang dapat dilakukan guru, melalui kegiatan pemodelan tersebut siswa menjadi lebih mudah memahami materi dan maksud yang disampaikan oleh guru. Adapun temuan lainnya yang ditemui peneliti diantaranya yaknisebagai berikut.

            Pada kegiatan menentukan fokus pengamatan dan judul laporan, hampir sebagian besar siswa dapat melaksanakan tugas yang guru berikan  karena peneliti memberikan kebebasan kepada siswa dalam menentukan fokus pengamatan dan judul laporan. Keberhasilan hal tersebut berkaitan dengan pendapat yang dikemukakan Bonyadi & Zeinalpur (2014)yakni pada umumnya siswa akan lebih termotivasi dan terdorong untuk menulis ketika mereka diberikan hak untuk memilih topik yang mereka inginkan.

            Pada kegiatan menulis seperti merumuskan tujuan, menulis hasil temuan, dan mengembangkan hasil tulisan ke dalam bentuk laporan, siswa merasa kesulitandalam menentukan kalimat utama dan menuangkan gagasan ke dalam bentuk tulisan.  Kendala tersebut merupakan kendala yang hampir dialami oleh semua siswa. Dalam mengatasi hal tersebut, pembelajaran menulis dilakukan dengan menulis terbimbing yakni guru memberikan petunjuk-petunjuk dalam menulis dan melakukan bimbingan secara intens. Selaras dengan yang dikemukakan Santosa, P., dkk (2009) bahwa menulis terbimbing merupakan suatu strategi yang memberikan siswa kesempatan untuk dapat menerapkan keterampilan yang telah diajarkan dan guru berperan sebagai tutor yakni membimbing siswa dalam menemukan apa yang ingin ditulisnya dan bagaimana menuliskannya secara detail, sistematis, dan menarik agar kemampuan siswa dalam menulis dapat berkembang.

            Kegiatan melakukan revisi dan mengedit hasil tulisan, kurang berjalan sesuai dengan yang diharapkan, pada awalnya guru merencanakan agar siswa dapat merevisi dengan bantuan tutor sebaya. Namun, kondisi tersebut tak dapat terwujud karena sebagain besar siswa belum mampu melakukan revisi dan pengeditan secara mandiri. Pada akhirnya peneliti membimbing siswa dalam melakukan revisi dan mengedit hasil laporan dengan lebih intens agar hasil laporan yang dibuat siswa dapat meningkat secara mandiri.

            Dalam kegiatan mempersiapkan sajian laporan agar dapat disajikan dengan menarik, siswa nampaknya belum mengeluarkan semua kemampuan kreatifnya dalm hal ini. Oleh karena itu, guru  memberikan beberapa contoh pemaduan teks dengan gambar di papan tulis untuk merangsang ide kreatif siswa, guru juga menyarankan siswa untuk dapat mewarnai gambar yang telah dibuat agar dapat terlihat lebih menarik. Upaya yang dilakukan guru merupakan penerapan konsep pembelajaran multiliterasi yakni pemanfaatan teks yang bersifat multimodal. Abidin (2015a, hlm. 94) mengemukakan bahwa teks multimodal merupakan teks yang tidak hanya dibatasi dengan kata-kata, namun lebih luas dapat berwujud gambar, visual, performa, musikal ataupun teks digital berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Penerapan konsep multimodal tersebut diterapkan peneliti dalam upaya mempermudah siswa dalam lebih menguasai dan mengembangkan proses, konsep, dan sikap yang keilmuan yang dipelajarinya.

            Dalam kegiatan melaporkan hasil laporan melalui kegiatan persentasi, siswa kurang kondusif yakni mereka asyik dengan aktivitasnya sendiri seperti bercanda, berisik, dan tidak memperhatikan persentasi. Dalam mengahadapi kondisi demikian guru melontarkan pertanyaan kepada siswa yang berisik, alhasil mereka tak mampu menjawab pertanyaan dan akhirnya guru memberi peringatan kepada semua siswa untuk kondusif dan dapat menghargai temannya yang sedang berbicara. Karena kegiatan persentasi ini bertujuan untuk membangun sikap saling menghargai atas hasil usaha dalam menulis siswa dan sebagai media penyebarluasan penyampaian suatu informasi. Hal ini sejalan dengan pendapat Morsey (dalam Tarigan, 2013) yang menyatakan bahwa menulis dipergunakan untuk melaporkan atau memberitahukan serta untuk mempengaruhi. Kegiatan persentasi juga adalah sarana publikasi poster atau slogan yang telah  dibuat siswa, sehingga kegiatan tersebut diharapkan dapat mempengaruhi siswa dalam bersikap berdasarkan poster dan slogan-slogan yang dibuat oleh siswa.

Kemudian, guru selalu melakukan apresiasi dan penguatan atas penampilan siswa dengan memberikan pandu positif. Hal tersebut dilakukan untuk dapat meningkatkan keberanian dan kepercayaan diri siswa dalam tampil di depan kelas.

            Berdasarkan pemaparan sebelumnya mengenai kendala-kendala yang peneliti alami pada siklus I, pada siklus II juga peneliti mengalami kendala yang hampir sama. Namun perbedannya, kendala yang dihadapi pada siklus II sudah cukup berkurang. Oleh karena itu, perbaikan-perbaikan yang akan dilakukan pada siklus II sama dengan yang dilakukan pada siklus I, hanya saja perbaikan yang dilakukan tentunya lebih ditingkatkan dan telah direncanakan dengan matang seperti pemilihan materi yang baru, pemberian instruksi yang lebih jelas dan singkat agar mudah dipahami, bentuk LKS yang dirancang dengan sangat berbeda dari sebelumnya, tes konsentrasi yang lebih menarik, pemberian motivasi serta penguatan yang lebih variatif, dan bimbingan lebih ekstra dalam proses pembelajaran.

Dalam proses pembelajaran menulis laporan pengamatan pada siklus III diperoleh data yang menunjukkan bahwa sebagian besar siswa telah mampu mengikuti proses pembelajaran dan mendapatkan hasil yang baik serta mampu mencapai nilai di atas KKM. Hal tersebut terjadi karena kemampuan menulis laporan pengamatan siswa telah terlatih selama 2 siklus. Meskipun masih terdapat 4 orang siswa yang belum mendapatkan hasil yang memuaskan. Oleh sebab itu, peneliti selalu membantu dan memberikan motivasi agar tidak berpatah semangat dan selalu giat belajar.

Adapun hasil dari penelitian yang telah peneliti laksanakan dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 1.1

Pemerolehan Nilai Proses dan

  •  

Pemerolehan Nilai

Siklus I

Siklus II

Siklus III

  •  
  1.  
  1.  
  1.  
  •  
  1.  
  1.  
  1.  

 

Proses pembelajaran yang telah dilaksanakan mengalami peningkatan. Peningkatan proses ini dapat dilihat dari nilai yang diperoleh siswa. Rata-rata nilai proses peserta didik pada siklus I sampai dengan siklus III mengalami peningkatan. Peningkatan rata-rata proses menulis laporan pengamatan dengan menggunakan model mulitiliterasi investigasi dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

 

Gambar 1.1

Grafik Peningkatan Rata-rata Nilai Proses Menulis Laporan Pengamatan

 

Berdasarkan Gambar 1.1, dapat diketahui bahwa rata-rata nilai proses yang diperoleh siswa pada siklus I adalah 64,4 rata-rata nilai proses yang diperoleh siswa pada siklus II adalah 77,6, dan rata-rata nilai proses yang diperoleh siswa pada siklus III adalah 86,9. Data tersebut menunjukan peningkatan yang terjadi pada pembelajaran dari mulai siklus I sampai dengan siklus III. Peningkatan ini tidak terlepas dari pemerolehan skor setiap indikatornya yang juga meningkat pada setiap siklusnya. Pemerolehan rata-rata skor pada setiap indikator yang diperoleh siswa dalam proses menulis laporan pengamatan dapat digambarkan pada gambar di bawah ini.

 

Gambar 1.2

Grafik Rata-rata Skor Setiap Indikator Proses Menulis Laporan Pengamatan

 

Berdasarkan Gambar 1.2, dapat dilihat  bahwa rata-rata skor pada setiap indikator yang diperoleh siswa  dalam proses menulis laporan pengamatan mengalami peningkatan. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan yang terjadi pada enam indikator yang ada. Pada indikator menentukan fokus pengamatan dan judul laporan, peningkatan yang terjadi dari siklus I ke siklus II sebesar 0,4 dan peningkatan dari siklus II ke siklus III sebesar 0,6. Pada indikator merumuskan tujuan, peningkatan yang terjadi dari siklus I ke siklus II sebesar 0,92 dan peningkatan dari siklus II ke siklus III sebesar 0,47. Pada indikator melakukan pengamatan dan menulis hasil temuan, peningkatan yang terjadi dari siklus I ke siklus II sebesar 0,79 dan peningkatan dari siklus II ke siklus III sebesar 0,23. Pada indikator mengembangkan hasil temuan, peningkatan yang terjadi dari siklus I ke siklus II sebesar 0,33 dan peningkatan dari siklus II ke siklus III sebesar 0,34. Pada indikator merevisi dan mengedit, peningkatan yang terjadi dari siklus I ke siklus II sebesar 0,33 dan peningkatan dari siklus II ke siklus III sebesar 0,28. Kemudian, pada indikator melaporkan hasil, peningkatan yang terjadi dari siklus I ke siklus II sebesar 0,37 dan peningkatan dari siklus II ke siklus III sebesar 0,71.

Berdasarkan penjelasan di atas, indikator yang paling meningkat pada setiap siklusnya yaitu proses pada aspek merumuskan tujuan pengamatan. Hal ini disebabkan karena siswa sudah terbiasa dalam merumuskan tujuan pengamatan dan juga bimbingan yang diberikan oleh guru berpengaruh besar terhadap hasil tulisan yang dibuat oleh siswa. Adapun indikator yang peningkatannya paling rendah adalah indikator merevisi dan mengedit. Hal tersebut terjadi karena siswa pemahaman siswa dalam penggunaan huruf kapital, penggunaan tanda baca yang tepat serta penggunaan kata penghubung antar kata dan kalimat memang masih rendah sehingga menyebabkan hasil tulisan siswa memuat banyak kesalahan. Upaya yang telah dilakukan yakni denganmemberikan lagu “Huruf Kapital”, lirik yang terdapat dalam lagu tersebut memaparkan beberapa kata kunci dalam penggunaan huruf kapital. Kemudian dalam hal pemahaman materi mengenai penggunaan tanda baca yang tepat serta penggunaan kata penghubung antar kata dan kalimat, upaya yang dilakukan peneliti adalah memberikan berbagai macam contoh kata penghubung yang dapat digunakan siswa dalam menulis dan mencontohkan penggunaan tanda  baca yang tepat serta melakukan bimbingan secara mandiri.

Sejalan dengan peningkatan proses pembelajaran menulis laporan pengamatan, hasil belajar dengan menggunakan model multiliterasi investigasi di kelas V SDN Cipamokolan 1 juga meningkat. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata nilai hasil kemampuan laporan pengamatan yang diperoleh oleh siswa dari siklus I sampai dengan siklus III. Peningkatan rata-rata nilai hasil kemampuan menulis laporan pengamatan tersebut dapat dilihat melalui gambar di bawah ini.

Gambar 1.3

Grafik Peningkatan Rata-rata Nilai Hasil KemampuanMenulis Laporan Pengamatan

 

Berdasarkan Gambar 1.3, dapat dilihat bahwa rata-rata nilai hasil kemampuan menulis laporan pengamatan yang diperoleh siswa pada siklus I adalah 62,7, nilai rata-rata hasil kemampuan yang diperoleh siswa pada siklus II adalah 74,4, dan nilai rata-rata hasil kemampuan yang diperoleh siswa pada siklus III adalah 86,5. Data tersebut menunjukan bahwa nilai rata-rata hasil kemampuan menulis laporan pengamatan menggunakan model multiliterasi investigasi mengalami peningkatan. Hal ini juga ditunjang oleh peningkatan skor pada setiap indikatornya.  Peningkatan rata-rata skor pada setiap indikator penilaian hasil kemampuan dapat dilihat dari gambar di bawah ini.

 

Gambar 1.4

Rata-rata Skor pada Setiap Indikator Hasil Kemampuan Menulis Laporan Pengamatan

 

Berdasarkan Gambar 1.4, dapat dilihat  bahwa rata-rata skor pada setiap indikator yang diperoleh siswa  dalam hasil kemampuan menulis laporan pengamatan mengalami peningkatan. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan yang terjadi pada indikator yang ada. Pada indikator menentukan isi laporan, peningkatan yang terjadi dari siklus I ke siklus II sebesar 0,3 dan peningkatan dari siklus II ke siklus III sebesar 0,34. Pada indikator sistematika laporan, peningkatan yang terjadi dari siklus I ke siklus II sebesar 0,82 dan peningkatan dari siklus II ke siklus III sebesar 0,39.Pada indikator bahasa dan penggunaan tanda baca, peningkatan yang terjadi dari siklus I ke siklus II sebesar 0,45 dan peningkatan dari siklus II ke siklus III sebesar 0,53.Kemudian, pada indikator penyajian laporan, peningkatan yang terjadi dari siklus I ke siklus II sebesar 0,33 dan peningkatan dari siklus II ke siklus III sebesar 0,66.

Berdasarkan penjelasan di atas, indikator yang paling meningkat dilihat dari progresifitas kenaikan pada grafik rekapitulasi skor rata-rata ketercapaian indikator pada hasil kemampuan menulis laporan pengamatan dengan menggunakan model multiliterasi investigasi adalah aspek sistematika laporan yang paling meningkat. Meningkatnya kemampuan menulis laporan pengamatan pada aspek sistematika laporan dipengaruhi oleh penggunaan bentuk LKS yang digunakan oleh siswa. Berbeda dari pembelajaran biasanya dalam menulis laporan pengamatan yang hanya menggunakan selembar kertas sebagai media dalam menulis hasil laporan, pembelajaran model multiliterasi investigasi ini menggunakan LKS dengan berbagai macam bentuk dan dirancang tak hanya sebagai LKS namun juga sebagai produk akhir dalam kegiatan menulis. Penyusunan produk LKS telah dirancang dan disesuaikan dengan sistematika dalam menulis laporan pengamatan sehingga siswa menjadi hapal betul setiap bagian bagian yang terdapat dalam LKS tersebut.

Adapun indikator yang paling rendah peningkatannya dilihat dari progresifitas kenaikan pada grafik rekapitulasi skor rata-rata ketercapaian indikator pada hasil kemampuan menulis laporan pengamatan dengan model multiliterasi investigasi adalah pada aspek isi laporan. Hal ini dikarenakan pembendaharaan kata yang dimiliki siswa masih kurang dan kemampuan berfikir kritis siswa belum terlatih. Dalam meningkatkan kemampuan menulis siswa memang dibutuhkan waktu yang cukup dan latihan yang berulang-ulang. Tarigan (2013) juga mengemukakan bahwa menulis menuntut pengalaman, waktu, kesempatan, pelatihan, keterampilan-keterampilan khusus, dan pengajaran langsung menjadi seorang penulis. Sehingga untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam aspek isi laporan diperlukan bimbingan yang intensif.

Upaya yang telah dilakukan oleh peneliti yakni dengan menerapkan asas modelling yakni memberikan contoh isi laporan yang dibuat dengan menggunakan  bahasa yang baku dan penyajian yang menarik sesuai dengan pendapat Hartono (2013, hlm. 94) asas modelling adalah proses pembelajaran dengan memeragakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru siswa. Peneliti juga membantu siswa dengan memberikan ide-ide pokok dalam setiap paragraf yang akan disusun oleh siswa sehingga hasil laporan siswa dapat tersusun dengan terstruktur dan kompleks.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksnakan oleh peneliti dapat dipahami bahwa model multiliterasi investigasi dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis laporan pengamatan. Pembelajaran menulis dengan menggunkan model multiliterasi investigasi dapat membawa banyak dampak positif bagi siswa. Penerapan konsep multiliterasi yang telah diintegrasikan dengan keterampilan abad ke 21 tentunya memberikan suatu kondisi belajar yang berbeda dengan sebelumnya. Dalam praktik pembelajaran kini siswa telah terlatih dan membiasakan diri untuk beraktivitas melakukan penelitian sederhana, pengamatan, eksperimen, observasi maupun aktivitas pengumpulan data dari berbagai sumber dengan melakukan wawancara ataupun kegiatan menunjang yang lainnya.Melalui pembelajaran multiliterasi yang bersifat menantang ini mampu menumbuhkan rasa percaya diri, meningkatkan kemampuan berfikir serta berhasil melatih daya kreatif siswa.

Selain dari keunggulan dari penggunaan model multiliterasi investigasi dalam meningkatkan kemampuan menulis laporan pengamatan terdapat juga beberapa kelemahan yang terdapat pada penelitian yaitu dalam penerapan model tersebut dibutuhkan pemekiran kritis siswa. Oleh karena itu, diperlukan kepandaian guru dalam mengasah kemampuan berfikir kritis siswaagar tulisan yang dihasilkan siswa dapat menyajikan tulisan yang berkualitas. Jadi pada intinya guru adalah kunci kesuksesan siswa dan atas sebab itulah  bimbingan, arahan, dan pemberian motivasi yang diberikan guru pada siswa perlu ditingkatkan, sehingga guru dapat mengetahui kelemahan siswa secara tepat dalam  menulis.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai penerapan model multiliterasi investigasi pada pembelajaran menulis laporan pengamatan di kelas V SDN Cipamokolan 1, peneliti dapat memberikan kesimpulan terhadap penelitian yang dilakukan. Kesimpulan tersebut disusun berdasarkan hasil analisis dari proses dan hasil pembelajaran yang telah dilakukan. Adapun kesimpulan dari penelitian ini yakni sebagai berikut.

  1. Proses belajar siswa dalam menulis laporan pengamatan dengan menggunakan model multiliterasi investigasi mengalami peningkatan yang signifikan. Adapun peningkatan proses belajar tersebut ditunjukan siswa melalui beberapa hal, diantaranya yakni siswa semakin aktif dan percaya diri dalam mengikuti proses pembelajaran, siswa juga antusias dalam melakukan pengamatan, serta siswa sudah mulai mampu berfikir kritis dengan menganalisis dan mengembangkan hasil temuan yang telah ditemukan. Pada siklus 1 hasil penilaian proses belajar nilai rata-rata yang diperoleh siswa yakni 64,4. Pada pelaksanaan siklus 2 hasil penilaian proses mengalami peningkatan yang signifikan, nilai rata-rata yang diperoleh siswa yakni 77,6. Kemudian, pada siklus 3 hasil penilaian proses belajar nilai rata-rata yang diperoleh siswa kembali meningkat dengan signifikan menjadi 86,9. Hal tersebut membuktikan bahwa model multiliterasi investigasi tepat untuk diterapkan dalam pembelajaran menulis laporan pengamatan.
  2. Kemampuan siswa dalam menulis laporan pengamatan dengan menggunakan model multiliterasi investigasi mengalami peningkatan yang signifikan. Penggunaan LKS yang berbasis multimodal merupakan faktor utama dalam meningkatkan hasil kemampuan siswa. LKS yang digunakan siswa dirancang dengan beragam bentuk, disusun berdasarkan sistematika laporan, praktik penulisan dilakukan dengan menggabungkan gambar visual dengan konten tulisan, serta penyajian yang dibuat menarik. Hal tersebut memberikan pengalaman baru, kemudahan serta kebermaknaan dan memotivasi siswa dalam menulis laporan pengamatan. Pada pelaksanaan siklus 1, nilai rata-rata hasil kemampuan menulis laporan pengamatan yang diperoleh siswa yaitu 62,7. Pada siklus 2 nilai rata-rata kemampuan menulis laporan pengamatan yang diperoleh siswa mengalami peningkatan yang cukup baik yaitu 74,4. Kemudian, pada siklus 3 nilai rata-rata hasil kemampuan menulis laporan pengamatan yang diperoleh siswa mengalami peningkatan yang signifikan dari siklus-siklus sebelumnya yaitu menjadi 86,5. Hal tersebut menunjukkan bahwa model multiliterasi investigasi tepat untuk diterapkan dalam pembelajaran menulis laporan pengamatan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Panahandeh, E., & Esfandiari, S. (2014). The Effect of Planning and Monitoring as Metacognitive Strategies on Iranian EFL Learners ’ Argumentative Writing Accuracy. Procedia - Social and Behavioral Sciences, 98, hlm.1409–1416.

Laire, D., Casteleyn, J., & Mottart, A. (2012). Social Media ’ s Learning Outcomes within Writing instruction in the EFL Classroom: Exploring , Implementing and Analyzing Storify. Procedia - Social and Behavioral Sciences, 69(Iceepsy), hlm.442–448.

Nosratinia, M., & Adibifar, S. (2014). The Effect of Teaching Metacognitive Strategies on Field- dependent and Independent Learners ’ Writing. Procedia - Social and Behavioral Sciences, 98, hlm.1390–1399.

Tok, Åž. (2015). Effects of creative writing activities on students ’ achievement in writing , writing dispositions and attitude to English ., 174, hlm. 1635–1642.

 

Abidin, dkk. (2015a). Pembelajaran Literasi dalam Konteks Pendidikan Multiliterasi, Integratif , dan Berdiferensiasi. Bandung: Rizki Press.

 

Abidin, Y. (2014). Desain Sistem Pembelajaran dalam Konteks Kurikulum 2013. Bandung: PT Refika Aditama.

 

Wardhani dan Wihardit (2008). Materi Pokok Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Universitas Terbuka.

 

Tim FKIP (2008). Pemantapan Kemampuan Mengajar. Jakarta: Universitas Terbuka.

Bonyadi, A., & Zeinalpur, S. (2014). Perceptions of Students Towards Self-selected and Teacher- assigned Topics in EFL Writing. Procedia - Social and Behavioral Sciences, 98, hlm.385–391.

Santosa, P., dkk. (2011). Materi dan Pembelajaran Bahasa IndonesiaSD. Jakarta: Universitas Terbuka.

 

Tarigan, H.G. (2013). Menulis Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung : CV. Angkasa.

 

Hartono, R. (2013). Ragam Model Mengajar yang Mudah Diterima Murid. Jogjakarta: Diva Press.

 

Gina Elvina Sofyan1, Yunus Abidin2, Tita Mulyati3

S1- Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Ilmu Pengetahuan,

Universitas Pendidikan Indonesia

Email: ginaelvinas@yahoo.com

 




sumber : Gina Elvina Sofyan, S.Pd
asd r57 txt mavi yolculuk dizi izle Led Ekran izmir escort replika saat replika saat replika saat gümüş alyans film izle türkçe bahisnow en güvenilir bahis siteleri https://www.ankaradershaneleri.gen.tr/ instagram beğeni hilesi soyunma dolabı omegle random chat