/ default

Publikasi Ilmiah
Gerakan Literasi Sekolah


MENINGKATKAN PENGHARGAAN DIRI SISWA MELALUI KONSELING KELOMPOK DENGAN TEKNIK LINGKARAN PUJIAN (COMPLIMENT CIRCLES) (
| 769 views


  1. PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang Masalah

Dalam Undang-undang No. 20 tahun 2003 Bab II Pasal 3 menyatakan sebagai berikut:

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepadaTuhan Yang Maha Esa, Berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

 

Fungsi dan tujuan pendidikan tersebut menunjukkan karakter pribadi peserta didik yang diharapkan terbentuk melalui pendidikan. Pendidikan yang dapat mencapai fungsinya adalah pendidikan yang menghasilkan siswa yang pintar dan terampil dalam bidang akademik, serta memiliki kemampuan atau kematangan dalam aspek kepribadian. (Yusuf dan Nurihsan 2006:4)

Harga diri merupakan salah satu kebutuhan penting manusia. Maslow dalam teori hierarki kebutuhannya menempatkan kebutuhan individu akan harga diri sebagai kebutuhan dasar yang paling tinggi setelah kebutuhan biologis, rasa aman, dan dicintai. Frey dan Carlock (Utama:2010) menyatakan:

Harga diri adalah istilah penilaian yang mengacu pada penilaian positif, negatif, netral, dan ambigu yang merupakan bagian dari konsep diri, tetapi bukan berarti cinta-diri sendiri. Individu dengan harga diri yang tinggi menghormati dirinya sendiri, mempertimbangkan dirinya berharga,  dan  melihat  dirinya  sama  dengan  orang  lain.  Sedangkan  harga  diri rendah pada umumnya merasakan penolakan, ketidakpuasan diri, dan meremehkan diri sendiri.

Kelas VIII i SMP Negeri I Cicalengka merupakan kelas yang menjadi perhatian penulis untuk dijadikan objek penelitian. Dikarenakan ada beberapa orang siswa di kelas tersebut mempunyai masalah dengan penghargaan terhadap dirinya sendiri. Hal ini ditunjukkan dengan sikap siswa  yang sulit diatur, keluar / pergi dari rumah saat ada masalah dengan orang tua dan bergabung dengan kelompok tertentu (gank), bergaul agak bebas serta berbicara dan bersikap kasar pada teman-temannya. Ketika diberikan angket tentang kemampuan menghargai diri sendiri hasilnya hanya 63% (rata-rata sedang), artinya kemampuan dalam menghargai dirinya sendiri masih perlu ditingkatkan.

Upaya bantuan sudah diberikan beberapa kali dengan teknik konseling individual yang lebih cenderung ke arah pemberian nasehat, konsultasi dengan orang tua / wali serta wali kelasnya sudah sering dilakukan, hasilnya ternyata relatif sementara. Ketika siswa yang bersangkutan mengalami masalah baru atau bertemu dengan teman-temannya di luar lingkungan sekolah, hal tersebut terulang kembali.

Berdasarkan masukan dan diskusi dengan guru-guru BK lain, penulis sepakat dan didukung oleh guru-guru BK yang lain untuk menggunakan konseling kelompok dengan teknik lingkaran pujian. Tekniklingkaran pujian (Compliment Circles) merupakan suatu teknik yang dikembangkan oleh Linda Campbell, dkk (2006) dalam bukunya “Teaching & Learning Through Multiple Intelligences” (Kegiatan belajar dan mengajar melalui kecerdasan jamak).

 

  1. Rumusan Masalah dan Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka rumusan masalah sebagai berikut: “Apakah dengan melakukan konseling kelompok dengan teknik lingkaran pujian  (Compliment Circles) dapat meningkatkan penghargaan diri siswa?

Dari perumusan masalah tersebut, selanjutnya diuraikan dalam pertanyaan penelitian sebagai berikut :

  1. Apakah konseling kelompok dengan teknik lingkaran pujian dapat meningkatkan kemampuan penghargaan diri siswa?
  2. Bagaimana proses peningkatan penghargaan diri siswa sebelum dan sesudah melaksanakan kegiatan konseling kelompok dengan teknik lingkaran pujian?
  3. Seberapa besar peningkatan penghargaan diri siswa setelah melakukan konseling kelompok dengan kegiatan teknik lingkaran pujian?
  1. Tujuan Penelitian

Secara umum tujuan dari kegiatan penelitian ini adalah meningkatkan penghargaan diri siswa melalui kegiatan konseling kelompok dengan teknik lingkaran pujian.

Secara khusus tujuannya adalah

  1. Mengetahui  gambaran/peningkatan  penghargaan diri siswa melalui konseling kelompok dengan teknik lingkaran pujian;
  2. Mengetahui proses peningkatan penghargaan diri siswa sebelum dan sesudah melaksanakan konseling kelompok dengan  teknik lingkaran pujian; dan
  3. Mengukur seberapa besar peningkatan penghargaan diri siswa setelah melakukan konseling kelompok dengan teknik lingkaran pujian.
  1. METODE

Metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research), atau dalam kegiatan layanan bimbingan dan konseling dikenal dengan istilah Penelitian Tindakan Bimbingan dan Konseling.

Menurut Carr dan Kemmis ; Penelitian Tindakan adalah suatu bentuk penelaahan atau inquiri melalui refleksi diri yang dilakukan oleh gurudalam situasi sosial (termasuk pendidikan) untuk memperbaiki rasionalitas dan kebenaran serta keabsahan dari (a) praktik kependidikan yang mereka lakukan sendiri, (b) pemahaman terhadap praktik tersebut dan (c) situasi kelembagaan tempat praktik tersebut dilaksanakan. (Muslihuddin; 2010:8)

 

Tujuan penelitian secara umum, untuk memperbaiki dan meningkatkan praktik layanan bimbingan dan konseling yang bertolak dari kebutuhan menanggulangi berbagai permasalahan bimbingan dan konseling aktual di sekolah.

Penelitian Tindakan Bimbingan dan Konseling dilaksanakan di kelas VIII I. Jumlah siswa sebanyak 45 orang terdiri atas siswa perempuan sebanyak 27 orang dan siswa laki-laki sebanyak 18 orang.

  1. ahapan yang dilakukan dalam PTBK  mengacu pada pendapat Kurt Lewin terdiri atas empat komponen, yaitu : (1) Perencanaan (Planning), (2) Tindakan (Acting), (3) Pengamatan (Observing), dan (4) Refleksi (Reflekting). (Muslihuddin, 2010;68)
  1. Perencanaan
    1. egiatan pendahuluan berupa permohonan izin penelitian kepada kepala sekolah, sosialisasi dengan teman sejawat, dan siswa. Tahap pra-PTBK meliputi : identifikasi masalah, perumusan masalah, analisis penyebab masalah, dan pengembangan intervensi (solution/action). Juga diperhitungkan kendala yang mungkin timbul pada saat penelitian berlangsung.
  2. Pelaksanaan
    • merupakan implementasi dari perencanaan, mengacu pada program satuan layanan. Oleh karenanya, kekurangan atau kelemahan yang dilakukan oleh guru pelaksana tindakan harus disikapi secara positif demi perbaikan layanan bimbingan dan konseling.
  3.  Pengamatan

Kegiatan pengamatan dilakukan pada saat tindakan. Hasil pengamatan berupa data-data pelaksanaan tindakan yang digunakan sebagai bahan analisis, refleksi, dan tindak lanjut. Peneliti dibantu oleh dua orang observer dari teman sejawat (Guru Bimbingan dan Konseling). Peneliti penyiapkan lembar observasi dan melakukan pertemuan awal untuk mengomunikasikan instrumen penelitian.

  1. Refleksi

Pada tahap refleksi, peneliti merenungkan kegiatan pelaksanaan, menganalisis data-data, dan instrumen penelitian untuk membuat kesimpulan.

  1. INSTRUMEN PENELITIAN

Untuk mendapatkan data, instrument yang digunakan sebagai berikut

  1. Angket skala penghargaan ini sebagai tes untuk mengungkap tingkat penghargaan diri siswa
  2. Satuan kegiatan layanan Bimbingan dan konseling, sebagai pedoman peneliti dalam melaksanakan kegiatan
  3. Lembar / pedoman observasi yang disusun untuk memperoleh gambaran langsung tentang proses kegiatan. Observasi dilakukan oleh rekan guru BK lain sebagai observer untuk mengamati kegiatan peneliti dalam melaksanakan tindakan, dan keaktifan siswa dalam proses konseling kelompok.
  4. Lembar refleksi kegiatan konseling kelompok, yang berisi sejumlah pertanyaan-pertanyaan untuk mengungkap kesan dan refleksi siswa terhadap kegiatan konseling kelompok lingkaran pujian.

 

  1. TEKNIK PENGOLAHAN DATA

            Analisis data dilakukan secara bertahap. Tahap pertama adalah penyeleksian dan pengelompokkan, tahap kedua, memaparkan atau mendeskripsikan, dan tahap ketiga, menyimpulkan.

Pengolahan data pada penelitian ini dengan menganalisis data secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif digunakan untuk menganalisis data yang menunjukkan proses interaksi yang terjadi selama kegiatan berlangsung. Data diperoleh dari lembar pengamatan, catatan lapangan, dan dilengkapi dengan dokumen yang berupa photo. Adapun analisis kuantitatif hanya sebagai penunjang untuk melihat ada tidaknya peningkatan terhadap penghargaan diri siswa. Hasil kegiatan sebagai data kuantitatif, diperoleh dari hasil angket skala penghargaan diri  Pengolahan data angket menggunakan skor dengan skala per-nomor lalu dimasukan dalam kategori yang terdapat dalam tabel 1 berikut :

Tabel 1. Kategori Skor Skala Harga Diri:

Jumlah Skor

  •  
  •  

14 - 21

Sangat Rendah

Menderita dan tertekan

22 - 30

  •  

Setengah-setengah, kurang menghargai dirinya

31 - 39

  •  

Lumayan bagus

40 - 48

  •  

Harga dirinya positif dan sehat

49 - 56

Sangat Tinggi

Harga dirinya positif dan sikapnya luar biasa.

 

  1. HASIL DAN PEMBAHASAN
    1. Hasil Penelitian
  1. Identifikasi Awal

Langkah awal yang dilakukan peneliti dalam menentukan subjek penelitian adalah dengan mengidentifikasi perkembangan siswa dalam melakukan proses pembelajaran. Beberapa kasus/masalah siswa di kelas yang dijadikan subjek dan setting penelitian, beberapa siswa mengalami berbagai masalah yang berkaitan dengan kurangnya penghargaan terhadap dirinya sendiri, menganggap bahwa dirinya tidak berharga. Hal tersebut diperkuat dengan data hasil tes penghargaan diri siswa yang menunjukkan bahwa rata-rata siswa hanya memiliki penghargaan diri yang cukup/sedang (63%).

  1. Perencanaan Siklus 1

Dalam perencanaan peneliti melakukan hal-hal berikut :

  1. Menyusun Satuan Layanan bimbingan dan Konseling tentang menghargai diri sendiri. 2)Mempersiapkan skala pilihan (angket) untuk mengukur harga diri yang dapat membantu siswa menilai dirinya sendiri. 3) Membuat lembar observasi terhadap guru dan siswa. 4) Menyusun daftar pertanyaan sebagai refleksi siswa terhadap kegiatan.
  1. Pelaksanaan

Pelaksanaan Siklus 1 pertemuan pertama dilaksakan pada hari Rabu, jam pelajaran 1 dan 2 di mulai dari pukul 07.10 sampai dengan 08.30 WIB. Mengawali kegiatan, peneliti memberi salam, mengondisikan siswa untuk antusias dan semangat dalam mengikuti kegiatan, menuliskan topik/tema di papan tulis, mengabsen, lalu melakukan appersepsi dan menjelaskan materi secara singkat tentang konsep menghargai diri yang disertai dengan tanya jawab. Selanjutnya, peneliti menyampaikan sebuah cerita tentang dengan mempergunakan media uang. Sebagai kegiatan penutup, peneliti bersama siswa membuat kesimpulan dan aplikasi konsep penghargan diri dalam kehidupan sehari-hari.

Pertemuan kedua dilaksanakan pada hari Selasa, jam pelajaran ke 5 dan 6. Kegiatan diawali dengan appesepsi tentang konsep penghargaan diri. Lalu kegiatan konseling kelompok dengan teknik lingkaran pujian. Peneliti menjelaskan langkah-langkah kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa. Selanjutnya, peneliti meminta siswa yang diidentifikasi mengalami permasalahan dalam menghargai dirinya untuk duduk di tengah lingkaran lalu meminta sepuluh orang siswa yang lain untuk duduk mengelilingi lalu memberikan pujian/penghargaan terhadap siswa yang bermasalah tersebut. Peneliti meminta seorang siswa mencatat kata-kata pujian dari kesepuluh siswa terhadap siswa yang bermasalah. Sebagai kegiatan penutup, siswa mengisi skala penilaian harga diri, lalu bersama-sama dinilai sendiri.

  1. Pengamatan

Selama proses kegiatan layanan, pengamat/observer mengamati kegiatan dengan menggunakan lembar observasi untuk guru dan siswa. Hal-hal yang diobservasi pada Pelaksanaan Siklus 1 adalah cara guru pembimbing/konselor melaksanakan layanan bimbingan klasikal dan konseling kelompok sudah sesuai dengan satuan layanan bimbingan dan konseling yang telah dibuat atau belum, selain itu juga dilihat aktivitas siswa dalam mengikuti kegiatan layanan bimbingan.

Data hasil observasi aktivitas guru pada Pertemuan 1 Siklus 1 tampak pada tabel berikut :

Tabel 2: Format Pengamatan Guru

(Pertemuan_____1_______ / Siklus:_____1___)

  •  
  •  

Hal yang diamati

  •  
  1.  
  •  

Apersepsi / Kegiatan awal

  1. Menulis topik yang akan dibahas
  •  

 

 

  1. Mengajukan pertanyaan yang relevan

 

  •  

 

  1. Mengaitkan pertanyaan dengan kejadian sehari-hari

 

  •  

 

  1. Mengungkapkan konsepsi awal siswa

 

  •  

 

  1. Bertanya secara klasikal
  •  

 

 

  1. Bertanya secara individual

 

  •  

 

Kegiatan Inti

  1. Menjelaskan materi
  •  

 

 

  1. Mendorong siswa berperan dalam konseling kelompok

 

 

  •  
  1. Membimbing siswa dalam konseling kelompok

 

 

  •  
  1. Menanggapi pertanyaan siswa selama kegiatan

 

 

  •  

Pengembangan Aplikasi Konsep

  1. Mengembangkan materi
  •  

 

 

  1. Mengaplikasikan konsep-konsep dalam kehidupan sehari-hari

 

  •  

 

 

  1. Memberi kesempatan kepada siswa melakukan refleksi

 

  •  

 

Kegiatan Penutup

Mengungkapkan makna kegiatan

Dan Menyimpulkan

 

  •  

 

 

 

Tabel 3: Format Pengamatan Kegiatan Siswa

(Pertemuan :1Siklus:1)

  •  
  •  

Hal yang diamati

  •  

Cukup aktif

Kurang aktif

Apersepsi / Kegiatan awal

  1. Ketertarikan siswa terhadap kegiatan layanan bimbingan

 

  •  

 

  1. Menanggapi pertanyaan peneliti

 

  •  

 

  1. Keberanian mengemukakan pendapat

 

  •  

 

Kegiatan Inti

  1. Melakukan tes angket tentang harga diri

 

 

  •  
  1. Menilai tingkat penghargaan terhadap dirinya sendiri

 

 

  •  
  1. Diskusi dalam menilai hasil angket
  2. Aktif berpartisipasi dalam kegiatan Konseling Kelompok
  3. Antusias
  4. Serius dan sungguh-sungguh

 

 

 

  •  
  •  
  •  
  •  

Pengembangan Aplikasi Konsep

  1. Memberikan contoh konsep penghargaan diri dalam kehidupan sehari-hari

 

  •  

 

  1. Menyampaikan kesan dan pesan selama mengikuti kegiatan

 

  •  

 

Kegiatan Penutup

Menyimpulkan bersama

 

  •  

 

 

  1. Refleksi

Refleksi dilakukan setelah Siklus 1 selesai, bertempat di ruang bimbingan dan konseling, dihadiri oleh peneliti dan pengamat. Peneliti mengemukakan temuannya selama kegiatan juga melihat data hasil obseravasi dan merekapitulasi hasil tes skala/angket siswa.

Adapun refleksi siklus pertama diperoleh data sebagai berikut : (1) Dalam appersepsi siswa masih ragu-ragu dalam menjawab pertanyaan peneliti meskipun siswa cukup aktif, (2) konsep awal siswa tentang penghargaan diri masih belum terarah, (3) Dalam kegiatan layanan klasikal siswa cukupantusias memperhatikan, (4) dalam pengisian angket siswa membutuhkan waktu yang agak lama dari yang dialokasikan, (5) dalam diskusi kelas masih memberikan jawaban yang serempak sehingga terkesan ramai/ribut, (6) dalam pelaksanaan konseling kelompok masih belum menaati aturan main sepenuhnya, (7) Dalam kesimpulan dan aplikasi konsep masih terkesan sederhana, dan (8) evaluasi dan refleksi hasil kegiatan dilaksanakan secara lisan.

Rekomendasi perbaikan di Siklus 2 adalah peneliti harus meningkatkan kemampuannya dalam : (1) Memotivasi siswa dalam menjawab pertanyaan peneliti, (2) Menjelaskan konsep penghargaan diri berdasarkan teori keilmuan, (3) mendorong siswa untuk lebih antusias, (4) menyediakan waktu yang cukup untuk mengisi angke,t (5) mengarahkan dan membimbing siswa dalam diskusi kelas, (6) Lebih mempertegas aturan dalam kegiatan konseling kelompok, (7) Mengarahkan siswa dalam menyimpulkan dan mengaplikasikan konsep, dan (8) evaluasi dan refleksi hasil kegiatan dilaksanakan secara tertulis.

  1. Perencanaan Siklus 2

Berdasarkan hasil refleksi Siklus 1, Dalam perencanaan Siklus 2 peneliti melakukan hal-hal berikut (a) Mempersiapkan skala pilihan (angket) untuk mengukur harga diri yang dapat membantu siswa menilai dirinya sendiri  (b) Membuat lembar observasi terhadap guru dan siswa serta catatan lapangan selama pelaksanaan tindakan, (c) Menyusun daftar pertanyaan sebagai refleksi siswa terhadap kegiatan.

  1. Pelaksanaan

Pelaksanaan pertemuan Siklus 2 dilaksakan pada hari senin, jam pelajaran 1 dan 2 dimulai dari pukul 07.50 sampai dengan 09.00 WIB dengan mengikuti skenario yang telah dibuat untuk pelaksanaan tindakan siklus 2.

Dalam pertemuan siklus kedua, peneliti secara singkat menjelaskan teori kebutuhan manusia akanpenghargaan diri, membimbing diskusi kelas dengan mengajukan pertanyaan untuk memancing pendapat dan sikap siswa mengenai harga dirinnya serta melakukan konseling kelompok terhadap dua orang siswa yang memiliki penghargaan diri yang rendah.

Kegiatan konseling berjalan lebih lancar dibandingkan pada pertemuan sebelumnya, siswa kasus lebih rileks tidak kikuk, begitupun teman-temannya dengan lancar menyampaikan pujiannya dengan ikhlas. Pertemuan diakhiri dengan pengisian angket serta refleksi kegiatan secara tertulis.

  1. eningkatan skor angket penghargaan diri siswa pra siklus, siklus 1 dan siklus 2 ini pada tabel 4 berikut:

REKAPITULASI HASIL PRASIKLUS, SIKLUS 1, DAN SIKLUS 2

 SKOR ANGKET PENGHARGAAN DIRI SISWA

  •  

Nama Siswa

Pra Siklus

Siklus 1

Siklus 2

  1.  

Ade Fitri Cahyani

  1.  
  1.  
  1.  
  1.  

Afrida Riyanti

  1.  
  1.  
  1.  
  1.  

Agit Diwan Sutrisna

  1.  
  1.  
  1.  
  1.  

Ahmad Doni Saputra

  1.  
  1.  
  1.  
  1.  

Aisah Nurati P

  1.  
  1.  
  1.  
  1.  

Akmal Havidz Azhar

  1.  
  1.  
  1.  
  1.  

Alda Aprilia

  1.  
  1.  
  1.  
  1.  

Alvi Fadilah

  1.  
  1.  
  1.  
  1.  

Amalia Anggita Sari

  1.  
  1.  
  1.  
  1.  

Annisa SauvikaUmami

  1.  
  1.  
  1.  
  1.  

Anshari Madya Sukma

  1.  
  1.  
  1.  
  1.  

Aulia Agung Prasetyo

  1.  
  1.  
  1.  
  1.  

Cindy Ramadanti

  1.  
  1.  
  1.  
  1.  

David Kanurhan Saputra

  1.  
  1.  
  1.  
  1.  

Eneng Restu Utami

  1.  
  1.  
  1.  
  1.  

Hasniah Jamillaha Nur

  1.  
  1.  
  1.  
  1.  

Iman Rahmat

  1.  
  1.  
  1.  
  1.  

Intan Amalia

  1.  
  1.  
  1.  
  1.  

Ira Prameswari

  1.  
  1.  
  1.  
  1.  

Irfan Nugraha

  1.  
  1.  
  1.  
  1.  

Joel Frend Rogandan Sinambela

  1.  
  1.  
  1.  
  1.  

M. Fikri Wendiana

  1.  
  1.  
  1.  
  1.  

Maulana Yusuf

  1.  
  1.  
  1.  
  1.  

Mega Lestari

  1.  
  1.  
  1.  
  1.  
  •  
  1.  
  1.  
  1.  
  1.  

Noertya Putri

  1.  
  1.  
  1.  
  1.  
  •  
  1.  
  1.  
  1.  
  1.  

Pany Amelya

  1.  
  1.  
  1.  
  1.  

Rachman Pasya Irhamna

  1.  
  1.  
  1.  
  1.  

Rieska Alini

  1.  
  1.  
  1.  
  1.  

Rita Nurdita

  1.  
  1.  
  1.  
  1.  

Rommel Siboro

  1.  
  1.  
  1.  
  1.  

Rudi Octavian

  1.  
  1.  
  1.  
  1.  

Septio Mardia Lesmana

  1.  
  1.  
  1.  
  1.  

Silvi Septiani Sukmawati

  1.  
  1.  
  1.  
  1.  

Sinta Ramadania

  1.  
  1.  
  1.  
  1.  

Tomi bayu setiawan

  1.  
  1.  
  1.  
  1.  
  •  
  1.  
  1.  
  1.  
  1.  

Wulan Sri Rahmayanti

  1.  
  1.  
  1.  
  1.  

Xalfa Zealbi Ramadhan

  1.  
  1.  
  1.  
  1.  

Yeni nur Fitriani

  1.  
  1.  
  1.  
  1.  

Nur ifni Efendi

  1.  
  1.  
  1.  
  1.  
  •  
  1.  
  1.  
  1.  

 

  •  
  1.  
  1.  
  1.  

 

  1. Pengamatan

Tabel 5  Format Pengamatan Guru

Siklus 2

  •  
  •  

Hal yang diamati

  •  
  1.  
  •  

Apersepsi / Kegiatan awal

1. Menulis topik yang akan dibahas

  •  

 

 

2.Mengajukan pertanyaan yang relevan

  •  

 

 

  1. Mengaitkan pertanyaan dengan kejadian sehari-hari
  •  

 

 

  1. Mengungkapkan konsepsi awal siswa

 

  •  

 

  1. Bertanya secara klasikal
  •  

 

 

  1. Bertanya secara individual
  •  

 

 

Kegiatan Inti

  1.  
  •  

 

 

2.  Mendorong siswa berperan dalam konseling    kelompok

  •  

 

 

  1. Membimbing siswa dalam konseling kelompok
  •  

 

 

  1. Menanggapi pertanyaan siswa selama kegiatan
  •  

 

 

Pengembangan Aplikasi Konsep

1.   Mengembangkan materi

  •  

 

 

2. Mengaplikasikan konsep-konsep dalam kehidupan sehari-hari

  •  

 

 

 

3. Memberi kesempatan kepada siswa melakukan refleksi

  •  

 

 

Kegiatan Penutup

Mengungkapkan makna kegiatan

Dan Menyimpulkan

  •  

 

 

 

Adapun hasil observasi terhadap siswa dalam pertemuansiklus 2 adalahsebabagi berikut :

Tabel 6 : Format Pengamatan Kegiatan Siswa

  •  
  •  
  •  

Hal yang diamati

  •  

Cukup aktif

Kurang aktif

Apersepsi / Kegiatan awal

  1. Ketertarikan siswa terhadap kegiatan layanan bimbingan
  •  

 

 

  1. Menanggapi pertanyaan peneliti
  •  

 

 

  1. Keberanian mengemukakan pendapat
  •  

 

 

Kegiatan Inti

  1. Melakukan tes angket tentang harga diri
  •  

 

 

  1. Menilai tingkat penghargaan terhadap dirinya sendiri
  •  

 

 

  1. Diskusi dalam menilai hasil angket
  2. Aktif berpartisipasi dalam kegiatan Konseling Kelompok
  3. Antusias
  4. Serius dan sungguh-sungguh

 

  •  

 

  •  
  •  
  •  

 

 

 

 

 

Pengembangan Aplikasi Konsep

  1. Memberikan contoh konsep penghargaan diri dalam kehidupan sehari-hari

 

  •  

 

  1. Menyampaikan kesan dan pesan selama mengikuti kegiatan
  •  

 

 

Kegiatan Penutup

Menyimpulkan bersama

  •  

 

 

 

  1. Refleksi

Refleksi pertemuan Siklus 2 berlangsung di ruangan Bimbingan dan Konseling dan dihadiri olehpeneliti dan observer.

Dari hasil refleksi tersebut, diperoleh data bahwa (1) Dalam appersepsi siswa aktif dalam menjawab pertanyaan peneliti, (2) konsep awal siswa tentang penghargaan diri sudah berlandaskan keilmuan/teori, (3) Dalam kegiatan layanan klasikal siswa antusias, (4) dalam pengisian angket siswa tepat waktu, (5) dalam diskusi kelas telah mampu memberikan jawaban secara tertib dengan mengacungkan tangan terlebih dahulu, (6) dalam pelaksanaan konseling kelompok telah mentaati aturan main sepenuhnya, (7) Cukup aktif dalam kesimpulan dan aplikasi konsep, dan (8) evaluasi dan refleksi hasil kegiatan dilaksanakan secara tulisan.

  1. Pembahasan

     Berkaitan dengan hasil penelitian di atas, bahwa penghargaan diri merupakan salah satu kebutuhan penting manusia. Hal ini dikemukakan oleh Maslow dalam teori hierarki kebutuhannya menempatkan kebutuhan individu akan harga diri sebagai kebutuhan dasar manusia. Begitupuan Balnadi Sutadipura (Sudrajat;2009) menyebutkan bahwa kebutuhan harga diri merupakan kebutuhan seseorang untuk merasakan bahwa dirinya seorang yang patut dihargai dan dihormati sebagai manusia yang baik. Rosenberg (Utama:2010) mengemukakan karakteristik individu yang memiliki harga diri mantap yaitu memiliki kehormatan dan menghargai diri sendiri seperti adanya. Sebaliknya, individu yang memiliki harga diri rendah cenderung memiliki sikap penolakan diri, kurang puas terhadap diri sendiri, dan merasa rendah diri.

Pentingnya pemenuhan kebutuhan harga diri individu, khususnya pada kalangan remaja, terkait erat dengan dampak negatif jika mereka tidak memiliki harga diri yang mantap. Mereka akan mengalami kesulitan dalam menampilkan perilaku sosialnya, merasa inferior dan canggung. Namun apabila kebutuhan harga diri mereka dapat terpenuhi secara memadai, kemungkinan mereka akan memperoleh sukses dalam menampilkan perilaku sosialnya, tampil dengan kayakinan diri (self-confidence) dan merasa memiliki nilai dalam lingkungan sosialnya.

Tabel 7

Rata-rata peningkatan penghargaan diri siswa

Pra PTBK

Siklus 1

Siklus 2

  1.  
  1.  
  1.  
  1.  
  1.  
  1.  

Lebih jelasnya dapat dilihat pada diagram di bawah ini

 

Diagram 1

Rata-rata peningkatan penghargaan diri siswa

Secara Keseluruhan

 

Adapun peningkatan penghargaan diri siswa secara khusus (siswa yang mengalami masalah dalam penghargaan dirinya, dapat dilihat pada table berikut ini.

 

 

 

Tabel 8

Rata-rata peningkatan penghargaan diri 6 siswa yang bermasalah

  •  
  •  

Siklus I

Siklus II

  •  
  •  
  •  
  •  

Skor

  •  
  •  
  1.  
  1.  
  1.  
  1.  
  1.  
  1.  
  1.  
  1.  
  1.  
  1.  
  1.  
  1.  
  1.  
  1.  
  1.  
  1.  
  1.  
  1.  
  1.  



    sumber : Lilis Latifah