/ default

Data Karya Guru
Gerakan Literasi Sekolah


PESAN CINTA KAMPUNG NAGA (II)
| 195 views


PESAN CINTA KAMPUNG NAGA (II)
DISUSUN OLEH:
TITIN HARTI HASTUTI, S.P
(Dalam rangka mengikuti lomba penulisan bahan bacaan literasi yang diselenggarakan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia)

PESANTREN TERPADU NURUL AMANAH
Jalan Raya Tasikmalaya Garut km 31 Rancak Neglasari Salawu Tasikmalaya 46471

PETUALANGAN DI HUTAN LARANGAN

Sesampai di rumah Bibi Nury dan Amang Sunarnya,Fadli dan Danang sering membicarakan suatu rahasia.

“Fadli…kamu tidak boleh merencanakan hal-hal aneh dan merahasiakannya dari Teteh.” Kekhawatiran Teh Maryam akhirnya terungkap. “Kamu dan Danang tanggung jawab Teteh. Tidak boleh kekompakan kita terpecah. Kita datang bersama punya kegiatan bersama,dan pulang bersama.

Melihat wajah memelas Teh Maryam benteng rahasia Fadli bobol juga. “Fadli sudah mengantar Teteh mendapat banyak informasi tentang Naga. Sekarang giliran Fadli dan Danang ingin berpetualang di hutan larangan. Fadli ingin terus terang dari awal tapi pasti Teteh bakalan nggak setuju…”

“Fadli, kamu sudah dengar penjelasan Kuncen tadi pagi bukan? Bahwa kita dan siapa pun tidak boleh memasuki hutan itu tanpa hak? Bahkan ancamannya tidak akan bisa pulang!

“Jadi Teteh percaya tahayul begitu kalau masuk hutan larangan bakal hilang. Memang sulap manusia bisa hilang begitu saja.”

Teteh Maryam memegang dua lengan Fadli agak keras. Teteh benar-benar marah setelah bujukannya pada Fadli selalu mendapat bantahan. Dengan pandangan serius Teh Maryam berkata, ”Fadli….bukan masalah Teteh percaya atau tidak, tapi lebih bagaimana kita menghargai aturan daerah orang lain. Kita boleh penasaran, punya rasa ingin tahu dan seterusnya. Tapi bukan dengan menginjak harga diri orang lain dan menentang mereka.”

“Tapi itu membunuh rasa ingin tahu Teh, membunuh kreatifitas dengan menakut-nakuti dan yang lebih berdosa lagi menutup peluang mempelajari ilmu, bukanlah Teteh pernah bilang bumi ini di tundukan untuk manusia?”

“Fadli!! Pokoknya Teteh nggak ngijinin. Teteh nggak mau tahu kalau perlu Teteh ikat kaki dan tanganmu, biar kamu tahu kalau Teteh sangat-sangat-sangat tidak setuju dengan rencana kamu!”

Teteh buru-buru meninggalkan kamar Fadli dengan marah. Teteh berharap kemarahan tadi dapat merendam hasrat Fadli. Meskipun ada keraguan terselip dalam batinnya, mengingat sifat Fadli yang selalu ingin tahu sejak mengenal bangku sekolah.

Dalam solat Hajatnya malam ini Teh Maryam menyelipkan doa panjang kiranya Fadli mengurungkan keinginannya untuk berpetualang ke hutan larangan. Hingga larut malam Teh Maryam tak mampu memejamkan mata. Ia putuskan untuk duduk di ruang tengah sambil mencorat coret bahan laporannya. Tak terasa jam demi jam terlalui hingga larut, teteh tertidur juga.

***

Fajar belum menandai waktu Subuh. Fadli dan Danang menuruni jendela kamar tempat mereka tidur dengan hati-hati sekali. Ransel di punggung dan lampu senter dalam genggangan mereka masing-masing.

“Danang kita harus berhasil memasuki hutan larangan. Aku yakin hutan itu tidak terlalu luas. Kamu lihat foto ini?“ Fadli memperlihatkan foto hasil bidikan Danang dengan kamera SLR yang dibawanya .

“Benar aku pikir karena ini terhubung dengan sawah terasering ini, kita bisa memasuki lewat sawah-sawah ini.”

“Sip…tos dulu!” Mereka mengangkat kepala tinju dan saling menyilangkan di udara. Fadli dan Danang begitu yakin petualangan mereka akan menyenangkan dan penuh kenangan. “Kita bikin cerita indah buat ngabibita mereka, biar mereka menyesal. Suruh siapa liburan nggak kompak,” ujar Fadli.

“Ya, kita foto semua yang kita temui di hutan larangan. Mereka akan mengakui bahwa kita pemberani nggak kayak mereka.”

“Kita harus bergegas jangan sampai saat subuh belum sampai di hutan larangan itu. Teteh Maryam biasa bngun setengah empat sebelum Subuh. Begitu ketahuan kita nggak ada di rumah pasti dia bakal nyusul kita. Rencana ini bisa berantakan.”

Tepat adzan Subuh, mereka berdua telah sampai di mushola di bagian tengah tangga curam Naga.

“Kita solat di sini, Danang. Alhamdulilah mushola ini ada listrik jadi tidak terlalu gelap.”Mereka wudhu dan sholat dua rokaat Subuh. Agak bergegas mereka solat tanpa rowatib qobliah.Perasaan mereka berkata Teteh Maryam sudah bangun dan sedang menyusul mereka.

Begitu selesai sembahyang Subuh mereka berdua mengendong kembali ransel. Tangan kanan Fadli menggenggam golok dan lampu senter di sebelah kiri. Sepuluh menit kemudian mereka sudah menyebrangi Sungai Ciwulan melalui jembatan beton penghubung Kecamatan Cigalontang dan Salawu. Sinar rembulan cahaya penuh banyak membantu perjalanan mereka.

“Danang, kita sudah sampai ke sawah terasering seberang sungai artinya sebentar lagi kita sampai ke hutan larangan.” Fadli memandangi langit, belum nampak semburat cahaya matahari terbit.

“Fad, aku nggak berani memasuki hutan larangan dalam keadaan gelap begini kita harus menunggu matahari terbit,” Danang tak mampu menyembunyikan rasa takutnya.

“Jangan jadi penakut, Nang. Bulan purnama penuh begini cukup membantu kita melihat sekeliling, lagian kita bawa senter. Tidak mungkin kita berhenti disini. Sebentar lagi Teteh, Bibi dan penduduk Kampung Rancak pasti mencari kita disini.

Mereka berjalan menyusuri pematang sawah. Mengikuti jalur yang paling mudah kadang turun dan kadang naik. Beruntung kali ini hujan sudah mulai jarang dan pematang sawah tidak licin sehingga terlewati dengan mudah.

Beberapa saat setelah matahari terbit, mereka sudah sampai di perbatasan sawah terasering dan hutan larangan. Cukup sulit mereka memasuki hutan itu karena ranting-ranting tumbuh tak beraturan menghalangi orang yang hendak memasukinya.”

“Kalau begitu kita cari saja jalan termudah yang biasa dilalui peserta upacara adat Naga.” kata Danang sambil mengeluarkan kamera SLR nya mengambil gambar yang menakjubkan itu. Hutan lebat yang sangat perawan. Tidak ada tangan yang berani menjamahnya. Cabang dan ranting pohon bersilangan. Ranting-ranting kering tidak ada yang berani mengambilnya.

“Kita tidak punya banyak waktu untuk mengundi nasib dengan mencari jalan lain yang belum tentu ada. Salah perhitungan kita bakal tersusul mereka. Lihat itu di puncak tangga Naga orang-orang menuruni tangga pasti mereka warga kampung Rancak yang mencari kita. Kita mau sembunyi dimana?” Danang cemas rencana petualangan ini akan gagal.

“Tenang aja dari tangga itu ke sini butuh waktu tiga puluh menit. Orang-orang nggak mungkin mengebrangi sungai pasti mereka menggunakan jalur yang sama dengan kita, berputar lewat jembatan. Kita punya waktu membuka jalan ke dalam hutan dengan golok ini.” Fadli mengeluarkan golok dari sarungnya.

Fadli mulai menebas ranting dan cabang sekuat tenaga. Benar saja dalam sepuluh menit mereka sudah berhasil membuat jalan masuk. Ternyata ranting bersilangan itu masih ada di hadapan mereka sepanjang mata memandang .

“Kayanya cukup sulit juga menembus pagar alam ranting berduri ini. Aah… aku terkena duri. “Danang memegang lengan nya yang tertusuk duri. Fadli mencabut duri panjang itu sedangkan tangannya, sudah dari tadi berdarah di sana sini oleh goresan ranting dan duri.

Fadli terus menebas ranting dengan penuh semangat . ternyata ranting bersilangan itu hanya sekitar 3 meter. Selebih nya benar benar menakjukan.

“Wah…..indah benar hutan ini. Ada banyak pohon besar yang berumur mungkin ratusan tahun. Danang mencoba mendekap satu pohon terbesar di depannya. Ujung-ujung jarinya tak mampu saling bersentuhan saking besarnya pohon itu.

Danang tak puas–puas mengambil gambar dengan kamera SLR-nya. Meski remang-remang blitz dari kamera bagus itu cukup menghasilkan gambar yang jelas.

“Aku menemukan angrek-angrek hutan. Lihat bunganya sedang bermekaran aku akan mengambilnya buat dipelihara di rumah. Pasti Ibu senang. “ Fadli mencongkel angrek itu dari inangnya dengan golok. Berbagai jenis tumbuhan obat mereka temui. Semua yang menarik tak lepas dari bidikan Danang.

“Fadli lihat ada bunga langka di sini. Bunga besar , inikah yang disebut Raflesia arnoldi yang terkenal itu? Anehnya bunga ini tidak mengeluarkan bau busuk. Berbeda dengan cirinya yang kita pelajari di pelajaran IPA.”

Fadli menghampiri Danang. “Kamu harus mengambil gambarnya. Ini akan menjadi berita heboh. Nanti kita posting, kita kirim ke koran terkenal ibu kota.” Fadli begitu riang membayangkan ketenaran yang sedang menanti mereka.

Ketika sedang asik-asiknya mereka mengambil gambar dan video seseorang merengut dari belakang .

Danang dan Fadli terlonjak karena kaget bukan kepalang. Di belakang mereka berdiri sosok pendek gempal dengan wajah seram karena marah. Kerut di keningnya menambah aura mengerikan. Kulitnya hitam legam dan jambang memenuhi setengah pipinya.

“Kalian telah melanggar tata karma yang kami tentukan. Kalian telah menginjak-injak kehormatan kami dan keluhur kami. Jangan salahkan aku. Aku akan mengikat kalian di pohon ini.” Sosok itu menjalankan semua yang telah dikatakannya .

Fadli memejamkan mata. Ia memenuhi batinnya dengan doa-doa dan permohonan maaf pada Teteh Maryam .

“Sebelum kalian menerima hukuman, kalian harus menjawab pertanyaanku dengan jujur. Makin kalian bohong , makin berat hukumannya. “Kuer naon maraneh aya di dieue, anak yang tak tahu adab?”

“Kami hanya ingin mengenal hutan ini seperti apa sebenarnya. Kami ingin memperkenalkan keindahan hutan ini pada semua orang. Pasti mereka akan banyak mendapatkan manfaat ilmu dari hutan ini.” Fadli menjawab sambil memejamkan mata, tak ingin melihat wajah seram pemiliknya.

“Kalian anak anak kecil yang hanya berpikir sesaat. Pernahkah kalian berpikir, diluar sana teramat banyak orang –orang serakah yang menginginkan hutan ini, menginginkan anggrek ini, menginginkan pohon-pohon untuk dijadikan apa saja kebutuhan yang tidak ada habisnya. Tidak ada yang bisa menghentikan mereka selain kematian.”

Suara berat dan parau sosok itu merontokan dinding keberanian di hati Fadli dan Danang.

”Lalu apa yang harus kami perbuat?” suara Danang setengah menangis.

”Aku akan mengambil kameramu dan aku harus membungkam mulut kalian supaya tidak menyebarkan berita tentang hutan larangan ini,”

Fadli dan Danang memohon-mohon supaya mereka dilepaskan namun sia-sia. Meskipun tangisan mereka pecah, tetap saja membuat sosok itu bergeming.

“Kalian tahu apa yang akan terjadi bila pohon itu ditebangi? Ciwulan akan kering, sawah yang menghampar hijau akan sirna kehilangan air, orang-orang kampung itu akan kehilangan mata pencaharian hancur semuanya. Belum lagi bencana longsor mengintai lembah ini bila hutan lindung, hutan larangan dan hutan keramat dijamak manusia serakah penjajah alam. Kita hidup bukan di alam tapi kita hidup bersama alam. Jangan pernah menzoliminya.” Sosok itu menahan marah menyisakan suara gemerutuk gigi-gigi putihnya yang besar-besar itu.

Fadli menunduk makin dalam. Teringat cerita Teh Maryam yang menyaksikan sendiri bagaimana keserakahan manusia membekaskan derita pada manusia lain. Sementara manusia serakah menikmati segala kenikmatan dan kemewahan.
Air bersih yang menjadi sahabat manusia terkotori perbuatan manusia tak berperikemanusian. Mereka selalu merasa menjadi pengelola bumi yang bijak atas nama kemudahan, kesenangan, kemewahan, kesejahteraan. Tapi semua bohong, semua fasilitas itu dinikmati hanya oleh beberapa gelintir orang pemilik modal. Mereka yang serakah itu memperdaya pekerja yang mereka peras keringatnya.

Tiba-tiba terdengar dari luar suara memanggil nama mereka berdua.

“Fadli, Danang, dimana kalian?” Suara itu terdengar dari kejauhan seolah tak dapat menjangkau keberadaan mereka.

“Teteh,.Fadli disini!!!!!!!!,” Fadli berteriak sekuat tenaga. Suara itu terus memanggil tanpa menanggapi teriakan Fadli dan Danang seolah ada dinding yang membatasi.

“Teteh Maryam kami di ikat di bawah pohon besar kami dalam bahaya!!!,” Danang tak mampu lagi menahan tangisnya yang makin pecah.

Mereka berdua akhirnya pasrah, ”Kami mengaku salah. Apapun hukumannya kami terima.” Fadli tidak lagi menangis, dan meronta. Ia tahu semua usahanya sia-sia. Tidak ada pilihan lain kecuali mengikuti semua keinginan sosok itu.

“Aku akan melepas kalian, tapi jangan coba-cba lari…….jangan melawan!” Sosok itu melakukuan semua yang ia katakan. Cengkraman kuat tangan sosokitu memaksa mereka melepas semua perbekalan. Tas ransel, kamera SLR, golok, senter, mereka tinggalkan begitu saja di hutan larangan.

“Fadli ….Danang….kalian dimana, Teteh janji nggak akan marah asal kalian mau pulang sekarang,” Suara Teh Maryam mulai terisak.

Ternyata mereka dibawa ke sebuah sumur. Fadli dan Danang tidak lagi menyelidiki segala yang ada di hutan itu. Terganti dengan kecemasan akan nasib diri entah akan dibawa kemana .

“’Jadilah kalian mahluk penghuni sumur mati ini.” Sosok itu mengangkat mereka berdua bersamaan dan…,,

“Aahhh….tolong…,” teriakan takut dan kesedihan yang tak terkira sungguh menyayat hati siapapun yang mendengarnya.

***

“Fadli…. Danang…. Ada apa? Buka pintunya ini Teteh Maryam. Kalian kenapa?”

“Nggak apa-apa Teh, Fadli ngelindur, ” jawab Danang yang juga terkagetkan oleh teriakan Fadli.

“Alhamdulillah hanya mimpi…” Fadli membuka pintu dan menghambur memeluk tetehnya,” Maafin Fadli Teh….Fadli akan menuruti kata-kata Teteh. Nggak akan melawan lagi. Janji.


TEKAD YANG MEMBARA

Hari ini liburan Fadli dan Danang berakhir. Mereka sebenarnya masih betah tinggal di rumah Bibi Nury, tapi apa boleh buat besok harus kembali sekolah.

Pagi-pagi jam tujuh mereka sarapan surabi tabur daging ayam kampong ditemani saus mayones. Singkong dan talas goreng aneka rasa siap menggoyang lidah mereka. Air minum susu kambing perahan Amang Sunarya. Nikmat, sehat, alami dan penuh sensasi rasa.

“Setelah kalian berada disini dalam tiga hari ini apa yang kalian dapat? “ Bibi Nury membuka obrolan.

“Tak terkatakan Bi….. yang paling seru kasih lima jam dua sejoli di kampung seindah syurga. Sayang kisahnya baru bersemi belum mekar apalagi berbuah.” Danang melontarkan candaanya agak keterlaluan.

“Wah antara siapa dengan siapa ini…..?

“Siapa lagi kalo bukan Teh sholehah dan pengagum kesolehannya.” Fadli menimpali.

“Memang kamu bertemu siapa disana?”

“Kuncen Muda yang wajahnya bersih bercahaya, mirip Harris J. Bibi kenal Harris J nggak? Ini posternya.” Fadli mengeluarkan foto ukuran postcard artis idolanya.

“Sama Kuncen Kampung Naga, Bibi Kenal. Tapi bukan mirip.... siapa tadi, Harris J? Kalian tahu nama orang yang menyebut dirinya Kuncen itu? Jabatan Kuncen itu sacral dan tertinggi kedudukannya di Kampung Naga jadi tidak boleh disematkan pada sembarang orang. Kuncen itu pimpinan adat tertinggi setelah patunggon Bumi Ageung, jajaran sepuh, punduh adat dan lebe.”

“Innalillahi…ia kita nggak kepikiran buat nanya siapa namanya. Memang dia juga bilang badal Kuncen. Tapi buat mudahnya kita sebut aja Kuncen Muda.” Fadli menjelaskan.

“Orangnya terlalu berwibawa, sampai-sampai kami memanggil dia Pak padahal masih muda. Akhlaknya mulia dan menambatkan hati pada yang berakhlak mulia juga. ” Giliran Danang yang menggoda Teh Maryam.

“Sudah….kalian jangan keterlaluan menggoda Teh Maryam kasihan dia jadi tersipu malu begitu. Oh iya….Bibi ingat dia itu mungkin keponakan Kuncen yang sering mengantikan posisi Kuncen kalau lagi keluar. Ketua karang taruna tetangga desa ini. Tapi Bibi lupa siapa namanya. Dia bisa dibilang pemandu wisata yang paling dipercaya Kuncen Naga.”

“Ini kewajiban Bibi mencari jodoh buat keponakannya,” ucap Danang.

“Menurutku ada yang lebih seru lagi…mimpiku semalam yang tak pernah ada yang tahu kecuali aku!” kata Fadli.

“Nah tentang Fadli, Teteh pun penasaran ceritanya sampai sampai baju Fadli basah dengan keringat.”

“Beruntung nggak basah dengan ompol, Teh.” Danang mengganti sasaran godaannya pada Fadli.

Fadli menceritakan mimpinya dengan penuh semangat, sesekali Danang meneruskan cerita mimpi Fadli dan Fadli membenarkannya. Kisah mimpi yang aneh.

“Intinya mah, jangan melawan nasehat bijak seorang Teh Maryam. Kalau tidak, bisa terjebak oleh rasa penasaran yang tidak layak”

“Keinginan dan ide kita untuk memasuki kita hutan larangan itu kebawa mimpi.Hampir-hampir aku juga mimpi bertualang ke hutan larangan. Tapi waktu Fadli membuka jalan dengan memotong dahan dan ranting bersilangan, aku memutuskan mencari jalan yang mudah yang biasa dilalui saat upacara adat. Begitulah aku terus berputar-putar lama sekali dan tidak menemukan jalan itu. Tiba-tiba aku dengar Fadli berteriak. Jadi ikut bangun, deh!”

“Mimpi kalian aneh kok bisa mirip? Aneh, tapibagaimanapun Allah Maha Berkehendak atas segala sesuatu.” Teteh menyimpulkan apa yang terjadi antara Fadli dan Danang

“Kalau teteh sendiri ingin sesuatu saat nanti menulis buku tentang bagaimana berkreasi dengan anyaman bambu dan membuatnya, supaya budaya anyaman bambu yang ramah lingkungan ini lestari. Terus teteh ingin memperkenalkan produk-produk anyaman melalui ekspo produk back to nature. Terus membuka jalur ekspor ke berbagai negara.”

“Wah, Bibi setuju sekali Maryam. Bibi bisa menjelaskan semua jenis anyaman yang Bibi bisa tapi Bibi kira butuh waktu yang agak panjang untuk menjelaskan satu persatu lestari anyaman bambu ini.”

“Pantesan seseorang yang kita sebut Kuncen Muda itu berpesan supaya kita meneladani Teteh Maryam. Ternyata selain shalehah, cerdas juga tetehku semata wayang ini,” Fadli kembali menggoda Teh Maryam. Sayangnya yang digoda tidak menanggapi karena Teh Maryam tahu makin ditanggapi akan makin menjadi.

“Insyaallah Bi….liburan semester ini aku akan menginap agak lama di rumah Bibi. Semoga nggak ada halangan, ya Bi…..

“Bagaimana kalau pas libur semester justru Teteh udah jadi warga Kampung Naga?’ Danang asal berucap.

“Hanya Allah yang tahu kisah cerita setiap hambaNya.” Teh Maryam menanggapi dengan bijak.

“Bibi tidak sabar ingin buku itu segera jadi dan terbit.”

“Selain produk anyaman saya juga ingin memperkenalkan konstruksi bangunan rumah adat Naga yang telah dimodifikasi menjadi rumah panggung yang seperti rumah Bibi dan Amang buat. Selain bentukan yang artistic dan penuh hikmah ini akan membantu menyelamatkan manusia dari resiko gempa yang belakangan ini makin sering terjadi. Daya rusak gempa membahayakan rumah permanen, tapi rumah panggung sangat aman dan dapat menyesuaikan dengan getaran gempa. Beribu nyawa dan banyak harta dapat terselamatkan dengan konstruksi rumah panggung ini.

“Sebuah perjalanan panjang dan mulia tapi dengan tekad dan kemauan baik insyaallah akan sampai.”

“Aamiin” mereka berempat mengaminkan cita-cita Teh Maryam hampir bersamaan.

PESAN CINTA KAMPUNG NAGA

Mereka bertiga teramat berkesan dengan kehidupan warga Naga, terutama Teh Maryam. Digoreskannya kenangan indah itu dalam liris prosa, tanda cintanya pada Kampung Naga, seiring cita-cita memperkenalkan budaya Naga pada dunia:

PESAN CINTA KAMPUNG NAGA, Teh Maryam menggoreskan kata-kata dengan penanya. Mengalir dari hatinya yang terdalam.

Belum seratus langkahku, Berburu nafas terputus
Tulus kagumku menatap indahmu
Kau begitu belia tuk berpacu dengan deru zaman
Debu-debu permainan kotor, tak mampu hinggap di alam perawanmu
Kau seolah membisu, Tak bergeming
Meski lambaian kemegahan begitu menggoda

Naga…..Sebutanmu begitu gagah
seolah penjaga sebentuk kelestarian
Pengusir tangan-tangan jahil perusak alam
Namun seribu keindahanm, tak tergambar atas namamu
Permadani hijau dan hamparan emas, membuai lembut mataku
Lenggokan Ciwulan biaskan binar-binar mentari, 
bak mutiara bening menyilaukan
Rindangnya hutan alamm, memutar air kehidupan abadi
Naungan-naungan sederhana berbaris bersahaja
Tanpa jurang pembeda
Tergoda rasa hatiku, tuk mencari rahasia daya pikatmu
Memanggil manusia hingga ujung dunia
Inikah rahasia harmoni, tradisi lestari beriringan jiwa-jiwa suci?
Tiada pergulatan materi terbalut iri dengki
Tiada pongah jumawa, Seolah pesan kerendahhatian
Senyum tulus menyambut siapa j ua, , kemana himpitan beban dunia?

Menyusup sejuk di kelopak batinku, menuai hikmah keanggunan Naga
Nurani hatiku tersentuh haru, oleh cinta yang Kau tawarkan
Khayal melambung mencipta angan
Andai tiada materialisme itu...., maka terganti rakus dengan sahaja
Andai tiada individualisme itu…, niscaya peduli akan menyapa
Andai tiada liberalisme itu…, tentu tatanan akan bicara.
Dalam diammu, kau sampaikan nasihat bijaksana
Sebingkai kanvas kehidupan, Penuh rahmat dan ketenangan
Jauhkan bala bencana teguran alam

Wahai Kampung Naga, tegarlah engkau dari himpitan ketiak zaman
Tetaplah bersahabat dengan alam, Sungguh Tuhan benci kerusakan
Akibat tangan zalim manusia, yang tak pernah puas berbuat angkara
Maka jangan kau berubah, dunia ini butuhkan pesan cintamu

Inspirasi cinta ini menguatkan tiap tarikan napasnya untuk wujudkan mimpi indah itu menjadi kenyataan.

LAMPIRAN-LAMPIRAN

Biodata Penulis

Nama lengkap : Titin Harti Hastuti, S.P
Ponsel : 087827619101
Pos-el : khadijahhanif313@gmail. com 
Akun Facebook : Titin Harti Hastuti 
Alamat kantor : Pesantren Terpadu Nurul Amanah, Jalan Raya tasikmalaya-Garut Km 31 Rancak Neglasari Salawu Tasikmalaya 46471 
Bidang keahlian : Guru IPA dan FISIKA


Riwayat pekerjaan/profesi (10 tahun terakhir): 
1. 1997-kini : Guru IPA dan Fisika
2. 2007-kini : Bagian Kurikulum Pesantren Terpadu Nurul Amanah
3. 2007-kini : Pembimbing Sanggar Sastra Pesantren Terpadu Nurul Amanah
4. 2007-kini: Perintis buletin pesantren Annasihah
5. 2016-kini : Perintis Literasi Sekolah di Pesantren terpadu Nurul Amanah

Riwayat Pendidikan Tinggi dan Tahun Belajar: 
1. S-1: IPB Angkatan 1992

Informasi Lain: 
Lahir di Temanggung, 11 Desember 1974. Telah menikah dengan Muhammad Erwin Kurniawan Al Fatih dan berputera tiga (Siti Sofuroh Al Mujaddidah, Muhammad Usamah Syamil Abdullah dan Muhammad Muyasar Nashir Abdullah). Menggeluti hal-hal yang berbau sastra, kependidikan dan pengembangan pesantren. Aktif dalam organisasi dakwah dan keguruan.

GLOSARIUM

Amang = Paman
asihan= mudah mengasihi
bale patemon= balai pertemuan 
bumi ageung= rumah besar
deudeuhan= punya rasa empati
katingalina= kelihatannya
keur naon maraneh didieui= sedang apa kalian disini
kumaha = gimana 
leres= benar
mah= sih
nalang kanu susah= memberi pinjaman pada yang susah
neng=sebutan sayang gadis sunda
ngabibita=membuat inginnyaahan= mudah iba
ngahudangkeun kanu labuh= membangunkan yang jatuh
ngahudangkeun kanu titeuleum= membangunkan yang tenggelam
nganter kanu sieun= mengantarkan yang takut
nulung kanu butuh= membantu pada yang membutuhkan
nyaangan kanu poekeun= menerangi yang dalam kegelapan
pamali = larangan yang tidak diperbolehkansiga mendakan intan pelakeun= tanaman
pamundut gancang eusian= seruan infak segera diisi
panyaur gancang temoan= panggilan segera temui
parentah gancang lakonan= perintah segera jalani
payunen = depannya
pelakeun=untuk ditanami
pirage anyaman awi = padahal Cuma anyaman bambu
punten= maaf
Sa teu acana = sebelumnya 
sambel atah=Sambal Mentah
saung lisung= rumah penumbukan padi 
siga mendakan=seperti menemukan
tapina Bibi hilap saha namina nya= Tapi bibi lupa siapa namanya ya
teteh, teh=sebutan kakak perempuan 
teu kaci = tidak boleh 
 teu kunanaon= tidak apa-apa 
welasan= mudah kasihan

DAFTAR PUSTAKA

http://tugaskab.blogspot.co.id/…/kampung-Naga-dari-alam-kem… /10-3-2017
http://www.cnnindonesia.com/…/kampung-Naga-surga-…/10-3-2017
http://trevelsia.com/mengintip-kearifan-lokal-di-…/10-3-2017
http://clara-indonesia.com/suatu-pagi-di-kampung-…/10-3-2017
http://jabar.pojoksatu.id/…/seperti-ini-asal-usul…/10-3-2017
http://www.kompasiana.com/…/kampung-Naga-sebuah-l…/10-3-2017
http://www.jurukunci.net/…/misteri-kampung-Naga-d…/10-3-2017
http://makalahkampungadat.blogspot.co.id/…/makala…/10-3-2017
http://makalahkampungadat.blogspot.com/…/makalah-…/10-3-2017
Suganda, Her. 2006. Kampung Naga Mempertahankan Tradisi.
http://belajar-ngepoting.blogspot.co.id/…/makalah…/10-3-2017
http://www.abdan-syakuro.com/…/makalah-kampung-Na…/10-3-2017
http://katumbiri-fitri.blogspot.co.id/…/makalah-k…/10-3-2017
https://es.slideshare.net/…/makalah-sistem-kehidu…/10-3-2017
http://lanlanrisdiana.blogspot.co.id/…/makalah-ka…/10-3-2017

LAMPIRAN FOTO

Foto Alam dan Budaya Kampung Naga
Pembagian Kawasan
1. KAWASAN SUCI (Sungai Ciwulan, Hutan Larangan/Hutan Keramat, Hutan Lindung, 
2. KAWASAN BERSIH (Bumi Ageung, Masjid, Pemukiman Penduduk dan Lumbung Padi)
* ** 
 3. KAWASAN KOTOR (Perikanan dan Peternakan, Saung Lisung, MCK, dan Tempat Sampah,
*** 
Mata Pencaharian Warga Kampung Naga (Bertani/Beternak, Pengrajin Anjaman, Pedagang)
****
KEKHASAN KAMPUNG NAGA
***** 
 MODIFIKASI ARSITEKTUR SEKITAR KAMPUNG NAGA
SYURGA TATARAN SUNDA DALAM TATA NILAI DAN KEHARMONIAN DENGAN ALAM
Sumber Foto

Koleksi Pribadi (tanpa tanda bintang)
*https://inikan.wordpress.com/…/kampung-Naga-teguh…/15-3-2017
**http://travel.kompas.com/read/2013/09/18/0812396/Mengunjungi.
dan.Mempelajari.Budaya.Kampung.Naga/15-3-2017
***http://log.viva.co.id/…/777288-menikmati-kearifan…/15-3-2017
****http://rosemarinebelle.blogspot.co.id/…/kampung-N…/15-3-2017
*****http://anrctect.blogspot.co.id/…/one-day-trip-to-…/15-3-2017




sumber : TITIN HARTI HASTUTI

Antalya rus escort