/ default

Data Karya Guru
Gerakan Literasi Sekolah


PESAN CINTA KAMPUNG NAGA
| 209 views


PESAN CINTA KAMPUNG NAGA (I)
DISUSUN OLEH:
TITIN HARTI HASTUTI, S.P
(Dalam rangka mengikuti lomba penulisan bahan bacaan literasi yang diselenggarakan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia)

PESANTREN TERPADU NURUL AMANAH
Jalan Raya Tasikmalaya Garut km 31 Rancak Neglasari Salawu Tasikmalaya 46471

KATA PENGANTAR

Pujian hanya milik Alloh SWT, yang telah memberikan irodahNya kepada penulis sehingga buku sederhana ini dapat terselesaikan dan memenuhi tengat waktu yang disediakan Panitia Lomba GLN.

Dalam menyelesaikan penulisan narasi ini, penulis banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak, antara lain Bapak Tatang (Pemandu Wisata Kampung Naga) beserta Ibu Iis Herlina yang telah berkenan memberikan informasi seputar Kampung Naga. Lebih dari itu beliau mengizinkan rumah tinggal beliau juga beberapa lokasi di kampung Naga sebagai bahan ilustrasi buku ini. Juga kepada Ust. Muhammad Al Fatih (pengasuh santri Pesantren Terpadu Nurul Amanah) yang telah mendukung sepenuhnya penyusunan dan pencetakan buku ini.

Penulis menyadari bahwa buku ini masih banyak memiliki kekurangan sehingga penulis mengharapkan masukan dari pembaca untuk memperbaikinya.

Teriring doa, semoga buku ini memberi manfaat bagi siapa saja yang membacanya

Salawu, 12 April 2017
Yang Dhoif dan Fakir
Titin Harti Hastuti

DAFTAR ISI

Halaman Judul………………………………………………….....i
Kata Pengantar.......................................................................ii
Daftar Isi………………………………………………………….. iii
1. Kekaguman pada Pandang Pertama…………………....... 1
2. Surga Itu Dekat…………………….……………….......….. 10
3. Keluhuran Budaya Naga................................................ 19
4. Petualangan di Hutan Larangan ………..………….. .........33
5. Tekad yang Membara………….…………..…………...........44
6. Pesan Cinta Kampung Naga …..……………………….......49
LAMPIRAN-LAMPIRAN
Biodata Penulis...................................................................................v Glosarium………………………………………………...…........vi
Daftar Pustaka……………………………………………..........viii
Lampiran Foto ………………………………...……...............x
Sumber Foto……………………………………..………..….. xvii

KEKAGUMAN PADA PANDANG PERTAMA

Siang yang cukup terik, sebuah minibus menurunkan tiga penumpang di seberang sebuah pesantren. Mereka adalah Teh Maryam, seorang mahasiswi Konservasi Lingkungan di salah satu universitas ternama di Yogyakarta. Dua anak yang lainnya bernama Fadli adik Teh Maryam dan Danang teman sekelas Fadli yang masih duduk di kelas lima SD. Mereka mengisi liburan sekaligus menemani Teh Maryam dalam melakukan penelitian tentang pengaruh kearifan budaya lokal terhadap konservasi lingkungan.

Teh Maryam mengamati apa yang diarahkan Bibi Nury melalui medsos yang mereka gunakan. Petunjuk pertama plang besar bertuliskan Pesantren Terpadu Nurul Amanah, Jalan Raya Tasikmalaya Garut Km. 31.

Menurut informasi dari Bibi Nury, dari seberang gerbang pesantren itu mereka harus berjalan ke kiri. Ada jalan kecil ke arah kanan. Ikuti jalan utama, kira-kira empat ratus meter, ada bangunan rumah panggung satu-satunya di sebelah kanan jalan.

Setelah sholat Dzuhur di mushola terdekat, mereka meneruskan rute yang diberikan Bibi Nury melalui WA. Selang lima belas menit setelah selesai sholat Dzuhur, mereka sampai di rumah Bibi Nury.

Rumah itu sederhana dan cukup luas. Bibi Nury dan Amang Sunarya hanya tinggal berdua karena belum dikaruniai momongan.

Jadi rumahnya cukup untuk digunakan menginap mereka bertiga.

Baru kali ini mereka mengunjungi Bibi Nury adik dari Ibu Lala, orang tua Teh Maryam dan Fadli. Biasanya Bibi Nury dan Amang Sunarya yang mengunjungi orang tua mereka di Ciamis.

Mereka disambut ramah oleh Bibi dan Amang. Bukannya langsung memasuki rumah, mereka malah terkesima oleh jajaran kerajinan anyaman bambu yang beraneka rupa. Ada bentuk mirip dengan vas bunga, piring, lampion, semua terlihat indah.Uniknya lagi semua terbuat dari bambu .

“Bibi bagus sekali hasil kerajinan ini. Bibi membuatnya sendiri?” Teh Maryammeletakkan ransel beratnya begitu saja di
halaman rumah yang masih berupa tanah itu. “Subhanalloh bagus banget!”

Fadli dan Danang ikut berdecak kagum pada orang yang sedang menganyam dengan terampilnya.

“Kalian ini baru juga datang sudah terheran heran dengan warisan ilmu orang-orang Naga. Hebat bukan?”

“Bukan hebat lagi…. Ini keterampilan yang akan mendunia terbebas dari krisis energi tidak seperti pabrik yang serba mesin. Maryam di kuliahan dapat materi budaya konservatif ternyata ada peradaban yang ramah lingkungan yang masih bertahan hingga kini.”

“Maryam, kamu ini siga mendakan intan mutiara. Pirage anyaman awi . Bibi juga sekarang udah bisa lebih dari sepuluh jenis anyaman. Menikah dua puluh tahun dengan Amang justru Bibi yang dapat berkah ilmu menganyam. Sekarang kalian istirahat dulu. Baru sampai udah ngeributin anyaman bambu.”

***
Rumah Bibi yang seluas 15x20 meter itu jauh dari sebutan rumah mewah. Rumah berlantai papan di atas batu batu besar berbentuk persegi. Dari batu ke batu yang lainnya berjarak satu meter meter. Dindingnya dari bilik atau anyaman bambu yang dicat crem dan coklat tua dianyam hingga membentuk motif yang indah beratapkan ijuk. Tidak mewah namun arsistik. Perpaduan antara rumah panggung dan modifikasi seni anyaman bambu.

Rumah itu terdiri dari enam ruangan. Satu ruangan besar untuk menerima tamu, tiga ruang tidur, satu ruang keluarga berada di tengah dan belakang ruang dapur. Sementara MCK berada di halaman belakang. Antar sumur dan jamban terpisah agak jauh. Tidak ada rumah lain yang dekat rumah bibi, tetangga terdekat sekitar seratus meter. Kerimbunan pohon menghijau membuat suasana sejuk makin pekat.

Teh Maryam mendapat bagian kamar sendirian terpisah dari Fadli dan Danang. Mereka menikmati kesederhanaan namun bersih dan asri itu. Tidak ada dipan dan perabotan mewah. Rak pakaian pun terbuat dari bambu yang di susun amat arsistik.

“Kalian makanlah dulu, pasti kalian lapar dari Ciamis ke Rancak ini cukup jauh. Bibi pikir dua sampai tiga jam perjalanan kalian sampai kemari.”

Mereka bertiga hampir bersamaan menyerbu hidangan. Ada ikan goreng , aneka lalap, sambal terasi-tomat, dan ayam kampung goreng. Menggugah selera makan mereka.

“Masyaallah Bibi…… mewah sekali makan siangnya. Kami bertiga merepotkan, ya?!” Teh Maryam memandang Bibi dengan rasa bersalah .

“Merepotkan kumaha semua ini Bibi petik dari perkarangan belakang rumah. Memang Amang selalu berpesan selagi bisa tangan kita mengais rejeki selagi alam masih menyediakan air dan tanah subur, tanam apa yang bisa kita tanam. Ikan, ayam, sayur sayuran semua Amang yang memelihara.

“Wah, Mamang dan Bibi ternyata pasangan ideal. Bibi pandai menganyam dan memasak, paman yang menanam dan memeliharanya. Jangan-jangan bambu untuk anyaman itu paman juga yang menanam.’ Fadli bicara dengan polosnya.

“Betul Fadli, lihat itu rumpun bambu di bawah sana. Itu hasil karya Amangmu.” Bibi Nury membuka lebar jendela samping rumah yang sejauh mata memandang tampak sawah, rumpun bambu dan pepohonan menghijau.

Mereka memandangi rumpun bambu yang terlihat indah dari kejauhan di lembah yang lebih dalam. Lebih dari satu kilometer sejauh mata memandang semua gundukan rumpun bambu itu menyuarakan keindahan alam pedesaan yang penuh nasihat kebijakan
.
***

Malam ini udara sejuk Kampung Rancak mengigit tulang. Suara alam, jangkrik, katak, tongeret bersahutan membuat irama yang indah luar biasa. Rembulan berwajah penuh, tersenyum menjalani ketaatan pada Sang Pencipta dan Pengatur segalanya.

Fadli memendam sejuta tanya pada Teh Maryam atas apa yang terjadi siang hari ini. Ekspresi kekaguman yang tak pernah dimengerti Fadli hingga Bibi Nury menganggap Teh Maryam seolah menemukan bongkahan mutiara.

“Assalamualaikum…kak belum istirahat?,” Fadli mengetuk pintu penuh sopan santun. Memang segala kebaikan akhlak Teh Maryam membuat Fadli begitu hormat pada kakak semata wayangnya.

“Waalikumsalam, masuk aja Fad. Nggak dikunci kok pintunya.” Teh Maryam tengah menulis deretan pertanyaan untuk interview besok pagi.

Fadli duduk di hamparan kasur tipis tak lebih dari 4 atau 5 cm itu. Teh Maryam masih terus asyik mempersiapkan bahan wawancara. Fadli menyimpan kembali rasa penasaran dengan diam.

“Kok diam saja, Fad?” Teh Maryam menghentikan kesibukannya dan mendekati Fadli. “Nampaknya ada yang mau kamu ceritakan ke Teteh?”

“Takut gangguin Teteh. Kelihatannya Teteh sedang super sibuk!”

“Enggak kok, udah selesai nyusun interviewnya, tinggal persiapan bekal makanan dan minuman buat besok.”

“Fadli penasaran kok Teteh bisa segitu kagumnya melihat anyaman bambu itu. Sampai-sampai Bibi Nury menganggap Teteh nemuin bongkah mutiara berharga.”
Teh Maryam tersenyum mendengar pertanyaan Fadli, kisah yang tidak pernah dibicarakan keluarga mereka sebelumnya, seolah ingin menguburnya dalam-dalam.

***

Teh maryam memulai kisahnya, kejadian sepuluh tahun yang lalu:

Fadli, waktu kamu masih berumur satu tahun, dan Teteh waktu itu berumur sembilan tahun keluarga kita tinggal di Jakarta. Bapak sama ibu merantau di ibu kota, menjadi penjual barang kreditan. Alhamdulillah keluarga kita sukses. Dalam waktu enam tahun sudah memiliki stokis barang kredit sendiri. Kita sekeluarga hidup berkecukupan, hingga datang seseorang yang tak dikenal hampir setiap hari ke rumah kita.

“Ibu, Bapak kami mohon untuk mendukung program kami. Kawasan ini akan kami jadikan kawasan industri. Kami akan tukar rumah ibu ini dengan harga empat ratus juta. Bukankah itu penukaran yang lebih dari cukup?” bujuk orang asing itu.

“Saya bukan tidak mendukung program ini. Apalagi katanya ini proyek pemerintah. Tapi kami sebagai tukang kredit akan kehilangan jejak pelanggan yang masih berhutang pada kami.”

“Memang berapa modal kredit Bapak yang masih ada di pelanggan? Kami akan tutup modal usaha kredit Bapak yang masih menjadi hutang pelanggan.”

Bapak dan Ibu terus menolak dengan alasan ada ikatan hak dan kewajiban antara penjual dan pembeli yang harus saling tertunaikan. Khawatir hutang yang seharusnya terbayar di dunia menghalangi pintu syurga buat yang masih berhutang.

Ibu dan Bapak keberatan dengan penawaran itu tapi apa boleh buat, rupanya hanya keluarga kita menolak sedangkan yang lain menerima.

Benar saja, apa yang Bapak khawatirkan terjadi. Pelanggan tidak ketahuan kemana pindahnya. Warga kompleks tercerai-berai. Uang memang selalu menggiurkan bagi para pencintanya.

Usaha keluarga kita tidak berjalan bahkan bangkrut.
Dua tahun setelah pengusuran itu, kita pindah kontrakan dua ratus meter dari batas perusahaan itu. Dengan harapan masih bisa menelusuri pelanggan dan meneruskan usaha. Dari uang ganti rugi itu sebagian digunakan buat menambah modal usaha kredit.

Perlahan usaha mulai berjalan, tapi setelah tiga tahun perusahaan itu berdiri, air sumur kita menjadi kotor terkena limbah. Sulit mencari air bersih. Bau limbah kemana-mana. Warga sekitar protes menuntut penyediaan air bersih .

Suasana tidaknyaman lagi di tempat itu. Dengan sisa uang gusuran itu kita pindah ke Ciamis.

***

“Lalu apa hubungannya dengan anyaman bambu,Teh?”

“Ya…. tentu ada. Anyaman bambu itu mengingatkan Teteh bahwa alam menyediakan banyak untuk manusia. Namun keserakahan telah membuat manusia mencari sesuatu yang di luar kemaslahatan bahkan jauh dari maslahat.”

“Betul juga, Teh. Berapa banyak korban dan pendirian industri-industri itu? Kalau ada 100 pabrik yang menggusur rumah warga seperti yang kita alami, berarti ada beribu-ribu keluarga yang terganggu mata pencahariannya. Belum lagi asap pabrik, limbah yang mencemari air sumur, mungkin juga sawah akan rusak, kebun tidak bisa ditanami lagi ”

“Pintar adik Teteh! Sekarang kamu istirahat dulu……. Besok pagi pagi benar kita akan turun ke lembah Kampung Naga

“Sebentar Teh …..kalau saja kerajinan asli Kampung Naga itu menggantikan bahan sintetis seperti plastik, piring, gelas, setreofoam yang sulit lapuk, tentu sampah yang banyak numpuk di TPS itu akan bisa terkendalikan ya Teh!”

“Wah wah, kamu sudah seperti mahasiswa teman Teteh bikin analisisnya. Agama telah mengingatkan berabad-abad silam bahwa ‘Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Katakanlah: 'Lakukanlah perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang dulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukanNya’.

Fadli mengangguk-angguk, bertambah kekagumannya pada Teteh aktivis dakwah kampus yang satu ini.

SYURGA ITU DEKAT

Bibi Nury dibantu Teh Maryam menyiapkan sarapan di dapur. Sedangkan Fadli dan Danang merapihkan kamar dan menyapu lantai. Paman Sunarya tersenyum melihat kekompakan mereka. Pagi menjadi begitu terasa indah. Kehadiran Fadli, Danang dan Teh Maryam mengusir kesepian tanpa kehadiran generasi pengganti di rumah ini.

“Sarapan sudah siap.” Teteh Maryam meletakkan nasi goreng, lalap slada dan irisan mentimun, sambal hijau dan ikan bawal goreng yang tercium harum sekali. Mereka makan lesehan di atas tikar anyaman pandan.

“Wah, jadi perbaikan gizi disini.” Danang tersenyum lebar disambut tawa semua peserta upacara wajib sarapan pagi.

“Kalian pagi ini jadi ke Kampung Naga ?” tanya Amang Sunarya .

“Insyallah jadi, Amang. Setelah sarapan kami langsung pamit mungkin sampai sore kami baru pulang . Teteh Maryam membetulkan posisi duduk sunnah makannya sambil meraih irisan mentimun.

“Ayo Fadli pimpin doa makannya dan jangan lupa duduk sunnahnya. Kaki kiri didudukin, kaki kanan ditekuk payuneun dada.” Amang Sunarya memberi contoh cara duduk ketika makan.

***

Selesai sarapan mereka berpamitan pada Amang dan Bibi untuk memulai perjalannan ke Kampung Naga
Dua puluh lima menit berjalan kaki, akhirnya mereka sampai di terminal Kampung Naga disambut tulisan Selamat Datang di Cagar Budaya Kampung Naga, lengkap dengan aksara Sunda.

Mereka menuruni jalan beraspal dengan kemiringan yang cukup curam. Parkiran kawasan wisata Kampung Naga dikelilingi toko-toko pernak-pernik asesoris kerajinan Naga dan juga produksi khas Tasikmalaya. Semua serba anyaman, ada anyaman bamboo, pandan, eceng gondok, mengkuang dan rotan. Produk anyaman seperti yang di buat Bibi Nury juga ada, piring, vas bunga, keranjang bunga, keranjang sampah, wadah parcel, boboko, aseupan dll. Disebelah kanan terdekat ada rumah panggung yang memproduksi kerajinan anyaman bambu. Selebihnya warung penjual makanan cepat saji seperti baso, mie ayam dan jajanan ringan.

Perhatian mereka selanjutnya adalah Tugu Kujang Pusaka. Tugu dengan kujang terbesar itu leburan dari beberapa kujang dari seluruh tataran Sunda.

“Fadli bantuin Teteh ya …..”kata Teh Maryam memecahkan keheningan di antara mereka bertiga yang sedang asik dengan perhatian masing-masing, ”Teteh mau membuat perkiraan tinggi tugu ini.”

Teh Maryam mempraktekkan pengetahuan pramukanya dalam menentukan ketinggian Tugu Kujang Pusaka

“Fadli tolong ukur 10 meter atau 20 kali stik ini,” Teh Maryam menyerahkan stik 50 cm yang sudah dipersiap untuk mengukur obyek pengamatan sewaktu-waktu dibutuhkan. Danang berdiri dengan tongkat ini, lalu maju 1m dari tongkat ini. Fadli tiarap ya..”

“Teteh, aku malu dilihat banyak orang. Masak tiarap disini memang nggak ada yang bisa ditanyai. Atau teteh tanya aja ke Google.” Fadli bersungut-sungut.

Teh Maryam menarik nafas panjang , ”Fadli memang begini cara yang harus Teteh lakukan. Nggak mungkin juga Teteh naikin tugu. Kalau pake internet nggak diperbolehkan semua harus langsung dari lapangan.” Teh Maryam terus membujuk Fadli. Tiba-tiba seseorang menghampiri mereka bertiga .

“Assalamualaikum, maaf katingalina adik-adik ini mau mengukur tinggi Monumen Kijang Pusaka …?” Seseorang dengan pakaian adat Sunda, celana hitam serba gombrang, celana berada diantara lutut hingga mata kaki lengkap dengan tutup kepala adat Sunda.

Wajahnya putih bercahaya, nampak masih muda mungkin usianya baru kepala tiga. Yang membuat mereka kaget karena wajah itu mirip Harris J, tapi dalam usia tigapuluhan. Penyanyi Inggris yang sedang naik daun dan menjadi artis muslim kebanggaan mereka bertiga.

“Walaikumsalam. Benar Pak, banyak informasi yang ingin saya dapat untuk tugas konsevasi lingkungan hidup yang terkait budaya di sini, tapi saya tidak kenal pemandu wisata disini,” Teh Maryam menjawab tersipu.

“Apa bapak bisa mempertemukan kami dengan Kuncen Kampung Naga ?” Fadli ingat pesan Bibi Nury bahwa informasi apapun yang kita inginkan bisa ditanyakan ke Kuncen .

“Saya sendiri yang bertugas menjadi badal Kuncen hari ini. Pak Kuncen sedang ada urusan keluar. Kebetulan tidak ada tamu turis asing. Jadi saya punya cukup waktu untuk menjawab pertanyaan adik-adik.”

Teh Maryam tersenyum lebar, senang sekali dengan kemudahan yang Tuhan izinkan untuk mereka.

“Sambil menjawab pertanyaan adik-adik kita bisa menuruni tangga supaya kita bisa melihat langsung kampung ini selain informasi dari saya.”

“Sa teu acana terimakasih banyak,Pak. Bapak sudah mempermudah urusan saya hanya Allah yang dapat membalas kebaikan Bapak.” Teh Maryam membuka daftar pertanyaan yang telah dipersiapkannya semalam.

“Sudah tugas saya membantu mereka yang ingin tahu banyak tentang Kampung Naga ini. Saya harap kebijakan yang dipesankan Kampung Naga ini bisa menginspirasi orang-orang di luar sana untuk menyadari bahwa segala yang disediakan alam lebih dari cukup memenuhi kebutuhan manusia!”

***

“Bapak bisa menceritakan pada kami tentang Monumen Kijang Pusaka ini?” Teh Maryam membuka pertanyaan.

“Tugu Kujang PusakaKampung Naga diresmikan langsung oleh bapak Gubernur Ahmad Heryawan di tanggal 16 April 2009. Menjadi lambang kuatnya budaya Sunda di Jawa Barat. Senjata inilah yang menjadi andalan leluhur kita dalam menpertahankan diri dari penjajah. Ketinggiannya sekitar 3 meter, logam kujang ini hasil peleburan 900 kujang milik raja-raja di tataran Sunda. Membuatnya dilakukan 40 empu dalam waktu 40 hari.”

“Saya pernah baca bahwa dulu kujang itu di isi kekuatan lain?” Danang bertanya penasaran.

“Ya sangat mungkin, karena tanpa ditambah kekuatan ghaib dalam izin Allah, kita sangat sulit menghadapi senjata lengkap dan lebih modern para penjajah. Menurut saya itu bagian kasih sayang Tuhan untuk memberikan perlindungan pada hambaNya”.

“Tapi ada yang mengatakan itu bagian dari sihir dan syirik….” Fadli mengungkapkan rasa penasarannya.

“Syirik itu bila kita meyakini bahwa itu sebagai kekuatan yang berdiri sendiri. Semua itu masih dalam izin Allah SWT untuk menjadi wasilah pertolongan pada manusia. Bukankah khazanah pengetahuan itu juga yang menjadi wasilah perlindungan. Banyak pejuang kemerdekaan yang mengusir penjajah dibantu kekuatan ghaib. Pernah dengar kisah Si Pitung, seorang jawara Betawi yang menolak penjajah zaman dulu? Semua yang ada tidak pernah lepas dari kekuatan yang tak terlihat oleh mata. Selagi kita meyakini itu bagian dari kerajaan Allah yang menjadi penguasaan tertinggi, jangan terlalu mudah mencap seseorang melakukan perbuatan syirik.” Kuncen Muda menerangkan dengan penuh kesabaran pada anak-anak yang dipenuhi rasa ingin tahu itu .‘’Yang tidak boleh itu menyembahnya dan menyandarkan diri pada kekuatan yang Allah izinkan pada makhluk .” Kuncen Muda melanjutkan.

“Fadli, Danang, kalian harus Teteh panggilkan guru khusus tauhid nih. Kalau kalian nanyanya dalam-dalam ntar Teteh nggak dapat data laporan.”

Mereka melanjutkan perjalanan menuruni tangga Naga yang melegenda itu .

“Coba kalian hitung anak tangga ini pasti hasilnya berbeda-beda. Yang benar hitungnya akan saya beri hadiah.”

Seseorang yang mereka anggap Kuncen Muda menawarkan game yang cukup menantang.

‘Fadli dan Danang sibuk menghitung anak tangga. Kesempatan aku dapat banyak data sekarang.’ Teh Maryam membatin.

“Lihat itu Neng dari anak tangga sebelah sini Neng dapat melihat kampung ini ditata dengan apik.” Kuncen Muda menunjukan posisi pemotretan yang menghasilkan gambar terbaik. “Turis dari luar negeri senang menggambil gambar dari posisi ini.”

“Subhanallah…pemandangan seperti ini pernah saya lihat sekali-kalinya dulu di Bali. Terasering sawah menghijau dan sebagian menguning. Kami sekelurga pernah tamasya kesana saat umur saya baru enam tahun. Kalau Bali dikatakan Pulau Dewata saya pikir layak kampung ini disebut Syurga Priangan.”

“Neng ini ada-ada saja syurga mah tidak bisa dibayangkan atuh Neng, saking bagusnya!”

“Bukan begitu Pak, maksud saya … warga disini begitu ikhlas berada dalam kebersamaan. Rumah mereka yang serba sama mengingatkan saya pada nasihat agama untuk menghindari berlomba dalam kemewahan dan kemegahan.‘Bermegah-megahan telah melalaikan kamu sampai kamu masuk di dalam kubur. Sekali-kali tidak! Kelak kamu akan mengetahui akibat perbuatanmu itu.

Kemudian sekali-kali tidak kamu akan mengetahui. Sekali-kali tidak sekiranya kamu mengetahui dengan pasti niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka jahim. Kemudian kamu akan melihat dengan mata kepalamu sendiri. Kemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan yang megah di dunia ini.’

Teh Maryam berkaca-kaca iya berusaha sekuat mata tenaga menahan air mata itu agar tidak menganak sungai. Ingatannya menerawang jauh ke teman –teman yang sering berganti kendaraan dari yang murah hingga termewah atau ponsel dari yang terawal hingga harga termahal. Dulu pernah ia merasakan keresahan hati saat belum mengikuti pengajian kampus.

Berlomba untuk paling wah telah mencabik cabik hatinya dari ketenangan. Ia kini telah merasakan bahagia kesederhanaan dan keluar dari lintasan perlombaan itu.

Apabila mereka yang rela tinggal di kampung ini…. Mereka pasti bukan insan biasa. Syurga di hati Teh Maryam juga dimiliki warga Kampung Naga ini.


KELUHURAN BUDAYA NAGA

Mereka sampai di akhir tangga terbawah. Danang dan Fadli menyebutkan angka hampir bersamaan.

“495 anak tangga Pak…”Fadli menyebutnya duluan, disusul Danang ,”489 Pak.”

“Belum tepat. Hadiah tidak saya kasih ke kalian. Tapi masih ada kesempatan nanti kalian hitung lagi dari bawah ke atas. Siapa yang tepat masih bisa dapat hadiahnya.”

“Oke siap sekarang juga mau. Penasaran sama hadiahnya. Sekarang saja yuk…!!!” teriak Danang

“Eh…teu kaci nanti kalian kelelahan sabar kalau rizki tidak kemana, tergesa-gesa itu sifat setan.” Kuncen Muda menasihati mereka dengan bijak .

***

Kuncen Muda itu mengajak mereka bertiga beristirahat disebuah rumah adat yang bisa dikatakan rumah dinas Kuncen karena khusus diperuntukan dari satu Kuncen ke Kuncen berikutnya.

Rumah panggung didirikan di atas bongkah-bongkah batu yang jumlah nya bervariasi tergantung ukuran rumahnya. Ukuran rumah tergantung jumlah anggota keluarga yang menghuninya Untuk ukuran rumah yang rata-rata 7X8 meter cukup di bangun di atas 25 umpak batu. Seperti rumah yang lain rumah ini berbentuk segitiga berlantai papan berketinggian 40-60 cm dari tanah .

“Menurut saya, hanya orang-orang yang menjauhkan diri dari cinta dunia yang sanggup hidup dari kesetaraan seperti ini. Konstruksi rumah semua hampir sama, menghadap ke arah yang sama. Kalau boleh saya tahu kira-kira kebijakkan apa yang tersimpan dari setiap detail ini? “ Teh Maryam membuka pertanyaan seriusnya.

Kuncen Muda tidak langsung menjawab pertanyaan Teh Maryam. Ia mengangambilkan air dari bagian dapur. Cangkir dari batok kelapa yang dihaluskan dan kendi berisi air putih disediakan sendiri oleh Kuncen Muda.

Dalam hati Teh Maryam ingin bertanya kemana keluarganya. Namun rasa penasaran itu diurungkannya demi menghargai hal-hal pribadi Kuncen Muda.

“Kolong di antara batu umpak berfungsi memperlancar sirkulasi udara dan menjaga kelembaban. Bila langsung bersentuhan dengan tanah tentu bangunan cepat rusak oleh air dan serangan binatang. Sejak dulu, rumah panggung Naga tidak pernah tergoncang gempa bumi hingga gempa dahsyat tahun 2006 pun tak berpengaruh terhadap rumah adat.

Teh Maryam mengangguk angguk . ” Ya… saya ingat pelajaran geografi dulu di SMA, guru saya pernah menerangkan bahwa rumah panggung paling aman terhadap gempa.”

“Kekhasan yang lain, dinding rumah dari anyaman bambu yang tidak boleh dicat tapi hanya boleh dikapur. Dalam hal ini kapur lebih aman daripada cat yang biasa di gunakan orang. Kapur dari batu kapur juga bahan alami bukan?”

“Kalau bangunan yang di buat sehadap ini apa tujuannya, Pak?”

“Bangunan disini semua beratap ijuk dan menghadap ke arah kiblat sehingga sehadap pula dengan masjid. Itu sesuai dengan nasihat kanjeng Rosul bahwa di manapun kamu berada hadapkan wajahmu ke baitulloh”

“Tapi maksud hadis ini lebih pada kekhusyuan hati kita untuk selalu tersambung mengingat pusat segala sesuatu?”

“Itu tujuan batinnya, bukti lahirnya diwujudkan dengan arah konstruksi bangunan adat ini. Tujuan lain adalah untuk mengoptimalkan ventilasi cahaya”

“Wah… ternyata bangunan sederhana ini banyak penuh hikmah ya Pak ?

“ Betul sekali, Neng. Ventilasi udara cukup bagus sesuai dengan syarat rumah sehat. Atap juga terbuat dari injuk dapat menjaga keseimbangan suhu. Siang tidak terlalu panas dan malam tidak terlalu dingin. Banyak untuk diungkap kebijakan dari satu jenis kebudayaan di sini. Pembagian rumah secara vertikal terdiri dari tiga bagian juga mengandungi hikmah. Demikian juga secara horizontal”

“Maksud Bapak semua rumah memiliki pembagian vertikal dan horizontal yang sama?”

“Betul secara prinsip sama, ukurannya saja yang agak berbeda tergantung jumlah anggota keluarga. Sebentar saya ambilkan foto bagian rumah adat.”

“Saya juga pamit keluar sebentar Pak, mau ambil air wudhu di sebelah masjid.” Teh Maryam telah lama membiasakan diri menjaga wudhu tiap kali batal.

Kuncen Muda memasuki kamar untuk sementara. Teh Maryam keluar sejenak mengambil gambar masjid di sebelah kanan rumah Kuncen. Disempatkannya berwudhu dengan air yang sangat bening dan dingin di sebelah kanan masjid.

Tak berapa lama perbincangan mereka mulai kembali. Kuncen Muda memperlihatkan foto detail rumah adat Naga.

“Arah vertikal rumah adat dibagi tiga sebagaimana pembagian alam ini. Ada dunia bawah, tengah dan atas. Dunia bawah di wakili oleh pondasi yang terbuat dari umpak batu. Dunia tengah adalah alam semesta yang terpusat pada manusia sehingga bagian tengah ini yang dihuni manusia.”

Mereka melanjutkan perbincangan sementara Fadli dan Danang melihat lihat foto hasil bidikan Danang atau mungkin mereka main game di android yang mereka bawa di sudut rumah adat itu. Mereka sama sekali tidak tertarik dengan perbincangan Teh Maryam dan Kuncen Muda.

“Selain bangunan rumah adat ada bangunan apa lagi Pak?” Teteh Maryam melanjutkan wawancara dan sibuk mencatat hal-hal penting yang di butuhkannya maklum mereka tidak membawa alat perekam apa pun.

“Kalau Neng lihat di sebelah kamar rumah ini. Itu adalah bangunan yang sengaja dibuat paling bagus, nyaman, cukup luas dan bersih. Masjid ini di gunakan untuk jum’atan, solat lima waktu bahkan hajat sasih pun dimulai dari masjid.

“Subhanalloh air disini begitu tercurah yah Pak…berkah benar tempat ini. Juga bening airnya.Tadi saya ambil air wudhu di sana 
waktu bapak mengambil foto ini. Dingin banget. Kayaknya saya akan betah menjadi warga di sini.

“Masak sih…Neng bakal betah tanpa listrik? Bagaimana Neng mau menyelesaikan tugas yang banyak bergantung sama wifi, laptop dan listrik?”

“Maaf kalau boleh saya tau…..wawasan Bapak begitu luas. Bapak asli warga Naga?” Teh Maryam tidak ingin menjawab pertanyaan itu. Khawatir mereka terjebak perbincangan pribadi yang tidak berkaitan dengan obyek pengamatannya. Dan membuat hati menjadi rawan terfitnah cinta.

“Neng Maryam ini kritis benar ya? Saya jarang mendapat pertanyaan sulit begitu rupa.”

“Kalau Bapa keberatan menjawab pertanyaan saya, saya mohon maaf.” Teh Maryam merasa bersalah.

“Saya tidak keberatan teu kunanaon. Saya warga keturunan Naga asli tapi saya belajar di luar dan memang sebaiknya Kuncen maupun pemandu wisatamemiliki kelebihan dalam wawasan supaya bisa melakukan upacara adat sekaligus menghadapi turis yang selalu datang ke Kuncen untuk bertanya banyak hal. Jadi Kuncen harus bisa menjadi sumber informasi. ‘
Alhamdulillah Bapak Kuncenini baik hati benar. Dia tidak mencurigai pertanyaanku yang setengah menyelidik,’ Teh Maryam menunduk, penuh kesyukuran.

“Saya tadi melihat rumah di tempat yang paling atas. Itu bangunan apa, Pak? Agak berbeda dan dikelilingi pagar bambu bersilangan yang cukup tinggi. Juga terdapat pagar tanaman hidup seperti tanaman hanjuang”

“Bangunan itu namanya Bumi Ageung yang berfungsi sakral karena tempat menyimpan benda pusaka.”

“Kalau yang itu apa Pak?” Teh Maryam menunjuk bentukan bangunan selain rumah dengan bentuk agak berbeda.

“Kami menyebutnya leuit atau lumbung padi bangunan penyimpanan padi hasil panen sebagai sumbangan atau infak warga. Hasil kumpulan ini dapat digunakan bila ada acara khusus seperti kegiatan pamugaran masjid, penggantian suhunan Bumi Ageung dan kepentingan bersama lainnya.”

“Ada satu yang membuat kami sebagai masyarakat tradisional yang dianggap terbelakang bangga. Di Naga ini ada pembagian kawasan menjadi tiga bagian. Kawasan suci yang terdiri dari area yang tak boleh dijamah, diganggu dan diubah seperti Sungai Ciwulan, hutan larangan atau hutan keramat dan hutan lindung. Kawasan bersih yang meliputi rumah pemukiman warga, masjid bale patemon dan bumi ageung. Sedang yang sebagian yang lain di sebut kawasan kotor, terdiri dari rumah ternak atau kandang, MCK, kawasan perikanan dan tempat pelakeun untuk berkebun semacam pekarangan yang tidak begitu luas, tempat saung lisung untuk menumbuk padi. Kami memisahkan dua kawasan ini supaya kesucian dalam ibadah tetap terjaga,”

Informasi panjang lebar Kuncen Muda cukup memberikan informasi berharga untuk tugas mata kuliah konservasi lingkungan hidup Teh Maryam.

***

Suara bedug tanda sholat Dzuhur menghentikan perbincangan mereka. Mereka semua pergi ke masjid. Fadli dan Danang tidak terlalu sulit disuruh, karena Teh Maryam tidak sekedar menyuruh tetapi juga memberi contoh.

‘Betul juga kata Kuncen Muda itu, masjid ini bangunan terindah di Kampung Naga.’ Maryam membatin. ’Sebenarnya belum pantas dia di sebut Bapak. Wajahnya masih muda dan nampak bersih bercahaya ada pesona di sana. Perawakannya yang tinggi besar dan wajah yang mengingatkan Teh Maryam pada Harris J, penyanyi religi kebanggannya. Keteguhan iman Teh Maryam untuk selalu menjaga hati dari jatuh cinta dan dari kisah-kisah yang mengiringinya sedikit tergoyahkan hari ini.

Belum lagi perhatian, pelayanan yang teramat baik, juga keselarasan pahaman Kuncen Muda dengan apa yang selama ini dia pelajari dan dia yakini.

‘Astagfirulloh…Maryam, sudah berhentilah dari pikiran yang macam-macam. Bapak itu pasti sudah ada yang punya meskipun di rumahnya tidak ada tanda-tanda dia telah berkeluarga belum tentu ia masih sendiri….,’ batin Maryam.

Diputuskannya kembali mengambil air wudhu untuk menggugurkan percakapan batin yang mulai menceracau.
Solat Zuhur hari ini menjadi solat yang istimewa. Mungkin karena hati Teh Maryam sedang berbunga-bunga oleh kebaikan seseorang yang akhlaknya memesona. Atau oleh kebersihan masjid, kesejukan yang ditimbulkan oleh keberkahan tempat beribadah. Mungkin keduanya ditambah lagi konstuksi masjid yang selalu memungkinkan banyak udara masuk.

Bangunan artistik berukuran 10x10 meter berikut tempat wudhunya. Bahan bangunan dari batu umpak, kayu anyaman bambu dan atap injuk sama seperti bangunan lain. Dari luar berwarna putih tapi bagian dalam didominasi warna coklat muda, kecuali dinding anyaman bambu yang semuanya serba putih. Ventilasi yang ada di samping kanan, kiri dan belakang bangunan menambah suasana segar dan tenang.

Selesai solat mereka bertiga menuju rumah Kuncen Muda untuk mengambil tas dan barang bawaan yang mereka titipkan disana.

Belum juga mereka mengucapkan salam, Kuncen Muda itu telah berlebih dulu membukakan pintu. Di ruang tamu itu sudah tersedia berbagai hidangan untuk makan siang.

‘Tuh kan Maryam, istrinya sudah menyediakan semua makanan ini jangan GR kamu ya?’ Batin Teh Maryam kembali menggelitik.

“Masyaallah Pak, kami jadi merasa merepotkan sekali. Sudahlah kami menyita waktu Bapak.......,” suara Teh Maryam tercekat

“Bukannya Bapak dari tadi di mesjid dan pulang bersama kami, bagaimana Bapak bisa menyediakan semuanya begitu cepat?” Danang tak mampu membendung rasa penasarannya.

“Sedangkan saya tidak melihat siapa-siapa di rumah ini?” Fadli yang memang punya rasa ingin tahu cukup besar itu bertanya penuh keheranan.

“Maafkan adik-adik saya ini, Pak. Kadang mereka menanyakan segala hal yang mereka anggap aneh.”

“Tak apa Neng Maryam, saya maklum. Tapi tenang saja. Semua ini warga tetangga saya yang menyiapkan. Saya yang memesannya.”

Fadli dan Danang bengong. Mereka melirik ke arah Teh Maryam. Teh Maryam menjadi salah tingkah dengan pandangan aneh mereka berdua seolah mereka hendak berkata, ‘ini gara-gara pesona Teh Maryam.’

“Sudah jangan bengong ayo makan dulu. Insyaalloh aman dan halal.”

Akhirnya mereka duduk melingkar mengelilingi hamparan hidangan di atas piring-piring anyaman bambu dengan berbagai ukuran dengan beralas daun pisang di atas piring anyaman bambu itu.Ayam kampung bakar, goreng ikan asin ipis, sayur lodeh terong, lalap surawung leunca, dan lengkap dengan sambel atah khas Naga. Tidak lupa juga goreng ikan mujair yang diguyur irisan cabe rawit campur kecap. Hidangan termewah selama mereka liburan. Sungguh makan siang yang nikmat. Apalagi mereka lelah dan lapar setelah berjalan mengelilingi Kampung Naga.

Perbincangan tentang Naga antara Teh Maryam dan Kuncen Muda itu berlanjut.

“Di masing-masing daerah di tataran Sunda selalu ada larangan yang diistilahkan dengan pamali . Apakah di Kampung Naga ada pamali yang disepakati untuk dihindari bersama ?

Kuncen muda berpikir sejenak sambil menghirup teh manis yang juga disediakan untuk para tamunya hari ini .

“Untuk masalah larangan dan perintah, kami sama dengan umat Islam yang menjadikan Alqur’an dan Sunnah sebagai pedoman. Kami tidak boleh membuang air menghadap kiblat bahkan menyelonjorkan kaki kearah kiblat juga dilarang. Ada lima pokok larangan berzina atau ngawadon, ngadu atau berjudi, ngamadat atau mabok-mabokan, ngawadul atau berbohong, janglir janji atau ingkar janji, suudzon atau buruk sangka, iri, dengki, dzolim dan dianiaya. Perasaan-perasaan hati yang baik seperti nyaahan, deudeuhan, welasan, asihan, nulung kanu butuh, nganter kanu sieun, ngahudangkeun kanu labuh, nalang kanu susah, nyaangan kanu poekeun, ngahudangkeun kanu titeuleum.

Ada tiga falsafah agama yang dipegang disini yaitu parentah gancang lakonan,panyaur gancang temoan, pamundut gancang eusian.

“Apa artinya itu Pak,” ucap Danang yang asli kelahiran Jakarta tetapi ikut neneknya setengah tahun ini. Jadi belum begitu paham bahasa Sunda.

“Maksudnya perintah segera jalankan, panggilan segera temui, seruan infak dan sumbangan segera diserahkan. Semua itu mengandung unsur ketaatan.

“Maaf Pak, yang saya maksud pamali ini kepercayaan untuk tidak melakukan sesuatu. Dan bila dilanggar akan mendatangkan celaka.“ Teh Maryam belum merasa pertanyaannya terjawab.

Nampaknya Kuncen Muda itu enggan menceritakannya. Namun beberapa saat kemudian dia berucap, ”Baiklah saya jelaskan saya harap Neng dan adik-adik ini bisa menarik esensi dan penjelasan saya tentang pamali di Naga.

“Pamali disini terkait pesan moral dibalik pamali itu bukan pada benar tidaknya ancaman yang dilontarkan. Hal yang diyakini disini, ada pantangan yang kami percaya, pertama hutan larangan di seberang Sungai Ciwulan. Tidak boleh memasuki hutan larangan tanpa alasan yang dibenarkan. Siapa yang yang melanggar takkan dapat kembali lagi. Yang kedua hutan lindung yang ada di atas Kampung Naga ini. Yang ketiga Bumi Ageung tempat menyimpan benda pusaka. Dilarang mendekati rumah itu kecuali Kuncen dan penjaganya yaitu wanita yang telah menopouse. Yang keempat Sungai Ciwulan, tidak diperkenankan sembarangan turun memasuki Sungai Ciwulan karena ada palung curam yang bisa menenggelamkan mereka yang memasukinya, cukup Neng informasinya?”
Nampaknya penjelasan tentang pamali ini menutup pembincangan mereka berempat.

Dengan sepenuh rasa terima kasih mereka bertiga berpamitan. Pertemuan yang singkat itu sangat berkesan mereka berpamitan dilepaskan dengan senyuman penuh makna dari Kuncen Muda. Dua bingkisan buat Danang dan Fadli pun dibekalkan pada mereka berdua meskipun mereka gagal menghitung anak tangga yang sebenarnya berjumlah 493 buah.

Sesampai di terminal atas Naga mereka membuka bingkisan dengan penasaran.

“Yah tas perempuan, ini mah ngasih hadiahnya ke Teh Maryam. Bener-bener ini mah ada apa-apanya.” Fadli cengar cengir menggoda Teteh Maryam.

“Dan ini sandal perempuan…..yah ini buat Teh Maryam juga. Aku nggak mau makainya.” Danang ikut melirik Teh Maryam dengan pandangan mata aneh.

“Kalian menggoda Teteh mulu apa-apaan sih. Kalau kalian nggak mau makai kenapa harus Teteh yang makainya. Bisa saja untuk Ibu atau Nenek Danang, kan?.” Teh Maryam mencubit lengan Fadli gemas.

“Hey lihat ini ada tulisannya,” Fadli mengambil dan membaca tulisan itu agak keras, “Terimakasih banyak atas kunjungan kalian. Kalian masih muda, perjalanan kalian masih panjang. Ikuti jejak teteh kalian. Jarang anak muda yang memiliki kejernihan hati seperti Teh Maryam. Keindahan budinya membuatnya cantik luar-dalam.”

Tak dapat dipungkiri ada Syurga dari Kampung Naga yang singgah di hati Teh Maryam. Meski sekuat tenaga dzikir hatinya meminta ampunan bila rasa itu menjauhkan dirinya dari Sang Pencipta, keindahan itu kini ada di dalam dirinya.

BERSAMBUNG




sumber : TITIN HARTI HASTUTI
qwe