/ default

Data Karya Guru
Gerakan Literasi Sekolah


Rahasia Ulfa
| 81 views


Setiap pulang sekolah dia selalu terburu-buru. Entah apa yang akan dia kerjakan. Sudah hampir seminggu ini dia menjauhi kami. Risti, Nadia, Ulfah, dan aku adalah empat sahabat. Suka duka sudah kami lewati bersama. Kami adalah teman satu kelas, jadi di sekolah merupakan saat-saat yang selalu menyenangkan. Belajar bersama, berolah raga bersama, pergi ke kantin bersama, apapun kami lakukan bersama-sama. Kami juga mengikuti kegiatan sekolah yang lain, yaitu ekstrakurikuler pramuka. Pramuka adalah kegiatan yang selalu kami tunggu. Pada saat itu, kami bisa meluapkan kegembiraan bersama teman-teman yang lain. Ayah dan ibuku selalu mendukung apapun kegiatanku. Asal itu adalah kegiatan positif dan melatihku untuk hidup mandiri.

Aku, Syila anak ayah dan ibuku, yang amat sangat menyayangiku. Ayah dan ibuku seorang pegawai negeri. Sebenarnya aku juga anak yang cukup membanggakan loh. Buktinya aku selalu masuk peringkat lima besar. Lumayan pintar kan. Aku mempunyai satu adik yang bernama Amanda. Aku selalu mengingat pesan ibu. “Syila, jaga selalu adikmu ketika ayah dan ibu bekerja”. Aku sangat menyayangi adikku. Dia berusia 3 tahun lebih muda dari aku. Kami selalu berangkat ke sekolah bersama. Namun ketika pulang sekolah adikku pulang terlebih dahulu. Dia mandiri, karena mencontoh kakaknya, aku.

Risti, ayah nya seorang guru dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Dia sedikit manja karena apapun selalu disiapkan oleh ibunya. Mulai dari baju seragam, sarapan, bekal, hingga alat tulis ibunya yang menyiapkan. Diantara kami, dia ingin selalu paling diperhatikan. Maklum dia adalah anak bungsu. Kakaknya sudah menikah. Jadi dia dimanja oleh ayah ibunya dan kakaknya juga.

Nadia, ayah dan ibunya petani. Dia anak satu-satunya. Namun itu tidak menjadikannya anak yang manja. Bahkan dia selalu membantu ibunya ketika waktu senggang. Dia anak yang mandiri, pintar dan baik. Karena dia yang paling pintar diantara kami, kami selalu mengerjakan PR bersama-sama di rumahnya. Rumahnya sederhana, nyaman, dan banyak pepohonan. Maklumlah rumah seorang petani, pasti ditanami beraneka macam tanaman. Kalau kami ke rumahnya, pasti disuguhi hasil kebun. Ada pisang, jambu, alpukat, salak, dan banyak lagi. Apa saja disuguhkan kepada kami. Bahkan kami dibekali untuk orang rumah. Ayah dan ibuku sangat senang mendapat kiriman dari keluarga Nadia.

Ulfah, anak orang kaya. Ayahnya pemilik perusahaan konveksi. Ibunya membuka catering dan warung nasi. Kata ibuku, bu Ratna, ibunya Ulfah sangat rajin dan tekun dalam bekerja. Ibuku menyaksikan perjuangan bu Ratna mulai dari nol. Bu ratna menjajakan makanan ke tiap rumah, kantor, bahkan sekolah. Setiap pagi bu Ratna membawa dagangannya begitu banyak. Dia dibantu oleh Ridwan, kakak Ulfah. Waktu itu dia baru tamat SMP. Dia tekun membantu bu  Ratna berjualan. Hingga akhirnya makanan bu Ratna dikenal orang. Dia menyewa tanah untuk kemudian dibangun sebuah warung nasi. Perlahan dia juga membuka catering. Banyak kantor-kantor yang berlangganan kepada bu Ratna. Baik untuk kebutuhan pibadi atau untuk pelaksanaan rapat. Setelah Ulfah lahir, usaha warung nasi dan catering nya dipegang oleh kakaknya. Bu Ratna hanya mengawasi dan memberi petunjuk kepada pekerjanya.

Ulfah sebenarnya anak yang baik dan pintar, namun ia agak tertutup dan pendiam. Jika di kelas, dia berbicara jika hanya ada yang bertanya. Dia tidak pernah memulai obrolan. Ketika kami berkumpul barulah dia mengeluarkan suara, itupun lagi-lagi kalau ada yang nanya. Ulfah selalu mengajari kami hidup hemat. Dia selalu mengingatkan kami jasa orang tua yang telah ,membesarkan kami. Dia mengajari kami berbagi kepada sesama. Sungguh temanku yang satu ini amat sangat bijaksana. Ulfah gemar sekali membaca, menulis puisi, cerpen dan komik. Tetapi dia  tidak mau memperlihatkannya kepada kami. Kami tau padahal hasil karyanya itu sangat bagus. Ketika pelajaran Bahasa Indonesia dia selalu diminta untuk membacakan puisi karyanya. Dan itu sangat indah. Bu guru juga terlihat kagum kepadanya.

Berawal dari hari selasa minggu yang lalu. Ulfah terlihat terburu-buru. Dia berpamitan kepada kami untuk pulang lebih dahulu. Ya kami membiarkannya pulang. Padahal kami selalu pulang bersama-sama karena rumah kita searah. Selasa, Rabu, Kamis,di sekolah seakan sepi. Ulfah terlihat sibuk. Pada jam istirahat di bergegas pergi ke perpustakaan. Tentu saja kami tidak ingin mengganggunya. Jadi kami membiarkannya dengan dunianya sendiri sementara ini. Jumat, sabtu bahkan kami tidak saling menyapa. Di kelas dia sepertinya sibuk, bukan sibuk mengerjakan tugas sekolah, dia sibuk dengan dirinya sendiri. Bel istirahat berbunyi, seperti biasa dia segera menghindar dari kami. Namun ketika pulang sekolah, kami berhasil menginterogasinya. Tapi apa yang didapat dia hanya bilang “tunggu saja, aku akan kasih kejutan buat sahabat-sahabatku”. Itu saja yang dia katakan sambil tersenyum.  Kami tidak bisa menanyainya lebih jauh. Karena dia sangat berubah dan lebih tertutup.

Setelah pulang sekolah dan berganti pakaian, kami berniat untuk bertanya kepada ibunya Ulfah. Kami semua berkunjung  ke rumah Ulfah. Namun apa yang didapat, dia  tidak ada di rumah. Ibunya pun heran kenapa Ulfah tidak bersama kami. Bu Ratna mulai merasa khawatir, sabahkan sampai  menyuruh kak Ridwan untuk mencari Ulfah. Tetapi selang beberapa jam Ulfah datang. Dia segera meminta maaf kepada ibunya karena dia datang terlambat. Dia segera berganti pakaian dan makan siang. Kami pun diajaknya makan siang bersama. Sejenak kami melupakan pertanyaan yang menyelimuti benak kami. Raut wajah Ulfah gembira namun terbersit sebuah rahasia.

Setelah makan siang, kami berbincang, bercanda, namun kami tidak menyinggung masalah Ulfah. Kami tidak  mau merusak suasana hati Ulfah yang sedang gembira. Kami hanya ikut gembira jika melihat teman kami gembira. Padahal kami semua mempunyai banyak pertanyaan yang ingin kami tanyakan kepadanya. Ahhh lupakan saja.

Hari senin, seperti biasa kami semua murid-murid SDN Harapan mengikuti upacara bendera dengan khidmat. Karena dengan ini kita dapat melatih kedisiplinan kita. Selain itu kita juga menghargai jasa para pahlawan yang telah gugur demi ingin mengibarkan sang saka merah putih. Upacara selesai, namun para siswa tidak segera dibubarkan. Bu Rahmi guru kami, maju ke depan kami semua. Sepertinya beliau akan memberikan sebuah pengumuman penting.

“di sekolah kita ada siswa yang berbakat. Dia pandai menulis puisi, komik dan cerpen. Dan ini, ibu mendapatkan surat dari sebuah Agency Majalah yang mengatakan bahwa cerpen karya teman kalian ini akan dimuat di majalah mereka untuk beberapa edisi. Sebelumnya teman  kalian ini sudah mengirimkan berbagai judul cerpan hasil karyanya ke Agency ini dan mereka tertarik. Maka silahkan maju ke depan kepada ananda Ulfah dari kelas VI-A.”

Sontak saja kami semua terkejut, terharu dan bangga. Kami memiliki teman yang berbakat seperti Ulfah. Ternyata itu yang dia lakukan selama seminggu terakhir. Dia tidak ingin kami ganggu agar berkonsetrasi menyelesaikan karya cerpennya. Kami memeluknya dan memberikan semangat kepadanya. Dan aku membisikkan sesuatu ke telinganya “ini kejutanya? Hebat!!”. Dia tersenyum bahagia dan bangga. 




sumber : Nunung Nurhayati, S.Pd